Amarilis Fantastis


Beberapa pekan lalu, dunia jejaring sosial nasional, khususnya di Jogja dan sekitarnya, dihebohkan oleh kehadiran taman bunga amarilis milik Pak Sukadi di Patuk, Gunungkidul. Taman bunga yang hadir ketika musim hujan tiba. Pemandangan bunga-bunga bermekaran di sebuah kebun dengan warna-warna yang memikat hati ini sontak langsung membuat warga Jogja berduyun duyun kesana. Entah sekedar menikmatinya dengan senyap, maupun mengabadikannya melalui lensa kamera. Hal yang wajar ketika kita hidup pada zaman di mana dedaunan yang tumbuh di tembok rumah pun jadi background foto .

Namun ternyata beberapa pengunjung yang terlalu asyik berfotoria, khilaf dan menginjak beberapa tangkai bunga yang sedang indah-indahnya itu. Tak butuh waktu lama, kabar (yang dilengkapi foto) tentang bunga yang rusak terinjak terhempas kaki-kaki pengunjung khilaf itupun ikut tersebar di dunia maya dengan statement-statement yang mengobarkan bara api pembacanya. Para netizen kita yang mencintai alam ini tak rela bunga yang hanya mekar ketika musim hujan, selama 2 minggu, itu rusak begitu saja karena terinjak-injak. Postingan foto para pengunjung kebun bunga amarilis di instagram hampir semua berisi hujatan. Hujatannya pun bukan main, dari sebutan alay hingga anjing. Dari tak punya otak sampai tak punya malu. Awalnya saya pun sedih melihat bunga yang terinjakinjak itu. Tak terbayangkan bagaimana sedihnya Pak Sukadi, pemilik kebun itu melihat kebunnya yang indah hancur begitu saja oleh kelakuan pengunjung. Hingga saya membaca beberapa berita mengenai tanggapan beliau mengenai rusaknya kebun itu, seperti yang dikutip oleh sorotjogja berikut;

“Sekali lagi saya sangat tidak merasa dirugikan dengan kerusakan ini. Justru saya sangat senang dengan banyaknya pengunjung yang datang kesini,” ujarnya.

“Jadi ini saya jadikan bahan evaluasi saja. Setelah ini kita akan bikin desain yang tepat untuk wisata. Seperti adanya jalan yang bisa dilalui sehingga (wisatawan) bisa berada di tengah bunga-bunga dan lain-lainnya,” tambahnya.

Yha. Ternyata beliau menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu dievaluasi. Dan juga, menurut beliau, pemasukan dari dana sukarela pengunjung per harinya mencapai 2-5 juta rupiah. Dengan modal awal membangun sebesar 2 juta rupiah. Alhamdulillah.

Meski begitu saya tak bermaksud membela pengunjung yang khilaf menginjak-injak bunga ini. Merekapun perlu evaluasi diri, perlu memikirkan dampak sebelum menginjak/meniduri bunga-bunga tersebut. Dan juga kita para netizen yang belum sempat menikmati kebun itu, jangan asal latah ikut mencacimaki dengan berlebihan. Iyasih emosi, iyasih (udah) ga suka alay, tapi menghujat di tempat umum, bukan hal bijak (sudut pandang orang ketiga sok tahu dan sok bijak)

Sabar ya, amarilis, para pecinta alam, dan explorer alam. Badai pasti berlalu dan amarilis tak lama lagi kan layu. Tetap sehat tetap semangat!

“Dari sekian banyak amarilis, cuma satu yang tak layu, dari sekian banyak gadis, cuma kamu yang nganu”

Advertisements

One thought on “Amarilis Fantastis

  1. Pingback: BerWisata: Refreshing atau sekedar Posting ? | ferindra nugrahendi

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s