JBR02 : Panawangan, Brace yourself!


Preparation and the departure

Persiapan sebelum KKN cukup hectic, mana yang belanja peralatan, cari bus dengan seat diatas 30 dengan tarif nggak mahal, ditambah dengan persiapan ngirim motor. Karena setelah diskusi dingan pertimbangan yang sangat matang, bahwa KKN di sana dengan wilayah kerja luas membutuhkan mobilisasi masal yang cukup sering sehingga diputuskan kami mengangkut 15 motor (5 tiap subunit, biar pas, bisa boncengan). Belum lagi pembagian barang kebutuhan per subunit seperti ember, heater, speaker, tali jemuran, alat tukang, dan KASUR. Yup,total ada sekitar 10-12 kasur yang dibawa ke lokasi . Untuk barang pribadi, tanggung jawab masing-masing, dan sesuai rencana sepasang USB-Joystick saya masukan dalam checklist barang pribadi. Akhirnya kami berhasil memastikan kendaraan yang digunakan untuk pemberangkatan yaitu Bus Sargede dengan seat 44 (cmiiw). Masalah baru muncul, karena motor udah dikirim H-1, terus gimana anak-anak yang motornya dikirim buat kumpul ke GSP pas pemberangkatan? Barang-barangnya? Dengan beberapa pertimbangan akhirnya diputuskan untuk menyewa mobil pickup/bukaan dan menjemput barang-barang ‘besar’ seperti kasur dan seukurannya.
Hari pemberangkatan tiba. Lokasi meeting point ialah sayap selatan GSP dan janji dengan sopir bis jam 7 malam berangkat. Menjelang waktu maghrib saya tiba di lokasi, namun ternyata masih banyak yang belum tiba di lokasi. Kami mulai menata hati barang-barang ke dalam bus sedemikian sehingga dapat ditempati. Bayangpun, ada 12 kasur dipaksakan masuk ke 2 baris seat terbelakang yang kursinya dilepas. Serta ada 2 viewer projector yang melintang di tengah bus. Prinsip kami saat itu : waton amot! (asal muat). Hingga jam 7.30 malam masih ada yang belum datang dengan berbagai halangan. Sedangkan tim penjemput barang yang dikemudikan Guntur dengan diasisteni Gilang, menerobos hujan deras mereka menjemput barang-barang menggunakan mobil pickup yang sudah disewa. Karena sempat terjadi hal yang tidak diinginkan proses penjemputan barang pun molor dan baru selesai jam 8 malam. (Menurut saksi yang terpercaya mobil penjemput sempat menyerempet mobil lain, dan dipermasalahkan). Hingga akhirnya semua anak baru siap berangkat setelah jam 10 malam. Dengan sedikit menggerutu pak sopir yang telah dihibur dengan sebungkus besar rokok dan bronis amanda ini pun menjalankan mesin, dan berangkat. Dan karena saya menempati kursi tunggal di sebelah sopir dan asistennya, di depan, praktis saya lah yang jadi tempat sambat (mengeluh.red) pak sopir dan asisten. Memang mereka berhak ngeluh karena kami memang molor jauh (-+ 3jam) dari janji, sedangkan bis tersebut esok harinya harus sudah ada di Jogja. Kami juga tak mungkin menyalahkan siapapun, insiden itu juga diluar kehendak kami. Ah sudahlah, tak perlu dibahas, yang terpenting kami sudah berangkat menuju lokasi KKN.
Panawangan, Here we come!
(Soundtrack : Crows Zero – Into the Battlefield)

The arrival

arrived at panawangan and extracting package
arrived at panawangan and extracting package

Kurang lebih 8 jam perjalanan (hanya berhenti sekali untuk sholat shubuh di Masjid Agung Ciamis), dan sekitar jam 8 pagi kami tiba di pom bensin panawangan, depan pondokan subunit 1. Alhamdulillah. Semua sehat, semua selamat. Unloading barang dari bus, setelah itu, tanpa istirahat kami menuju kantor kecamatan dan kelurahan untuk acara penyambutan dari kecamatan dan desa panawangan. Di sana, sambutan serta arahan dari pak camat, pak kuwuk (kepala desa), komnas pendidikan, dosen pembimbing, dan kormanit menjadi ‘menu sarapan’ kami. Intinya sama, dari pihak desa dan kecamatan bersedia penuh memfasilitasi dan bekerjasama dengan kami, dari pihak dosen ‘mewanti-wanti’ agar kami tidak menjadi bossy, manja, sombong, kemudian dari kormanit menyampaikan program utama, tema, dan permohonan kerjasama. Pertemuan itu juga dihadiri oleh bebrapa pejabat/tokoh masyarakat seperti Ibu ketua PKK, Bapak-bapak kepala dusun, dan ketua karang taruna, sehingga selain mendengar arahan kami juga sekalian bertatap muka dengan orang-orang yang akan sering kami minta bantuan selama di sini. Nampak antusiasme tokoh masyarakat terhadap kehadiran kami cukup tinggi. Keluar dari balai desa, sejenak saya membiarkan kelima panca indra ini beradaptasi, merasakan suasana desa ini. Sempat terlintas pertanyaan krusial dan fundamental : “Mampukah bertahan di lingkungan ini. Lingkungan yang benar-benar baru. Dengan orang-orang yang masih asing, dan bahkan teman-teman yang masih belum begitu kenal?” Namanya juga cuma terlintas, pertanyaan itu berhasil dialihkan 100% oleh rasa lapar. Untungnya setelah itu kami segera menuju pondokan subunit 1 untuk makan siang. Sembari menyimak briefing dari dosen pembimbing mengenai Do’s & Don’ts selama berada di lingkungan baru, khususnya dalam tujuan KKN. Briefing selesai, kormanit menginstruksikan kami untuk segera menuju pondokan masing-masing sekalian memindahkan perabotan. Saya, subunit 3, bersama 9 anggota lain bergantian mengangkut barang ke dusun Cibogor, dusun yang dalam 2 bulan ke depan menjadi cakupan kerja subunit 3.
(Bedah) Rumah pondokan
Pada awalnya saya masih kesulitan mengenali lokasi pondokan karena letaknya di tikungan yang sulit diidentifikasi dengan cepat. Bahkan sempat beberapa kali ‘kebablasan’ karenanya. Setibanya kami (subunit 3) di pondokan, ternyata ibu pondokan bersama anaknya sedang memasang kain gorden untuk menutup jendela dan kamar perempuan. Sedangkan karena kamar laki-laki dirasa tidak perlu privasi tinggi, dibiarkan terbuka (sakjane perlu sih 😐 ). Rumah pondokan subunit 3 dapat dibilang cukup lega. Literally. Karena isinya 1 ruang utama, 3 kamar, 1 dapur, dan 1 kamar mandi, dan 1 buah kursi. Meski demikian rumah ini masih memerlukan sedikit finishing touch pada beberapa hal agar supaya dapat dikategorikan layak huni. Pertama adalah kamar mandi. Bak mandi dan lantai lagsung dibersihkan, di sikat sampai bersih. Juga pintu ke arah luar. (FYI, kamar mandinya cukup luas, bahkan memiliki pintu di 2 sisi berlawanan, arah dari dalam rumah dan arah ke luar rumah). Pintu arah ke luar memiliki celah cukup luas untuk binatang seperti ular atau anak macan untuk tiba-tiba menyelinap ke dalam. Untuk mengatasinya kami menambalnya dengan plat aluminium yang dibeli dari pasar, dengan bantuan paku dan palu yang sudah kami bawa dari Jogja. Tak sampai 10 menit, masalah kamar mandi terselesaikan. Kami beralih ke dapur. Ukuran dapur juga termasuk luas, namun karena lama tidak digunakan jadi masih kotor. Segera kami mengguyurkan air ke meja dapur, rak piring, dan lantainya untuk kemudian di lap hingga bersih. Beranjak dari dapur, segera menuju ke masalah berikutnya yaitu penerangan. Beberapa lampu dan saklar bermasalah. Untungnya ada kursi dan obeng, sehingga tak lama kemudian masalah tersebut terselesaikan. Akhirnya tinggal membersihkan kamar, ruang utama, kemudian meletakkan barang bawaan (pakaian, kasur, alat pribadi, alat unit, dan bekal logistik) sesuai di tempatnya. Dan mulai saat itu, rumah ini resmi menjadi rumah kami selama dua bulan KKN. Berharap tak perlu ada permasalahan serius di dalam rumah yang sederhana namun menenangkan tersebut.

“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya, ada di sini!” Godbless – Rumah Kita.

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s