To kill a Mockingjay


tokillamockingjay

Wait, saya tidak akan membahas film ini layaknya review-review film lain. Entah sinematografi, efek, storyline, adaptasi, akting pemain atau istilah apapun itu. Ya karena saya memang tak tahu-menahu masalah itu. Dalam menulis tulisan ini saya hanya mengambil sedikit pelajaran dari trilogi film Hunger Games secara keseluruhan.

Film Mockingjay part II, yang baru tayang perdana hari Jum’at kemarin, adalah bagian dali trilogi Hunger Games, yang merupakan sequel terakhir setelah yang pertama, The Hunger Games, dan yang kedua, Catching Fire. Secara keseluruhan alur film ini jika boleh saya sederhanakan :

Pada hunger games ke 74, di distrik 12, Katniss (Jennifer Lawrence) mengajukan diri menggantikan adiknya, Prim (Willow Shileds), yang agak sial karena namanya menang ‘undian’ . Lalu Katniss dan Peeta (Josh Hutcherson) dari distrik 12 jadi pasangan pertama yang menang di Hunger Games (biasanya harus 1 orang yang menang). Kemudian Katniss muak dengan permainan Snow (Donald Sutherland), dan ingin membunuhnya untuk menghentikan semua kebodohan ini. Coin (Julianne Moore) memanfaatkan sifat ngeyel Katniss sebagai simbol harapan bagi para pemberontak, untuk bersamasama mengkudeta Snow dari Capitol. Dan akhirnya , ********* (spoiler alert) *****. Nah kurang lebih demikian alurnya secara keseluruhan.

Di trilogi itu, khususon seri kedua dan ketiga, nampak sekali bahwa untuk mengkudeta Snow, benar-benar dibutuhkan seorang Katniss Everdeen. Coin menganggap Katniss sebagai simbol. Simbol atas harapan bagi warga panem yang memiliki visi misi sama yaitu merdeka dari perbudakan Snow. Dengan demikian, mereka selalu melindungi Katniss dari segala macam marabahaya. Keselamatan Katniss seakan menjadi top level priority bagi para pejuang pemberontak. Padahal toh dia hanya seorang perempuan yang selalu ingin benar dan dimengerti bisa memanah dan agak ngeyel.

Namun bagi mereka, Katniss lebih dari itu. Dia, The Mockingjay, adalah simbol. Simbol harapan seluruh warga panem. Pabila Katniss meninggal, meskipun ribuan pemberontak masih tersisa, namun mereka kehilangan simbol harapan mereka. Apalah arti ribuan tenaga tanpa secuil harapan? Mati. Seperti yang pernah mbah Sudjiwo Tedjo titahkan;

Sanggup tahan seminggu, tanpa makan minum, tapi tak sanggup kita hidup walau cuma sedetik tanpa harapan.

Jadi, jangan berhenti berharap, namun jangan berikan harapan palsu

Fin.

Advertisements

2 thoughts on “To kill a Mockingjay

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s