Summit series : papandayan


Jadi berawal dari ajakan teman lawas jaman sma yang juga sedang mencari nafkah di Jakarta (Ma’ruf) untuk naik papandayan. Rencana awal waktu longweekend di tahun baru, namun karena ada yang mudik, ditundalah pendakian itu pada tanggal 9-10 Januari kemarin. 4 orang yang pada akhirnya berangkat ialah saya, ma’ruf, oki (teman kuliah ma’ruf), dan indra (teman kost ma’ruf).

Hari Sabtu pagi kami berangkat dari kost ma’ruf naik taksi menuju Kampung rambutan. Sampai sana, kami cari bus jurusan garut, loading barang (carrier) dan sarapan. Tarif bis jurusan jakarta (kp rambutan) – garut (terminal) ialah Rp 52.000. Bis berangkat sekitar pukul 9 pagi, melalui tol cipularang. Sampai terminal garut sekitar jam 2 siang. Makan siang, lalu cari angkot menuju cisurupan dan turun di dekat indomaret (depan gapura masuk kawasan Gn. Papandayan).Tarif angkot berkisar di antara Rp 20.000 – Rp 30.000 dengan waktu tempuh 30-45 menit. Dari sana kami cari ojek untuk sampai ke basecamp david (camp pendaftaran untuk para pendaki). Tarif ojek naik rata-rata Rp 35.000. Setelah itu kami mendaftarkan diri (membayar uang retribusi Rp 7.500 per orang) dan segera melakukan pendakian.

base camp david
base camp david
masih seger seger sebelum mendaki. cekrek
masih seger seger sebelum mendaki. cekrek

Pendakian dimulai sekitar pukul 16.45. Jalan dengan tempo sedang, kami terpisah 2-2 (saya dengan indra, dan ma’ruf dengan oki).

tebing terjal di samping kawah belerang
tebing terjal di samping kawah belerang
ketika kemiringan jalur mulai berkurang
ketika kemiringan jalur mulai berkurang

Kami sampai di pos 2 (wajib lapor untuk para pendaki). Berhenti sejenak, mendengarkan musik, menikmati teh panas dan gorengan. Malam segera tiba, dan tibatiba kabut tebal menghmpiri. Kami memutuskan untuk segera naik ke pondok saladah (camp ground). Tiba di pondok saladah sekitar pukul 18.48 dan sudah banyak tenda yang didirikan di sana. Kami memilih spot tanah (agak) datar di bawah pepohonan (agar tak terlalu dingin). Sebenarnya di lapangan ada spot luas, namun sepertinya kurang cocok karena terlalu terbuka (angin dan dingin pasti leluasa menusuk tulang kalo di sana). Kemudian kami segera mendirikan tenda, lalu memasak. Menu malam itu ialah nasi + 3 bungkus indomie + 1/2kaleng sarden. Setelah itu, sebelum beristirahat, kami menuju ke toilet untuk menuntaskan kewajiban jasmani. Dan ternyata toilet di sana cukup terawat. Jadi ga perlu khawatir ketika tiba-tiba harus menunaikan hajat, cukup sedia uang minimal 2000 rupiah sebagai donasi perawatan. Setelah ngobrol ngalor ngidul, sekitar jam 12 malam kami pun tidur.

Beberapa kali saya terbangun sebelum alarm berbunyi. Bukan karena dingin (di dalam tenda lumayan hangat, terlebih udah pake kaoskaki – jaket – kupluk – sleepingbag), melainkan karena tanah yang keras dan kurang rata. Resiko ngecamp nyempil di bawah pepohonan. Hingga alarm sebenarnya berbunyi, kami bangun dan bergantian ke toilet. Setelah itu agar tidak kembali terlelap, kami memasak air biar mateng, dan menyeduh kofimiks. Segelas kehangatan ditengah dinginnya pagi di papandayan, “maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?”

suasana camp ground pagi berkabut
suasana camp ground pagi berkabut
masak sarapan
masak sarapan

Setelah itu kami memasak sarapan dengan menu : nasi+kornet telur+sarden+Saos sambal belibis. Pokoke wareg, karena sarapan itu buat bekal kami naik ke tegal alun sampai turun lagi ke camp david dan kembali ke terminal. Selesai sarapan kami packing, melipat tenda, flysheet, dan tak lupa menyatukan sampah dalam trashbag (leave nothing but footprint!). Selesai packing kami menitipkan tas ke salahsatu warung dan menuju ke tegal alun.

Karena kami berempat belum ada yang pernah ke papandayan sebelumnya, maka mencari track nya asal. Pokoknya asal ada jalan mendaki. Mengingat waktu yang semakin siang, maka tujuan kami hanyalah tegal alun dan hutan mati.

“Udah, gausah ke pumcak, waktunya ga cukup ntar. Tegal alun trus balik aja”

Hampir satu jam di jalan yang terus mendaki di tengah pepohonan rimbun. Hingga akhirnya,

lah, puncak?
lah, puncak?

ternyata malah sampai puncak. That awkward moment ketika summit, tapi sampai puncak malah bingung. “lah udah puncak?” 😐

Setelah tanya ke pendaki lain ternyata ada rute lain menuju tegal alun dan hutan mati yang katanya waktu tempuh hanya 10-20 menit dari puncak. Langsung kami menaikkan tempo.

Hingga akhirnya, Tegal Alun! Edelweis! Kami berhenti, ngemil ngemil, ngobrolngobrol, fotofoto, dan bahkan berdiskusi mengenai kesalahan peta petunjuk.

bunga edelweis!
bunga edelweis!
tegal alun. cekrek!
tegal alun. cekrek!
hamparan edelweis
hamparan edelweis
*mas tolong fotoin* *cekrek*
*mas tolong fotoin* *cekrek*
"nah kita tu tadi harusnya lewat sini trus kesini" | "iyo, tapi menurutku peta ini salah deh. puncaknya harusnya sebelah sini"
“nah kita tu tadi harusnya lewat sini trus kesini” | “iyo, tapi menurutku peta ini salah deh. puncaknya harusnya sebelah sini”

Saat meninggalkan tegal alun, saya sempat melihat ada tapak kaki binatang (entah macan kecil, atau apa, yang jelas bukan babi hutan yang katanya masih ada di sini)

Kemudian tak jauh dari tegal alun kami pun tiba di Hutan Mati! Konon katanya hutan mati terbentuk karena erupsi gunung papandayan tahun 2002 silam, yang laharnya membunuh semua vegetasi yang dilewatinya.

vegetasi mati di hutan mati
vegetasi mati di hutan mati

Setelah itu kami menuruni hutan mati dan sampai di pondok saladah, tempat camp. Ternyata inilah rute yang seharusnya dilewati, dengan jalan yang lebih datar dan santai. Jadi sebenarnya kami tadi mengitari gunung, melewati semacam shortcut menuju puncak, dengan jalan yang lebih mendaki tak santai.

Kami lalu ke warung untuk mengambil tas, dengan sedikit jajan ke warung tsb. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan turun. Sekitar jam 1 siang kami sampai di camp david dan segera mencari angkutan turun. Sempat berdebat sedikit dengan tukang ojek, kami akhirnya naik pickup turun (tapi saya terlanjur naik ojek sih, duluan). Tarif ojek turun lebih murah yaitu sekitar 20-25ribu rupiah. Lalu kami sudah ditunggu angkot untuk kembali ke terminal. Kali ini semua penumpang angkot ialah pendaki, maka dari itu tas carrier diletakkan di atas angkot (ada kurang lebih 12 tas carrier) diikat. Di tengah jalan sempat turun hujan, namun untungnya carrier yang saya pakai sudah terlindungi raincover. Dan tiba-tiba ada penumpang yang teriak “pak tasnya jatuh satu pak”.

angkot langganan pendaki ke terminal
angkot langganan pendaki ke terminal

Setelah saya lihat ternyata tas saya yang jatuh 😐 untung ngga ada barang rawan pecah di dalam. Setelah mengikat tas lagi dengan kencang, angkot pun melanjutkan perjalanan, dengan kecepatan yang sedikit menurun. Sampai terminal jam 3 kurang, mampir masjid, mampir beli nasi bungkus, lalu segera naik bis jurusan jakarta lebak bulus. Perjalanan hampir 6 jam dan akhirnya sampai di terminal pasar rebo. Karena sudah terlalu larut, saya dan oki yang tinggal di luar jakarta (tangerang dan bekasi) menginap di kosan ma’ruf dan pulang keesokan paginya.

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s