Gelap


Pernahkah mengalami keadaan ketika sedang dalam ruangan dengan lampu sebagai sumber cahaya utama, tetiba listrik padam. Maka ada jeda waktu beberapa saat indera pengelihatan kita hanya melihat gelap tanpa mampu mendeteksi benda2 di sekitar. Jalan pun harus meraba karena kita tak tahu di mana lokasi ‘obstacle’ yang perlu dihindari. Namun sejenak kemudian, beberapa benda mulai nampak. Mata mulai beradaptasi dengan minimnya jumlah cahaya yang dipantulkan benda, sehingga kita mulai mampu melihat keberadaan benda di sekitar. Dan pada akhirnya kita pun lebih leluasa berjalan karena dapat mengidentifikasi halangan-halangan yang harus dihindari.
Begitulah adaptasi.
Bertahun tahun mungkin kita berada di ‘dalam cahaya’. Atau setidaknya di lingkungan yang mereka bilang sebagai ‘zona nyaman’. Dalam lingkungan itu saja, kita sudah banyak mengeluh. Mengeluhkan segala ketidaknyamanan sementara kita sendiri berada di dalam zona nyaman. Ironi. Hingga tiba suatu masa ketika kita harus meninggalkannya. Maka sesaat setelah kita meninggalkan zona nyaman dan berada dalam zona baru itu, ada jeda beberapa waktu ketika kita hanya ‘melihat gelap’ . Butuh beberapa waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang bagi kita ‘gelap’, untuk mampu ‘melihat dengan sedikit cahaya’. Sehingga kita lebih leluasa ‘berjalan’ karena dapat mengidentifikasi halangan-halangan yang harus dihindari.

“Gelap itu tidak ada
yang ada hanya ketiadaan cahaya.”

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s