pitpitan #6 : nggowes ngepot ke candi bang-jo


Sekian lama setelah event pitpitan terakhir (pitpitan 5.5), akhirnya kami kembali. Berawal dari pelampiasan gagal mendaki gunung lawu, saya dan bos adit berinisiatif gowes pada sabtu (19 mei) pagi. Tujuan awal kaliurang, namun dengan berbagai pertimbangan, dan karena beberapa saat lalu mas zaman sempat mengajak gowes ke candi abang, saya putuskan tujuan kali ini ialah candi abang. Pengumuman sedikit mendadak (jum’at sore baru jarkom sms & facebook), alhasil hanya saya, adit, mas zaman,  iqro, dan fardani yang bisa hadir. Yap, fardani melakukan comeback setelah skip dari pitpitan #2 – #5,5. Kemudian saya pun mengajak teman-teman teladan 51. Personil yang konfirmasi hadir nambah 2 orang yaitu apip dj, dan suban.

Kumpul di depan JEC jam setengah 7. Begitulah kesepakatan kami. Saya berangkat dari rumah jam 6 lebih seperempat dan ternyata iqro sudah sampai di JEC (katanya sih salah perkiraan). Jam 6:40 saya tiba menyusul iqro di sebrang JEC. Kemudian menyusul apip, fardani, bos adit, dan suban. Mas zaman masih belum nampak, dan ketika ditelpon, ternyata mas zaman sudah wedangan di imogiri karena dikira nggak jadi. Akhirnya kami berenam berangkat. Belum ada yang pernah ke candi abang, namun setidaknya fardani lumayan paham ancer-ancernya. Walaupun di jalan juga tetap menggunakan teknologi GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Sempat kami tertipu, hingga melenceng jauh dari tujuan (malah menuju patuk gunungkidul). Namun akhirnya dapat kembali ke jalan yang benar. Sekitar jam 9 kami tiba di candi abang. Jalan yang menanjak dan berbatu jadi cerita tersendiri. Dan sejauh ini idealisme saya (tanpa nuntun) masih terjaga. Di kawasan itu kami disambut anak-anak smp yang sepertinya habis berwisata di candi abang. Ngobrol dan bercanda sebentar seakan kami masih seumuran mereka J Sampai di puncak, kami malah heran, mana candinya? Ternyata candi abang hanyalah gundukan tanah merah (ditumbuhi rumput) yang cukup tinggi, yang katanya dulu bekas candi. Istirahat dan ngemil2 sebentar sambil whatsapp – an. Pas cerita di grup WA, ada yang menyarankan

“lanjut ke candi ijo ajaa, candi tertinggi di jogja, bisa liat pesawat takeoff. Tapi gowesnya sampai ngepot soalnya jalannya nanjak banget”

Saya tawarkan ke teman2 dan jawabannya sama : “Pancalke!” Kami pun turun dan memutuskan lanjut ke candi ijo. Sebelumnya mampir dulu di gua sentono. Foto-foto dong.

candi abang (mana candinya?)
candi abang (mana candinya?)
sepeda diatas gundukan tanah merah
sepeda diatas gundukan tanah merah
gua sentono
gua sentono

Setelah tanya sana-sini kami menemukan jalan menuju candi ijo. Daaan, tanjakan pertamaa :

tanjakan pertama minta diberi
tanjakan pertama minta diberi

Setelah tanjakan tahap 1, kami berhenti di pitstop (kantor desa sambirejo). Sampai pitstop itu idealisme saya juga masih terjaga.

pitstop #1 kantor desa
pitstop #1 kantor desa

Ketika hendak lanjutm kami sempat tanya ke seorang warga masih berapa jauh lagi candi ijo. Jawabannya “pun cedhak, namung 1 kilo malih”. Lumayanlah, kami masih sanggup dengan jarak segitu. Daan tanjakann ini yang menyapa setelah pitstop:

tanjakan setelah pitstop1
tanjakan setelah pitstop1
ketika idealisme masih dipertahankan
ketika idealisme masih dipertahankan

1 kilo setelah pitstop idealisme masih terjaga, namun ketika di depan SD, cuaca semakin panas, idealisme ini akhirnya runtuh. Saya turun dan menuntun sekitar 50 meter menuju pitstop kedua (warung sembako mbak pur) Di sana ada bos adit, aqua dingin, dan ale-ale rasa anggur. Istirahat sejenak sambil menunggu rombongan apip, suban, dan fardani. Sedangkan iqro, sudah duluan di depan entah sampai mana. Sekitar 30 menit, kami berangkat lagi, ke atas. Kadang dikayuh, kadang dituntun. Tak sampai 30 menit ternyata candi ijo sudah tampak. Kami semakin bersemangat mengayuh menuntun sepeda ke atas. Hingga akhirnya :

candi ijo! gratis coy (parkir bayar)
candi ijo! gratis coy (parkir bayar)
candi tertinggi di jogja
candi tertinggi di jogja
foto bareng
foto bareng
foto bareng (lagi)
foto bareng (lagi)

Asli deh ini recommended tempatnya. Selain gratis masuknya, pemandangan candi tertinggi di jogja ini juga luarbiasa. Puas melihat sekeliling dan berfoto ria, kami turun dengan tujuan masjid (sholat dzuhur). Ketika sampai masjid, ban belakang sepeda fardani bocor!

Padahal menurut kesaksian warga setempat tambal ban terdekat ialah di jalan piyungan-prambanan yang berarti sepeda harus dituntun jauh di jalan turunan menuju jalan raya. Sempat terpikir untuk mencegat mobil terbuka/truk untuk mengangkut namun kami memilih sholat dan makan dulu di angkringan.

Ketika selesai makan tiba-tiba apip melihat sosok yang tak asing melintas di depan kami. Ternyata teman SMA yang juga akan berwisata ke candi ijo. Kami memanggil (dengan paksa, haha) mereka dan meminta tolong hendak meminjam motornya untuk mengangkut sepeda yang bocor tadi ke tambal ban. Sungguh, pertolongan Allah itu sangat dekat . Dan pertolonganNya dapat berupa apapun, salahsatunya konco kenthel 

Setelah masalah ban sepeda beres, kami pulang. Dan saya sampai rumah jam setengah 6 sore dengan rasa pegal-pegal di kaki (maklum sih ya, udah lama nggak nanjak seperti tadi).

Sekian cerita pitpitan #6, sampai jumpa di pitpitan #7!.

Advertisements

2 thoughts on “pitpitan #6 : nggowes ngepot ke candi bang-jo

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s