Distorsi Literasi


Hampir sepekan berlalu sejak peristiwa ledakan dan baku tembak terjadi di Sarinah. Peristiwa yang bermula dari ledakan di pos polisi, kemudian disusul ledakan lain di sekitarnya, dan kemudian diakhiri dengan baku tembak antara polisi dengan para pelaku. Peristiwa yang langsung membuat gempar seisi tanah air itu bahkan tak luput membuat orang tua saya di rumah (Jogja) segera menelpon dan menanyakan kabar berikut ledakan-ledakan yang terjadi di Jakarta, begitu beliau melihat liputannya di televisi. Posisi saya di Tangerang, yang terpaut 33 Km atau dibutuhkan waktu 1,5 jam naik kendaraan roda empat (tanpa macet) bagi para pelaku untuk kabur dan bersembunyi di kolong meja kerja saya. Yha, namanya juga anak kesayangan. Namun saya tidak akan membahas hubungan Ibu anak yang tak lekang oleh waktu.

Informasi mengenai ledakan tersebut saya peroleh pertama kali dari grup chatting (sebut saja WA) sekitar pukul 11.07 (berselisih 27-37 menit sejak peristiwa ledakan pertama) Kemudian grup yang lain mulai menyusul kehebohan dan kepanikan mengenai peristiwa ini. Beberapa informasi penting pun dapat mudah disebarkan, diantaranya mengenai Evakuasi gedung, baku tembak pasca ledakan, maupun keberadaan pelaku yang masih belum tertangkap. Namun, entah dari siapa asalnya, apa tujuannya, mulailah muncul info-info lain bertubi-tubi tanpa literasi jelas. Hanya bersanad “rowahu grup sebelah”. Kecurigaan terhadap info tersebut muncul ketika ada broadcst mengenai adanya “teroris hijau dengan AK47 menembaki membabi buta naik motor trail”. Sedang sesaat setelah itu ada broadcast yang isinya sama, hanya kali ini “teroris” berubah menjadi “terios”. Nah. Teroris hijau dan Terios hijau? God. I thought Bruce banner was visiting Sarinah.

terios hijau, atau teroris hijau
terios hijau, atau teroris hijau

Kemudian info lain beredar mengenai ledakan di Palmerah, Kuningan, Slipi, Semanggi, serta 45 bom yang telah disebar. Bayangkeun saja, 45 bom? Dan yang mengejutkan lagi, info bahwa pelaku sudah sampai alam sutra dan terjadi ledakan. Wow.  Alam sutra, Tangerang masih dalam jangkauan gojek dari kantorku (jarak kurang dari 20 km). Dan ternyata, dapat info dari seseorang yang benar-benar berada di lokasi bahwa tidak ada bom sama sekali di Alsut. Hingga akhirnya polisi merilis info resmi bahwa ledakan hanya terjadi di sarinah . Dan juga beredar info agar kita menghindari warung makan American branded karena itulah yang jadi sasaran pelaku (berdasarkan ledakan pertama terjadi di Starbucks). But, hey, apakah pelaku sendiri yang menyebarkan sasaran mereka? Kalau ini hipotesis, harusnya disusun setelah melihat pola, dan untuk dapat disebut pola, harus berulang lebih dari satu. Lah ini, baru starbucks yang cocok, lalu langsung pada percaya kesimpulan seperti itu (?)

“Kan kami bermaksud baik” , “Kami hanya khawatir dan berniat membantu, selagi kami TAK ADA di lokasi” , “Biar pada hati-hati” , dan sedereetan alasan serupa mungkin akan keluar jika para penyebar informasi itu ditanyai mengenai tujuan mereka langsung menyebarkan info “Dari temennya temenku di grup sebelah”. Padahal pesan itu sudah ribuan kali ter-copy paste persis seperti itu. Temen siapa dan sebelahnya siapa, hingga saat ini masih misteri.

Dari sinilah nampak bahwa kita masih sangat kurang mengutamakan yang bernama Literasi Informasi. Padahal kuliah empat tahun tentu kita diajarkan untuk selalu memiliki dasar/sumber jelas atas teori/dalil/rumus yang kita gunakan. Namun pada prakteknya, informasi bersanad “grup sebelah” pun dengan entengnya kita sebarkan ke grup sebelah lagi. Sabarlah. Kalau memang info itu bukan benar-benar dari relasi yang kamu kenal (atau minimal tahu nama/relasi sumber berita itu dengan temanmu di grup sebelah) jangan langsung sebarkan. Ini tentu bukan pertama kalinya info “dari grup sebelah” tersebar saat terjadi suatu peristiwa. Dulu sebelum jaman group chat, waktu gempa besar di Jogja pun begitu. Sesaat setelah gempa terjadi, berbondong bondong orang berlarian. Yang dari selatan ke utara sambil teriak “Air sudah sampai desa sebelah!!” , dan yang dari utara ke selatan sambil berteriak “Merapi meletus” . Alhasil mereka dipertemukan di tengah kota, dan entah bagaimana akhirnya. Dan juga info-info hoax lain diluar peristiwa semisalKandungan babi pada eskrim mak-tum ” , “jackie chan meninggal dunia”, “udang dan vitamin C”, dan masih banyak lagi informasi dengan literasi yang terdistorsi tersebar luas melalui gawai-gawai kita.

Maka dari itu saya sekaligus mengajak diri saya dan anda sekalian, om tante, pakde budhe. Bagi kita, yang sudah dimudahkeun dengan gawai canggih ini, setidaknya kroscek dulu informasi yang hadir. Alurnya kurang lebih demikian;

flowchart cmiiw
flowchart cmiiw

Semoga bermanfaat. (fn)

Sedikit tambahan mengenai menyebarkan kabar dusta secara tergesa gesa:

Dan dalam sabda Nabi yang shahih :

التأني من الله والعجلة من الشيطان

“Ketenangan/tidak tergesa-gesa dari Allah dan ketergesaan dari syaitan”

Al-Hasan berkata : المسلم وقاف حتى يتبين

“Seorang muslim berhenti hingga ia mencari kejelasan”. Dan diantara bentuk keselamatan yang besar dan keamanan yang sempurna adalah selamatnya seorang muslim dari tenggelam dalam menyebarkan berita-berita dusta dan isu-isu yang tidak benar. [*]

Sumber gambar :

http://japanautomobiles.blogspot.co.id/2009/10/daihatsu-terios-kiri-japan-automobiles.html
http://www.allposters.com/-sp/Hulk-Marvel-Avengers-Assemble-Lifesize-Standup-Posters_i9705912_.htm
http://misaramirez.com/
http://www.gunsandweapons.net/

Sumber lain:

[*] : https://www.firanda.com/index.php/artikel/khutbah-jum-at-masjid-nabawi-terjemahan/691-bahaya-menyebarkan-isu

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s