PITPITAN #4 : Borobudur, Wedang Ronde, dan Hujan


Halo bro! Kembali lagi dalam sekuel Pitpitan yang kali ini sudah memasuki episode ke-4. Kali ini kami mengangkat lagi wacana beberapa pekan sebelumnya yaitu : B2B, Bike2Borobudur! Setelah sekuel 1-3 yang semua tujuannya ke arah selatan, kami ingin mencoba hal baru yaitu ke utara dengan harapan tanjakan di awal akan lunas terbayarkan dengan turunan pada akhirnya. Walaupun tidak semua berjalan sesuai harapan. Dalam episode kali ini pesertanya ialah 3 anggota lama yaitu miftah, bos adit, dan saya sendiri, dengan tambahan 2 personil baru yaitu makin anak fixed-gear serta ale dengan sepeda barunya. Sedangkan pencetus ide, iqro, masih disibukkan dengan pembuatan kapal safinah-one yang akhirnya memperoleh juara 3!

Sabtu, 16 November 2013

Janjian di terminal njombor jam 05:30, saya berangkat dari rumah jam 5 kurang sekian dengan kalkulasi perkiraan waktu sedemikian sehingga agar paling tidak cuma telat 10 menit. Sekitar pukul 5:40-an saya pun tiba di meeting point yang ternyata saya datang paling awal. Sekitar 20menit kemudian datanglah Miftah, Makin, dan Ale. Dan baru 20-an menit lagi datanglah bos adit. Lengkap sudah. Sebelum berangkat tak lupa kami berdoa demi keselamatan dan kelancaran dalam perjalanan. Pukul 6:40 kami berangkat dari jombor.

makan mayol dulu biar bertenaga
makan mayol dulu biar bertenaga

Udara di jalan magelang masih sangat sejuk, dan menyejukkan. Kami melaju dengan santai, tidak terlalu cepat namun juga tidak bisa disebut pelan. Pas susunya! Sempat kami berpapassan dengan rombongan pesepedaa yang sepertinya sedang beradu cepat. Bos adit pun sempat berusaha mengejar, mungkin gara-gara seumuran dengan mereka. Haha

rombongan balapan
rombongan balapan

Selang beberapa menit kami tiba di penghujung wilayah propinsi D.I.Y dan memasuki wilayah propinsi Jawa Tengah.

selamat datang, Jawa Tengah!
selamat datang, Jawa Tengah!

Jam 8 kami berhenti sejenak untuk meregangkan kaki, serta minum-minum. Hingga tiba-tiba muncul sosok yang tidak misterius lagi, naik motor boncengan dengan ceweknya. Dewo! Ternyata dia barusan pulang dari dusun tempat KKN nya. Kalo komentar ale sih gini : “Ah, gue udah jauh jauh ke magelang, ketemunya elu juga wo!” . Dewo pun kembali memacu sepeda motornya, kembali ke Jogja. Sedangkan kami melanjutkan perjalanan yang belum ada setengahnya ini.

istirahat dan minum minum
istirahat dan minum minum
eh, ada dewo!
eh, ada dewo!

Perjalanan kami masih sangat panjang, dan terasa lama karena rute yang dilewati ialah jalan utama/ lintas kota magelang-muntilan. Hingga di tengah jalan miftah (dan saya) mengeluarkan gadget masing-masing, menyalakan GPS (Global Positioning System) mencoba mencari rute alternatif. Namun keterbatasan database dari GPS memaksa kami menggunakan GPS lain (Gunakan Penduduk Setempat) Kami berhenti pada suatu tikungan, bertanya pada bapak penjual rokok. Ternyata lewat tikungan tersebut juga bisa menuju borobudur. Tanpa pikir panjang kami mengikuti instruksi bapak tersebut. Walaupun hampir pada setiap tikungan kami berhenti untuk bertanya (lagi. dan lagi). Meskipun demikian, lewat jalan kecil lintas kampung memang selalu lebih berwarna. Ada kalanya kita melalui jalan paving dengan pemandangan sawah di kanan-kiri , juga sempat kita disoraki anak-anak SD “ayo, ayo!” “wah, apik, apik” sambil bertepuk tangan rame-rame ketika melalui SDN Sriwedar, Muntilan.

kiri kanan kulihat sawah!
kiri kanan kulihat sawah!
anak sd yang menyoraki kami, sangat meriah!
anak sd yang menyoraki kami, sangat meriah!

Hingga sekitar pukul 9:30 kami berhenti pada pitstop pertama yaitu Warung Nasi Liwet. Ternyata pada belum sarapan. Langsung saja bos adit dan makin mengambil nasi liwet beserta lauk dan sayurnya. Sedangkan saya yang sudah sarapan di rumah, ale, dan mifta yang belum mulai lapar lebih memilih minum dan ngemil gorengan serta pisang (pisang bermanfaat untuk cadangan energi, bro).

sarapan dulu
sarapan dulu

Hingga akhirnya, pukul 10:15 kami sampai di taman wisata candi borobudur. Hal pertama yang terpikirkan ialah foto. Kami menepikan sepeda, dan berjajar rapi di depan tulisan “taman wisata candi bodobudur” untuk berfoto. Setelah itu kami masuk kawasan taman wisata tersebut dan mencari tahu apakan sepeda diperbolehkan masuk ke kawasan candi borobudur. Ternyata tidak boleh. Kami pun mengurungkan niat masuk. Disamping sepeda tidak boleh masuk, tiket masuk yang cukup menguras kantong mahasiswa ini menjadi salahsatu penguat alasan. Kami pun akhirnya hanya beristirahat di warung terdekat sambil mencari informasi siapa tahu ada “jalur belakang”, hehe. Ternyata tidak ada jalur belakang, namun ada suatu lokasi di mana kita dapat menyaksikan candi borobudur. Kami segera mencari tahu lokasi persis candi tersebut. Tepat setelah sholat dzuhur kami menuju lokasi tersebut. Voila! Akhirnya ketemu. Memang sih candi nya jauh dan terlihat sangat kecil, namun tak apalah, setidaknya ada bukti kami pernah bersepeda ke borobudur. Langsung beberapa foto diabadikan dengan latar candi.

dekat pintu masuk taman wisata candi borobudur
dekat pintu masuk taman wisata candi borobudur
foto di depan candi!
foto di depan candi!
inilah, borobudur! (padahal jauh)
inilah, borobudur! (padahal jauh)
with our bikes
with our bikes

Setelah puas, kami kembali pulang. Kali ini rutenya berbeda, dengan ale sebagai penunjuk jalan menjanjikan rute lain dengan akhirnya melalui selokan mataram. Saya sih setuju aja karena dengan begitu bisa misah di tengah jalan, tidak perlu harus ke timur terlalu jauh. Namun ternyata tidak semulus perkiraan. Beberapa tanjakan dengan tiba-tiba menyapa kami. Persiapan belum matang memaksa kami menuntun sepeda pada beberapa tanjakan. Sempat kami berhenti pada penanda batas dusun yang mana terdapat label KKN PPM UGM 2013. Kami berfoto di depan batas tersebut dengan tujuan “ah, nanti pokoknya tak upload di grup bincang kkn 2013!” Dasar.

kkn ppm ugm 2013, subunit dusun trayem :p
kkn ppm ugm 2013, subunit dusun trayem :p

Sekitar jam 2 siang, hujan yang tadinya gerimis mulai lebat, dan kami memutuskan berteduh sekalian beristirahat di masjid terdekat. Saking lelahnya kami tertidur pulas di serambi masjid.

di serambi masjid
di serambi masjid
tertidur, pulas
tertidur, pulas

 

Sampai setelah sholat ashar, dan hujan reda, kami melanjutkan perjalanan pulang. Ternyata jalanan ini semakin terasa asing. Sehingga kami selalu tanya kepada warga mengenai arah ke Jogja. Dan tak lama kemudian, hujan turun. Semakin lama semakin deras, memaksa kami berhenti dan mengenakan jas hujan darurat (yang bahannya semacam kantong plastik). Itu menjadi pengalaman pertama saya bersepeda menggunakan jas hujan darurat. Dengan jas hujan itu, praktis hanya kepala hingga perut yang terlindungi. Celana basah kuyup.  Padahal hujan semakin deras,  jalanan semakin asing, dan warga semakin sedikit yang tersedia di luar rumah untuk ditanyai. Perut juga semakin lapar. Hingga akhirnya kami menemui penjual gorengan, dan wedang ronde. Kami singgah sejenak, mengisi perut dan menghangatkan badan. Donat, telo, tempe, pisang, dan tahu cukup buat menenangkan orkes keroncong yang sudah bermain lama di dalam perut. Saat istirahat itu hujan mulai reda dan kami pun lega. Tanya ke penjual gorengan dan mengetahui bahwa kami sudah semakin dekat dengan tujuan (jombor).

basah kuyup, kelaparan. dihangatkan dengan wedang ronde dan gorengan
basah kuyup, kelaparan. dihangatkan dengan wedang ronde dan gorengan

Namun setelah kami beranjak untuk melanjutkan perjalanan pulang, hujan kembali turun. Deras. Tanpa ragu kami menerobos hujan deras. Mau gimana lagi, udah jam 5 sore, semakin mendekati gelap. Dan semakin lama hujan semakin bersemangat mengguyur kami berlima. Kaki yang semakin lelah, badan yang semakin kedinginan, tidak mampu memperlambat laju sepeda kami. Karena kami (saya) termotivasi dengan gambaran rumah, lengkap dengan makanan dan kasur! Akhirnya kami tiba di dekat pasar sleman. Saya memisahkan diri untuk langsung ke selatan sementara teman-teman ke timur dan menuju jalan magelang. Dan ternyata bersepda sendirian dalam kondisi seperti ini (hujan deras, kaki mulai kelelahan) terasa amat berat. Namun saya tetap memaksakan kaki mengayuh sepeda secepat mungkin mengingat waktu sholat maghrib sudah tiba ketika saya sampai di kompleks pemerintah kabupaten sleman. Terus sepeda saya kayuh , melalui ringroad – jalan kabupaten. Ternyata sempat ada penutupan jalan yang sedang diperbaiki di jalan kabupaten. Untungnya saya naik sepeda, jadi tidak perlu memutar jauh, cukup mengangkat sepeda melalui kolam, dan melewati perbaikan jalan. Semakin dekat rumah, semakin cepat sepeda ini melaju. Hingga pada akhirnya, sekitar pukul 18:30 saya tiba di rumah dengan rasa pegal luar biasa di kaki.

Sembari menikmati semangkuk sop hangat dan segelas teh panas, cerita pitpitan #4 ini saya akhiri.

Terimakasih dan,

Sampai jumpa pada pitpitan #5 dengan unknown partners, unknown destination.

Be there!

“Hiduplah seperti orang bersepeda. Kita harus senantiasa bergerak jika tidak ingin terjatuh. Meskipun kadang perlu untuk diam, berhenti sejenak,guna mempersiapkan langkah selanjutnya”

Advertisements

2 thoughts on “PITPITAN #4 : Borobudur, Wedang Ronde, dan Hujan

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s