Pit-pitan #2 : Lanjut terus!


Karena ketagihan dengan bersepeda penuh tantangan, (baca https://fnugrahendi.wordpress.com/2013/05/17/pit-pitan-1/ ) saya dan teman-teman elins yang se-hobi pun mencari-cari referensi rute sepeda yang menantang dan memang berakhir di suatu tempat yang pantas untuk dituju. Pada mulanya kami sempat mempertimbangkan daerah Panggang, hingga pada akhirnya muncul referensi mengenai Puncak Mangunan di daerah Imogiri, Bantul. Tanjakan, Pemandangan, dan Hutan menjadi pertimbangan kami hingga pada akhirnya diputuskan tujuan pit-pitan#2 ke puncak kebun buah mangunan, imogiri. Pada hari yang telah disepakati ternyata salah satu personil, Fardhani tidak dapat ikut serta karena pada hari itu ada kumpul KKN dan sepedanya juga barusan jatuh dipake adiknya. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat kami, dan FIX kami berangkat berlima (Saya, Miftah, Mas Zaaman, Mas Adit, dan Iqro). Janjian awal kumpul jam 6 pagi di rumah budhenya Dhewa, namun untuk efisiensi waktu, saya berencana menghadang mereka (Adit, Iqro, Miftah) di titik Nol Kilometer Jogja. Dan ternyata estimasi waktu saya sempurna. Saya sampai di perempatan nol kilometer bersamaan dengan mereka bertiga. Dari sana kami menuju Terminal Giwangan untuk menemui Mas Zaman yang sudah menanti. Rutenya, Nol Kilometer ke timur – Kalimambu – XTSquare – Terminal Giwangan. Dan ternyata Mas Zaman sudah menunggu di sebrang perempatan. Dari sini, kami menuju Jalan Imogiri. Sesaat sebelum menuju jalan menanjak, kami mengisi perut di sebuah warung yang memang sudah jadi langganan para pesepeda rute ini. Warung Sederhana namanya. Warung ini sudah berdiri sejak 1958.

legend! jadi ketagihan ke sini kayaknya. suasananya juga nyaman

Banyak varian jajanan disini. Mulai dari tempe mendoan, jadah, belut, ketela, pisang, dan masih banyak lagi. Dan yang istimewa, seperti warung-warung kebanyakan di daerah imogiri, minumannya menggunakan gula batu. Favorit banget pokoke, teh manis panas gula batu.

Ngemil dulu, ngganjel perut. Tak lupa teh panas gula batu

Setelah cukup (bukan kenyang, tapi cukup) kami beranjak dan melanjutkan perjalanan dengan keyakinan penuh dapat menaklukan semua tanjakan. Kurang lebih 1Km jalan mulai menanjak. Beberapa tanjakan awal kami lalui dengan semangat penuh. Tapi semua berubah ketika tanjakan di dekat kebun gama herbal menyapa. Beberapa personil terpaksa turun dan menuntun sepeda, tapi ada yang bisa sih.

dari sini. awal dari tanjakan-tanjakan ‘mantap’

dan ternyata tanjakan tersebut merupakan awal dari tanjakan-tanjakan hebat lainnya yang konon kabarnya masih ada -+7 Km jalan yang penuh tanjakan (sedikit turunan). Kami pun istirahat tiap 500 m – 1km sekali pada awal-awal, entah itu karena capek atau sekedar pengen foto-foto.

leren sek pak.
tolong menolong sek
leren #2 haha

Baru di tengah jalan aja pemandangan sekitar Imogiri pun tampak dari sini. Awesome!. Sempat terpikir untuk leren dan kembali turun, merubah rute menuju jembatan gantung. Dan saya pun hampir menelan ludah sendiri. Namun dengan penuh semangat kami bilang “eman eman mas. wes tekan kene.” | “laki itu fearless (opooh)” | “nyerah?ah wes lali ono kata koyo ngono” | “Raono kata nyerah ning kamusku” | Padahal saat itu kondisi kaki sangat pegel-pegel. Tapi rasa pegel2 kaki masih kalah kuat dengan semangat kami. Walaupun 700meter setelah itu kami kembali istirahat karena capek (haha, ramutu tenan)

Tanjakan demi tanjakan kami lalui hingga kami menemui sebuah warung dan tanpa pikir panjang kami berhenti, mengisi perbekalan (minum) dan sekedar tanya sama pak penjual yang kata beliau “2 kilo malih mas, namung cedhak. tanjakane namung sekedhik kok mboten kados sing mau” . Keceriaan langsung tergambar di wajah kami.

toko suwarti. penjualnya ramah.

Walaupun perkiraan saya 2 km itu jarak asli dalam 2 dimensi (tanpa menghitung tanjakan). Namun memang benar, tanjakan dari sini tidak seganas sebelumnya (entah karena terbiasa atau memang begitu) dan yang paling penting, banyak turunan kami jumpai disini. TURUNAN!. seperti air di padang sahara (opoh)

kebun buah mangunan ke kiri!

Dan akhirnya petunjuk jalan bertuliskan “Lokasi kebun buah mangunan” seakan menjadi spirit-booster kami. Kurang lebih 1km kami sampai di kebun buah. HTM 5ribu rupiah dan mungkin kasihan melihat tampang kelelahan kami, pak penjaga hanya membebankan 4 tiket untuk 5 orang. Dari pintu masuk, ternyata kami mesti menempuh tanjakan-tanjakan lagi untuk menuju gardu pandang di puncak.

kebun buah
hati hati pakai persneleng kecil.

Dan akhirnya, PUNCAK! Alhamdulillah. Sejenak memandang sekitar, menikmati keindahan Bantul dan sekitarnya dari puncak. MasyaAllah. Rasanya keletihan menanjak tadi terbayarkan sudah. Saatnya memanjakan mata menikmati pemandangan. Jembatan gantung pun tampak sangat mungil dari sini. Beberapa burung elang (?) kadang beterbangan di dekat sini. Untung saja tadi kami nekat meneruskan perjalanan. Namun hal yang sangat kami sayangkan, banyak sekali coret-coretan di pohon maupun di tempat istirahat ini. Sedih.
Ini biarkan foto-foto dibawah ini yang menggambarkan lebih jauh.

foto sek pak. kenang-kenangan
imogiri, bantul dari puncak mangunan.
coretan anak labil yang tak bisa menghargai keindahan
nampang bersama sepeda kesayangan
jembatan gantung imogiri. cuilik.

Kalau disini jalan pun harus hati-hati karena beberapa jalan licin. Buktinya, adit saja sudah 2  kali jatuh terpeleset. Sampai berdarah (jarinya)

HATI-HATI! tanahnya licin, padahal miring ke arah pembatas tebing..
berdarah darah
berdarah darah
gotong gotongg ~
rusa timur

Puas beristirahat sekitar 2 jam, kami memutuskan turun karena juga sudah mendekati waktu sholat dzuhur. Masih di kebun buah, istirahat sejenak di dekat penangkaran rusa timur lalu sholat di mushola yang ada. Seusai sholat sempat terpikir untuk nyari pick-up buat pulang, cukup antar sampai Giwangan. Namun lagi-lagi kami merasa kurang puas kalau harus mengalah dengan medan. Lagian kan tadi udah nanjak, giliran pulang pasti tinggal turunan. Dan kami memutuskan untuk tetap mengayuh turun. Walaupun sempat beberapa kali nanjak curam, tapi sebagian besar jalan pulang memang turunan. Hanya bermain stang dan rem, di jalan yang masih asri, pepohonan di kiri-kanan. Terasa sangat segar walaupun sudah jam 1 siang. Sekitar 30menit kami sudah sampai di bawah. Sangat jauh jika dibandingkan waktu berangkat yang memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Perut keroncongan membuat kami bersepeda sembari mengamati kiri-kanan jalan untuk mampir makan siang, dan pilihan jatuh pada SOTO DAGING SAPI ASLI. Semangkuk soto sapi dan beberapa lauk tambahan kami lahap begitu saja. Lapar berat pak.

soto sapi + mendoan + sate telur

selesai makan kami pulang dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Pada akhirnya, saya memberi saran untuk anda yang akan mendaki mangunan untuk pertama kali (dengan sepeda) :

“Bersepeda ke puncak itu bagaikan anda menjalani hidup. Terserah anda! Anda dapat menyerah dan balik arah kapanpun dan dimanapun. Tapi memang, jika balasannya berupa  pemandangan dari puncak, tanjakan seperti itu memang pantas untuk didaki” (Ferindra, 2013).

Sampai jumpa lagi di pit-pitan#3 dengan destinasi dan pasukan yang belum ditentukan. Yang jelas setelah KKN.

Advertisements

4 thoughts on “Pit-pitan #2 : Lanjut terus!

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s