BerWisata: Refreshing atau sekedar Posting ?


Belum ada sebulan semenjak hebohnya bunga di kebun bunga amarilis yang terinjak-injak bahkan tertiduri pengunjung, muncul beberapa kasus lagi yang serupa. Yaitu mengenai taman lampion di Kaliurang yang menurut kabar, beberapa rangkaian kabel putus karena terinjak pengunjung yang hendak berfoto. Serta, yang lebih parah, mengenai ambruknya salah satu jembatan gantung di Aceh yang dikarenakan berlebihan muatan. Usut punya usut, terjadinya muatan berlebih tersebut dikarenakan para pengunjung yang ingin berfoto dengan latar belakang pemandangan, memaksa masuk tanpa menghiraukan peringatan maksimal jumlah beban.

Memang, saat ini banyak alasan yang membuat hal itu terjadi. Diantaranya kepuasan tersendiri pabila dapat memperoleh hasil foto diri dengan pose/ latar yang indah. Kepuasan tersebut kebanyakan dinilai dari jumlah like postingan di sosial media. Saya tak tahu apakah kebutuhan akan pengakuan/penghargaan dari orang lain ini termasuk dalam salah satu poin dari teori kebutuhan maslow. Pada tulisan saya sebelumnya mengenai fenomena amarilis, saya lebih menengah, melihat dari beberapa sisi; sisi pengunjung, pemilik tempat/wahana, serta sisi netizen sebagai pengamat (dan banyak penghujat). Mencoba untuk tidak terlalu heboh dengan perusakan itu. Namun melihat fenomena-fenomena serupa lain, akhirnya saya tergoda untuk sedikit heboh, serta heran. Sebegitunya kah kebutuhan mereka akan foto berlatar belakang pemandangan indah. Esensi dari berwisata saat ini mungkin adalah menemukan spot terbaik untuk mengambil foto, tentunya dengan foto diri sendiri, untuk kemudian dibagikan di sosial media. Tak ada lagi (ada namun sedikit) orang-orang yang berwisata murni untuk melepas penat, bercandan dengan teman dan keluarga, atau mungkin merenung untuk mentadabburi keindahan ciptaanNya.

Tentu tidak salah mengabadikan momen-momen liburan di tempat yang bagus. Karena slogan yang terkenal di tempat wisata alam adalah “Take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time”. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa ketiga syarat dalam slogan tersebut bersifat konjungsi. Di mana ketiganya harus bernilai benar.

But if you either take picture, kill time, but leave trash; or take picture, leave nothing, but kill flowers/electric circuit/other visitor, then you break the rule.

Lagipula saya pun hampir selalu berbekal kamera (entah pocket camera atau kamera smartphone) ketika bermain ke suatu tempat. Intinya, boleh sangat berfoto ataupun selfie. Dan saya tak terlalu peduli jikalau anda berwisata hanya untuk foto-foto atau eksistensi semata. Namun, saya hanya minta tolong, berfotolah yang tidak destruktif. Selfie pun sebenarnya tak salah, yang salah adalah pemilihan tempat (di tengah-tengah bunga, di tengah-tengah rangkaian kabel/lampu) atau waktu (ketika jembatan sudah hampir mencapai beban maksimal).

Your Trip, Your Adventure, Your Responsibilities.

Advertisements

3 thoughts on “BerWisata: Refreshing atau sekedar Posting ?

  1. Pingback: Jenis Tempat Makan yang Laris – ferindra nugrahendi

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s