Pascalicious : pascal is delicious


Entah kenapa saya jadi pengen nulis cerita pas karantina di sini. Mungkin karna ada yang bilang “nulis cerita di blog itu bisa sebagai long-term memory kita” . Setuju juga sih, karena semakin hari ingatan yang ada di kepala semakin menumpuk dan mungkin akan menggeser ingatan-ingatan yang lebih awal. Jadi selama masih ingat, cerita/ingatan ini akan saya selamatkan.

1. Pendahuluan

Cerita ini bermula saat saya kelas XI (2 SMA). Saat itu saya mengikuti seleksi olimpiade sains bidang komputer di sekolah, setelah disaring lagi ternyata lolos bersama beberapa anak dari sma lain mewakili kota jogja untuk berlaga di tingkat provinsi. Dan untuk mempersiapkan hal tersebut dinas pendidikan provinsi menyediakan fasilitas berupa Karantina Pembinaan Olimpiade Sains yang berlangsung dari tanggal 26 Mei – 3 Juni 2009 bertempat di MAN III Yogyakarta (awalnya kecewa,yang bidang lain ada di hotel/vila,mosok aku neng MAN). Dan saya yang baru pertama kalinya ikutan pembinaan semacam ini dan ada kata-kata ‘karantina’ pertamanya agak khawatir nanti disana nggak ada temen, pada serius di depan laptop semua, dan kekhawatiran saya yang lain. Tapi yowes, digowo nyante wae (santai saja) kan juga deket rumah/sekolah. Hari H pun tiba, saya dianter bapak (karena belum tau tempatnya) ke lokasi. Sampai disana ternyata saya orang ke-2 yang hadir. Yang pertama hadir adalah Ebed (JB) yang kemudian sekamar dengan saya dan Nico (padz). Ternyata di MAN ada asramanya,lumayan sih, dan yang terpenting ada TV. Beberapa saat kemudian peserta lain berdatangan termasuk sesama SMA 1 (wacit, dinara, faisal). Setelah itu dimulailah pembinaan di ruang apaaku lupa namanya yang jelas luas, AC oke, lumayan nyaman buat tidur.

2. Pembinaan dan Main kertu

 Singkat cerita hari-hari pembinaan dimulai (udah lupa kronologis harian,  4 taun broo). Pas pembinaan biasanya saya duduk di baris ke-2 atau 3 (belum pernah di baris 1,minder,haha) dan ini yang sempat saya sesalkan (rodo lebay). Ini layout kursi (sebelah kiri) :

kursikiri

Dan sebagian besar waktu di kelas malah saya gunakan untuk main-main dengan anak-anak lain. Permainan simpel2 seperti ular tangga, monopoli, tebak-tebakan, dan semuanya buat sendiri (nggo kertas mbuh piye carane sing ngajari cah wates : Bagus & Dendy). Wajar, karena jujur saja saya RDB (ra dong blas, yo nek dong mung sitik) dengan materi yang disampaikan. Rekursif, pointer, dan lainnya entah mengapa dulu terasa sangat rumit, sulit dipahami. Jadi ya daripada ‘nganggur’ , dolan wae. Tak hanya di kelas, malam harinya pun kami masih bermain, bedanya ini main kartu (tapi nggak pake uang, tenang). Ada ndobos-ndobosan , atau UNO. Walaupun kadang ada petugas dari dinas yang tinggi serem (kemudian dipanggil genter) sidak dan pernah mengancam akan menyita kartu ini. Dan pengalaman dengan genter,ada cerita lucu yang saya masih ingat, saat kami asik main UNO, tiba-tiba dari atas ada suara langkah kaki turun (kamar cowok di lantai bawah). Sontak kami kaget kalang kabut, berlarian ke kamar masing-masing dengan membawa kartu (tapi ro ngguyu-ngguyu) dan saya sempat tabrakan dengan Dito (nek ra salah) yang menyebabkan kartu kami jatuh berantakan di karpet. Langsung kami sembunykan dibawah karpet. Sejak saat itulah kami meningkatkan kewaspadaan dengan bermain di tangga, ini penampakannya :

text3030

Bahkan pernah kami tetap main di bawah tapi membuat aturan, yang kalah jagain di lantai atas. Dan masih banyak lagi hukuman aneh2 seperti ‘yang kalah ambil kopi se-jumbo nya di ruang makan’.. Oh lupa, pembinaan ini juga ada kelas malam untuk praktikum bertempat di lab. komputer Man III. Inilah penampakan para peserta kelas malam :

kelas-malam

3. Olahraga

Saat di karantina saya tidak melupakan olahraga, agar badan sehat selalu, haha. Kebetulan hari pertama kami menemukan bola, plastik sih, tapi lumayan buat futsal pagi. Dan kebetulan didepan asrama ada lapangan basket, PAS (tinggal tambah batu buat gawang). Lumayan asik walaupun kadang kaki sobek-sobek (lebay) gegara lapangannya kasar. Suatu saat bola plastik itu tidak dapat dipake lagi (lali aku,ilang po jebol) dan kami memutuskan urunan buat beli bola plastik berlapis gabus tipis. Saya yang berangkat, ditemani dendy (nek ora dito) nyari dan dapet di dekat sana, jalan magelang. Dan begitulah,pagi harinya kami bisa futsalan lagi. Kegemaran futsal ini semakin hari semakin menjadi. Puncaknya di tanggal 2 Juni, kami berencana mboking futsal di Liquid. Setelah cukup lama berdiskusi dan yang mau ikut ada banyak, kami segera mengumpulkan uang dan beberapa orang booking ke Liquid. Ternyata yang available jam 12 malam-2 dini hari. Mantap. Jam 12 kurang kami ber-17 ditambah 3 orang cewek yang nonton+bawa minum keluar dari asrama. Saya ingat waktu mau ijin ke satpam agak takut, malah ada yang rencana mengendap-endap, tapi yang bernar saja. 20 ORANG woy, ntar dikira maling berjama’ah! Akhirnya kami beranikan diri keluar, bareng-bareng membujuk ke satpam dengan dalih “kami udah mbayar DP 50% pak, nanti rugi kalo nggak jadi, cuma deket kok, cuma 2jam kurang lebih seperti itu dan pak satpam dengan berat hati mengizinkan. Yes. Seru juga, pertama kali futsal di Liquid, dini hari pula, kalo yang nggak tau dikiranya aneh-aneh. Dan anak-anak dengan cueknya masuk liquid dengan tampilan seadanya, sandal jepit, celana pendek, bahkan ada yang sarungan koyo meh rondo , lucu tenan. Tengah malem futsal 2 jam 17orang cukup melelahkan juga.

futsal

Tak lupa kami foto-foto di depan liquid :


bar-futsal

4. Lainnya

Aktivitas kami setelah futsal pagi biasanya sarapan. Sarapan, Coffe Break,dan makan malam dilakukan di Ruang Makan (you don’t say). Dan ada saja hal-hal aneh seperti bagus yang nggodain mbak-mbak katering, trus ada yang ngambil krupuk sakgeleme, dan ada yang ditegur penjaga karna ke ruang makan sarungan (aku po yo, rodo lali). Wajar lah, habis sholat. Ngomong-ngomong tentang sholat saya jadi teringat teman saya yang suaranya pas teriak mantep banget. Tiap adzan shubuh/maghrib/isya’ pasti dia yang adzan. Tidak butuh yang namanya pengeras suara, suara adzannya dapat membangunkan anak-anak lain yang masih terlelap. Dialah Aji, siswa yang berasal dari Bantul ini ‘ketauan’ bakat suaranya pas pertama adzan, dia bersedia dan jeger, suaranya membahana. Mungkin gara-gara dia udah punya ruang resonansi sendiri di perutnya, haha (gojek). Dan untungnya, pas udah shubuh, pasti ada yang bangun (nggak mesti siapa,tapi pasti ada) trus gedor-gedor kamar lain mbangunin anak-anak. Tak terkecuali habis futsal dini hari itu, walaupun pada tidur jam 2-setengah 3 an, tapi pas shubuh banyak juga yang bangun walaupun balas dendam pas di kelas pembinaan (tidur di kelas). Ngomong soal tidur, ini ada beberapa yang kurang beruntung karena  kefoto pas tidur di kelas :

you know who
you know who
you know who
you know who

Mungkin ini yang tersisa di ingatan saya, segera saya selamatkan karena semakin lama semakin berkurang. Kalo ada yang baca dan kurang berkenan fotonya saya pasang segera hubungi saya. Hubungi wae sih,ra tak copot, hahaha. Sekian

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s