Pitpitan #5 : This is (not) the end!


“kalibiru wae ndro, mung 38 kilo, borobudur wingi 40 kilo pada kuat to?!”

Berawal dari ide Iqro tersebut, kami memutuskan untuk gowes ke kalibiru. Buat yang belum tahu, Kalibiru merupakan desa wisata di Kokap, Hargowilis, Kulon Progo. Kalibiru terletak di utara atas waduk sermo. Atas? Ya, kalibiru merupakan daerah dataran tinggi, banyak yang menyebutnya Puncak Kalibiru. Googling kesana kemari, kami menemukan pemandangan luarbiasa yang dapat dinikmati dari puncak kalibiru tersebut. Semakin bersemangat, kami segera mengajak teman-teman lain untuk bergabung. Hingga H-1 ada 9 orang yang konfirmasi untuk bergabung. Ada beberapa wajah lama seperti Miftah, Adit (tuo), Iqro, Makin, Rio obeng, dan saya sendiri, serta ada pendatang baru yaitu Adit si kenyot, Deni pesepeda ulung asal Kebumen, dan Kiki adik sepupu saya. Setelah meminta pendapat Fardani (anak KKN KulonProgo) kami memutuskan melalui rute jalan Godean – Nanggulan, katanya daripada lewat Jalan Wates, rute ini lebih dekat. Katanya! Janjian ketemu di indomaret jalan godean jam 6, namun karena berbagai alasan akhirnya berangkat dari indomaret jam 07.30, ngaret pol!.

meeting point #2 : indomaret jalan godean
meeting point #2 : indomaret jalan godean

Rutenya simpel sebenernya, jalan godean teruuus ke barat sampai ketemu perempatan nanggulan/kenteng, belok kiri. Dan Namun di tengah jalan, sebelum perempatan nanggulan, ada petunjuk arah bertuliskan “<- SERMO 1.2 km” (sermo belok kiri 1,2 kilometer). Di sanalah iman kami goyah. Kami bertanya ke warga di sekitar dan katanya

sermo 1.2 km!
sermo 1.2 km!

oh iya mas, kalo ke sermo belok kiri di situ tadi”.

Tanpa peduli dengan perempatan Nanggulan kami belok kiri sesuai petunjuk warga tersebut. Baru 1 km, saya melihat tulisan “Dusun Sermo” di gapura. Padahal itu masih daerah sleman. Duh firasatku ra enak. Benar saja, ternyata Sermo yang dimaksud warga dan petunjuk arah tadi ialah DUSUN Sermo, bukan Waduk Sermo. Keanehan pertama. Pertanda.

Kami pun berhenti di sebuah perempatan desa itu, dan bertanya ke warga arah waduk sermo. Dari beberapa warga yang ada,kami diarahkan ke 3 jalan berbeda. Ada yang menyuruh kembali ke jalan godean (utara) dan terus ke barat sampai ketemu nanggulan (seperti rute awal), ada yang terus ke barat, dan nanti tembusnya juga ke jalan godean, dan ada bapak-bapak yang agak unik menyarankan kami ke timur lewat jalan wates – Pengasih – Hargowilis . Setelah berembug, kami mengikuti saran untuk terus ke barat (walaupun ibu-ibu itu sudah memperingatkan mengenai medan yang naik-turun) Ketika mendekati nanggulan, hujan turun lumayan lebat. Kami memutuskan berteduh sejenak di tempat istirahat para petani. Tak lama kemudian, hujan reda, kami segera meneruskan perjalanan. Ternyata benar kata warga tadi, lewat rute ini, jalannya naik turun. Bukan tanjakan biasa, tanjakannya memang tidak curam sekali namun panjang dan bertubi-tubi. Iqro dan Deni yang tak kenal lelah melaju jauh mendahului. Disusul Bos adit yang masih menahan kecepatannya. Dibelakangnya ada Adit kenyot yang cepat di jalan rata namun menuntun di tanjakan. Disusul saya yang masih menjunjung tinggi idealisme dengan tidak turun menuntun sepeda, walaupun tidak secepat Iqro dan Deni. Kemudian rombongan belakang ada Rio obeng, Kiki, dan Makin yang menghemat energi dengan menuntun sepeda dan Mifah yang menemani dan sebagai camera-man. Beberapa saat kemudian saat semua berhenti untuk istirahat minum kami memutuskan kembali bertanya ke warga arah ke waduk sermo.

leren sik
leren sik
berteduh. hujan
berteduh. hujan
setelah 'dibantai' tanjakan panjang
setelah ‘dibantai’ tanjakan panjang

Benar mas lewat sini, satu kilo nanti jalannya masih bagus, terus habis itu jalannya jelek mas, batu-batu. Jalan jeleknya cuma sekitar satu kilo, habis itu jalan besar arah waduk sermo”

Berbekal petunjuk tersebut, kami meneruskan perjalanan. Rupanya, perkataan mengenai satu kilo lagi jalannya jelek memang benar. 1 km dari tempat kami bertanya, kami memasuki jalanan pedesaan, bahkan seperti hutan (kanan kiri pohon lebat, rumah jarang) dan jalannya, berbatu dan menanjak! Bahkan Iqro dan Deni pun menyerah, memilih menuntun sepeda ketika jalanan di hutan itu menanjak. Sekitar 1 km, Iqro, Deni dan Saya berhasil keluar dari hutan itu. Dan langsung menemukan tulisan “Selamat datang di kawasan wisata waduk sermo” juga plang kecil bertuliskan “Kalibiru 3 km → ” Hal itu lumayan menambah semangat kami. Demi menunggu rombongan yang tertinggal, kami beristirahat sejenak. Sekitar 10 menit kemudian Nampak rombongan sudah sampai di tempat kami istirahat, dan langsung kami meneruskan perjalanan. 500 meter dari sana kami langsung disuguhkan panorama waduk sermo yang luar biasa. Danau buatan ini tampak sangat menawan dengan pepohonan rimbun yang mengelilingi. Namun tujuan kami bukan disini. Kami lanjut bersepeda menuju kalibiru. Sampai di depan gang masuk kawasan wisata kalibiru, kami memutuskan beristirahat makan siang di warung mie ayam waduk sermo. Rasanya mantap, dengan kuah kari, porsi yang lumayan dan harga murah meriah (mie ayam+es jeruk = 7.000) cukup mengganjal perut kami.

pitstop #1
pitstop #1
waduk serrrrmoo!
waduk serrrrmoo!

Puas makan siang, kami mulai naik ke arah kalibiru, dengan sebelumnya mampir dulu di masjid karena sudah memasuki waktu sholat dzuhur. Ternyata seusai sholat kami terlalu lelah untuk melanjutkan, dan memilih tidur sejenak di masjid. Setengah jam kemudian bos adit membangunkan kami, dan mengajak naik ke puncak. Dengan malas-malasan kami bangun dan melanjutkan perjalanan ke puncak. Rupanya tanjakan ke puncak kalibiru sangat kejam dan bertubi-tubi. Hingga akhirnya kami sampai ke titik maksimal dari kemampuan kami. (Iqro padahal sempat naik lagi ke atas, nyaris mendekati puncak, namun karena kami sudah menyerah diapun turun lagi).

teknik baru. innefective!
teknik baru. innefective!
l e m p o h
l e m p o h
di plang KKN-UGM 2013, di depan tanjakan-hampir-tegaklurus
di plang KKN-UGM 2013, di depan tanjakan-hampir-tegaklurus

Perjalanan turun pun tidak semulus perkiraan. Tak seperti turun dari mangunan, turunan di sini lebih berbahaya karena curam, berkelok-kelok, dan sempit. Praktis kampas rem sepeda saya langsung menipis. Sangat tipis. Sebelum pulang kami kembali mampir masjid, serta warung mie ayam tadi untuk sekedar minum teh panas gula batu.

Setelah itu kami pulang. Bertanya ke penjaga warung, kami disarankan untuk melewati jalan berbeda dengan mengelilingi waduk sermo, langsung tembus wates. Ternyata waduk sermo sangat luas, dan berkelok-kelok. 7 kilometer sudah kami tempuh namun belum setengah putaran. Hari semakin sore, dan turun hujan semakin lebat. Kami berhenti sejenak untuk bertanya ke warga, disarankan untuk mengambil jalan keatas (tidak meneruskan mengitari waduk yang katanya kelilingnya 25 kilometer!), untuk langsung tembus jalan propinsi menuju wates. Sempat kami berhenti karena kaki rio obeng kram. Memang luar biasa perjalanan ini.

hidup ini keras, bro
hidup ini keras, bro

Jalan ternyata tak semudah perkiraan. Hujan deras, dan jalan licin terasa mengerikan. Iqro dan Deni melesat cepat mendahului yang lain. Dibelakangnya ada miftah dan saya, namun karena kaki yang semakin lelah, kayuhan sepeda tak maksimal, saya tertinggal. Praktis miftah dan saya secara terpisah sendirian melewati jalan itu. Jalan yang awalnya terang, semakin lama semakin gelap, dan ternyata melintasi hutan. Kiri-kanan jalan berupa jurang pepohonan dengan lampu yang hanya remang-remang, jalanan turun dengan belokan yang tidak terlihat. Sendirian melintasi jalan itu, bersepeda tanpa lampu, dan kampas rem yang menipis, serem! Hingga akhirnya saya sampai di perempatan jalan besar, berkumpul dengan Iqro, Deni, dan Miftah. Kami berteduh sembari menunggu rombongan yang lain. Hingga tetiba makin telpon

Ndro, tunggu yo, ki alon-alon soale rem pit e kenyot wes ra makan. Mau meh tibo”.

Semakin menegangkan saja suasana nya, ditambah hari semakin malam, jam menunjukkan pukul 18.12, dan kami belum juga meneruskan perjalanan. 5 menit kemudian rombongan datang. Sebelum meneruskan perjalanan kami menyiapkan segala sesuatu. Mengatur formasi, menggunakan 2 hape sebagai senter.

Di tengah jalan, sangat gelap. Dengan senter (flashlight .red) dari hape miftah pun jarak pandang hanya 3-5 meter. Kami pun saling berteriak untuk berkomunikasi

Awas motor, minggir, minggir!”

*ting ting ting ting* (bunyi bel sepeda, sebagai penanda lokasi dan biar kendaraan lain tahu kalo ada rombongan sepeda tanpa lampu di sini)

Di depan turunan, ati-ati, jaga jarak!”

*ting ting ting ting*

Awas, depan belok kiri!”

*ting ting ting ting*

Lapor, belakang jaraknya kejauhan, pelan-pelan!”

*ting ting ting ting*

Menegangkan. Tapi seru. Semacam di film-film thriller.

Alhamdulillah, 15 menit kemudian kami menemukan masjid. Berhenti untuk sholat maghrib dan istirahat sekalian menunggu waktu isya. Berbincang dengan pemuda desa, ternyata desa itu merupakan salahsatu spot KKN PPM UGM 13, unit KP -X. Usai sholat isya kami melanjutkan perjalanan. Menurut keterangan pemuda tadi, 4Km dari masjid kami sudah mencapai Wates kota. Tinggal 4Km lagi kami menuju peradaban! Semakin lama, penerangan semakin ada, dan hujan semakin reda. Dan akhirnya, wates kota! Jam 9 malam kami mulai sangat kelaparan. Berhenti sejenak di warung penyet di sekitaran alun-alun wates. Selesai malam kami langsung melanjutkan perjalanan mengingat malam semakin larut. Baru jam 10 malam, kami sampai di Jalan Wates Km. 18! Ya, masih 18 Km lagi menuju jalan wates km. 0. Sisa tenaga kami kerahkan, kaki kami paksa terus mengayuh tak peduli dinginnya malam. Jalanan besar bukan berarti rata, masih ada tanjakan-tanjakan namun bayangan akan kasur, sekali lagi menjadi motivasi terbesar kami.

penyetan, di alun-alun kota wates
penyetan, di alun-alun kota wates

Sekitar pukul 11:30 malam, saya tiba di rumah. Alhamdulillah. Bakmi jawa rebus dan beberapa lembar salonpas mengakhiri ekspedisi sepeda 103 KM (menurut speedometer bos adit) saya hari ini.

Sampai jumpa, di pitpitan sekuel berikutnya!

Video #pitpitanbro :

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s