Istilah orang jawa (1)


Ceritanya saya habis menghadiri undangan dari kelurahan. Mendadak sih, acaranya jam 19.30, saya baru pulang kampus habis maghrib dan baru baca undangannya saat itu juga. Bunyinya “sosialisasi pemilihan pengurus BKM Desa Banyuraden”. Apa itu BKM? Nah aku yo ra ngerti. Jadi tanya bapak dan katanya BKM semacam kegiatan sosial-nya kelurahan. Okelah, sedikit dikira-kira adagambarannya. Dan ekspektasi saya karena saya juga diundang mungkin ini semacam badan untuk generasi pemuda. Habis isya’ , saya berangkat ke rumah pak dukuh (tempat sosialisasi). Sampai di sana ternyata baru 55% yang hadir. Dan sudah bapak-bapak. Oh God Why. Usut punya usut ternyata saya termasuk dipakakke sama Pak RT, karena tiap RT wajib mengirim 3 delegasi untuk mengikuti acara ini, dan saya termasuk salah satunya. -___-

Inti acara itu ialah pemilihan perwakilan dari RW 06 untuk sebagai pengurus BKM tingkat kelurahan. Saya tidak akan membahas apa itu BKM, maupun pnpm. Namun pada pertemuan dengan tokoh masyarakat yang jauh lebih berpengalaman dan berilmu dari saya tersebut ada beberapa istilah yang menurut saya tidak akan di temui di perkotaan. Atau bahkan mungkin semakin hilang di telan jaman. Saya sebut sebagai istilah orang desa. Mungkin sederhana isinya,namun yang menarik adalah rangkaian kata-nya yang tak terganti. Berikut istilah itu:

– Suwarga nunut, neraka ora katut (surga ikut, neraka tak masuk)

Waktu membahas tentang tugas pengurus BKM yang murni sebagai relawan, ada seseorang yang nyeletuk “intinipun menawi dados relawan nggeh kedah ikhlas pak. Imbalane nggeh saking Gusti Allah. Istilahe suwarga nunut, neraka ora katut” Maksudnya, dengan niat ikhlas membantu sesama insyaAllah imbalannya adalah pahala kebaikan dari Allah. Dan semakin banyak pahala, maka semakin dekat dengan surga, dan dijauhkan dari neraka. InsyaAllah.

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقْ

“Janganlah engkau menyepelakan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya senyuman tatkala bertemu dengan saudaramu”
(HR Muslim no 2626)

– Tutur sembur

Nah istilah ini muncul ketika seorang pemateri menceritakan bagaimana luarbiasanya menyebarkan sebuah informasi secara lisan dari mulut ke telinga. Mungkin ibu-ibu yang hadir hanya 1-2 orang, tapi 1-2 orang ini ketika belanja atau arisan, menceritakan kepada ibu-ibu lainnya, dan setetrusnya. Mereka menyebutnya dengan istilah “tutur sembur”. Walaupun begitu tutur sembur juga sering diaplikasikan untuk hal negatif sperti ghibah. Yes, semua kembali ke pribadi masing-masing

– Talang, teles (talang basah)

Anda tau talang air kan? Saluran yang dilewati air, biasanya di atap/genteng sebagai saluran air hujan. Dan sangat logis sekali bahwa yang bernama talang itu selalu teles (basah). Perumpamaan itulah yang sering digunakan orang jawa untuk orang-orang yang berurusan dengan dana. Istilah ini keluar melalui curhatan pengurus BKM periode kemaren (fyi. Tugas BKM ialah menyalurkan dana dari pemerintah kepada warga yang benar-benar membutuhkan) yang ketika bertugas sering dirasani warga setempat “nah iki talang e teko” , “karang le jenenge talang, yo mesti teles” (nah ini talangnya datang, yang namanya talang ya pasti basah). Kasihan memang, berat juga, udah relawan, dirasani.

Demikian istilah orang desa yang sempat saya jabarkan. Sakjane biasa sih yo, mung lagi pengen nulis wae. Dan sebenernya masih banyak istilah lain (di luar acara ini) tapi nunggu ada acara saja lah.

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s