Pit-pitan #1


Berawal dari obrolan saya dan miftah di warung mie ayam sendowo, kami jadi merencanakan sebuah agenda ‘pit-pitan’ bareng. “Tapi meh nengndi mif?” | “Yo pokokmen le ono banyune ben seger”| “Wah o setuju aku nek ngono!” | Kurang lebih seperti itulah obrolan kami sembari menunggu sajian miayam spesial. Sejak saat itu kami mencari2 referensi lokasi yang sesuai dengan kriteria tadi (ono banyune). Beberapa hari berikutnya miftah dapat informasi dari mas zaman kalo di daerah Pajangan, Bantul ada sebuah lokasi wisata yang tergolong baru yaitu Curug Banyunibo (curug itu semacam mata air/grojogan). Kalau melihat foto-fotonya (hasil googling) sih lumayan keren pemandangannya. Dan kami setuju menetapkan tujuan pit-pitan #1 yaitu Curug Banyunibo. Kami pun konfirmasi ke pak bos (mas adit) dan dianya setuju2 saja. Serta kami mengajak mas zaman, yang pernah nggowes kesana, sebagai petunjuk jalan. Kami pun menyepakati waktunya yaitu hari Kamis, 9 Mei 2013 yang bertepatan dengan hari libur nasional. Hingga hari H-1 anggota kami bertambah 2 yaitu pesepeda senior asal gedongkuning , fardhani, dan mahasiswa asli Banyumas, iqro.

Hari H pun tiba, dan saat berangkat,seperti yang telah kami sepakati ada 2 meeting point. Pertama di SMAN 1 Teladan (karna saya berangkat sendiri dari rumah). Sekitar jam 06:40 kami (iqro, miftah, adit, dan saya) bertemu di meeting point 1. Persiapan mereka sudah cukup maksimal dengan helm, sarung tangan, dan pompa tangan. Ini buktinya:

meeting point 1 : cek tekanan angin, mangkat!
meeting point 1 : cek tekanan angin, mangkat!

Dari SMAN 1, kami menuju meeting point kedua di selatan perempatan Dongkelan, Bantul untuk menemui mas zaman dan fardhani. Dari sinilah perjalanan kami dimulai. Dari jalan bantul kami mengayuh sepeda ke selatan. Hingga di perempatan Masjid Agung Bantul, kami mengambil arah barat. Terus kebarat hingga mencapai pertigaan (kiri ke lapas pajangan), kami mengambil arah kanan. Kami masih mengayuh sepeda dengan ceria, belum mengetahui medan seperti apa yang akan dihadapi. Demikian juga saya, gear sepeda masih saya stel di posisi tinggi (abot). Dan tibatiba pas belokan ke kiri ada tanjakan yang menyapa kami. Tanjakan pertama cukup mengagetkan saya sampai-sampai nggak sempat memindah posisi gear ke posisi paling kecil untuk menanjak. Padahal tanjakan tersebut termasuk curam, dan sudut kemiringan yang cukup besar. Alhasil di tengah-tengah tanjakan saya turun dan ‘trimo nuntun’ daripada jebol sikile. Ternyata miftah,fardhani,dan adit pun juga sempat turun.

tanjakan mantap jaya

Selesai tanjakan pertama ternyata masih ada beberapa tanjakan lain yang tak kalah mantap. Namun belajar dari pengalaman (gear distel ke posisi kecil) saya pun berhasil melaluinya tanpa nuntun lagi. Tapi fardhani tampak kewalahan di tanjakan terakhir,dan menyerah dengan turun menuntun. Mungkin belum siap. Dan setelah membantai tanjakan-tanjakan tersbut kami sejenak beristirahat minum-minum (dan foto).

senyum kemenangan

Perjalanan masih cukup panjang, untuk itu kami mampir ke sebuah warung untuk mengisi amunisi (angin, makanan, dan minuman). Makanan disini murah meriah dan banyak pilihannya.

toko dakir – lengkap dan murah
macem-macem, cuma 500an!

Kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya mencapai jalan masuk ke desa lokasi curug banyunibo. Jalanannya cukup sempit dengan turunan yang tajam. Hingga akhirnya kami sampai dengan utuh&selamat. Alhamdulillah.

dari sini, jalan kaki 100meter an.

Dari lokasi parkir sepeda, kami berjalan -+ 100 meter untuk mencapai lokasi curug. Berikut foto-foto curug banyunibo (sayang sekali musimnya kemarau, air tidak terlalu deras) :

dari bawah #1
di atas curug #1
hidden cave
bukan siluman laba laba. banyak juga labalaba disiini
instalasi pipa air. tradisional! reliable enough
sumber grojogan dari kali diatas. ada kedung kecil yang biasa dipake warga setempat mencuci (pakaian/hasil kebun)

Puas bermain-main disini, sekitar jam 10:15 kami beranjak.Karena masih tergolong pagi dan stamina yang masih cukup banyak, kami ingin meneruskan perjalanan ke Pulosari. Pulosari juga semacam grojogan/jurang yang sebenarnya terletak tak jauh dari Banyunibo. Namun karena jiwa petualang tinggi (opoh) kami mencoba mencari jalan lain yang berbeda dari jalan kami datang. Awalnya cukup seru, jalan bertanah yang bergelombang. Tapi firasat kurang enak ketika kami ternyata salah jalan (untung ketemu warga setempat) :

untung saya bagian dokumentasi,di belakang. jadi kalo nyasar, mereka duluan..hehe

Kami mengikuti instruksi dari bapak tadi, yang ternyata bukan jalan lazim untuk sepeda. Kami pun harus menggotong sepeda masing-masing ke atas sekitar 20 meter di daerah sawah-sawah dan kebun-kebun.

nggotong sepeda. mantap jaya

Pas sampai di jalan yang layak dilewati sepeda, ternyata ada bapak-bapak,cukup sepuh, yang heran melihat kami keluar dari jalan itu. | “Lho mau medal pundi masi kok liwat mrika” | “Lewat sawah pak, nggotong mau”. Memang spesial. Jalan menuju pulosari ternyata cukup mulus dilalui dengan sepeda. Dan alhamdulillah, sekitar pukul 10:45 kami mencapai curug pulosari dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat indonesia ke depan pintu kemerdekaan indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Cukup seneng juga, kami sepertinya satu-satunya pengunjung hari itu yang bersepeda. Kalau yang lain parkir motor diatas,kami bisa dengan leluasa membawa sepeda kami kebawah dan menikmati pemandangan disini. Sempat melihat beberapa pengunjung perempuan yang ternyata juga mahasiswa UGM mungkin angkatan 2009-2010 (tau soalnya ada yang bawa KIK, haha).

“jasa rental sepeda keliling pulosari!”
perhatian om! jangan duduk di tulisan ini!
kedua teman saya sedang rembug tuwo. ngomongin apa gerangan. tanyakan pada air yang mengalir…
ketoke ajar momong #eh

Setelah -+ 20 menit disini, kami memutuskan untuk pulang, dan kembali mencari jalan lain (nggak naik ke jalan yang sama). Sempat melewati satu obyek wisata lagi yaitu kedung noyo. Dan karena saat berangkat tadi jalan yang kami lalui berupa tanjakan, maka saat pulang kami tinggal menikmati jalan pulang yang penuh turunan. Ya memang sesuai filosofi hidup, kita mesti berjuang dengan maksimal di awal untuk menikmati hasilnya di akhir (opoh).

‘terbang’

Sudah waktu sholat dzuhur, kami berhenti untuk isho di Masjid Agung Bantul.Cukup lama kami singgah disini, mungkin karena tempat nyaman,terbuka,angin sepoi sepoi. Perut keroncongan lah yang mengajak kami untuk segera beranjak mencari makan siang. Warung Miayam&Bakso Pak Jenggot pun kami pilih untuk istirahat makan siang. Mie ayam bakso nya enak dan cukup buat mengisi kekosongan perut ini.

duh telat sing moto. sori sori

Sekitar pukul 13:50 kami pulang menuju rumah/koskosan masing masing dan saya sampai dirumah sekitar pukul 14:40. Mungkin buat teman-teman saya cerita hari ini berakhir, tapi tidak bagi saya. Sampai rumah ternyata masih suwung, dan parahnya saya lupa bawa kunci. Sempat main ke rumah tetangga, tiduran di masjid deket rumah, tapi bosan juga. Seusai maghrib, saya yang bosan menunggu di teras rumah memutuskan bersepada (lagi) ke kampus. Mampir sholat isya’ di Mardliyyah. Namun seusai sholat saya dikabari kalau penghuni rumah sudah pulang. Nggak jadi ke kampus,saya pun pulang dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Sekian sih cerita pitpitan #1. Sampai jumpa di pitpitan #2 yang semoga ada dengan tujuan&anggota yang belum ada.

Advertisements

2 thoughts on “Pit-pitan #1

  1. Pingback: Pit-pitan #2 : Lanjut terus! | ferindra nugrahendi

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s