Ketika Diam (bukan lagi) Emas


Hingar bingar mengenai LGBT ini mulai menyeruak ke media major label ketika semua negara bagian di US melegalkan LGBT secara hukum, bulan Juni tahun 2015 lalu . Kemudian dunia maya ramai dengan warna-warni pelangi yang secara sepihak mereka jadikan simbol untuk mendukung LGBT serta tagar “love wins” . Jadi kasihan sama pelangi yang dijadikan simbol 😦

Kemudian secara perlahan, mulai muncul beberapa kubu di media dalam menanggapi LGBT ini. Kubu pro LGBT yang menganggap LGBT adalah wajar dan patut dilestarikan, kubu netral yang entah tidak menunjukkan sikap terhadap LGBT, serta kubu anti LGBT yang tak lelah menuliskan pesan/nasihat untuk para penderita LGBT. Dan tulisan saya ini sebenarnya lebih ditujukan kepada pembaca yang tidak menderita LGBT namun menganggap kampanye anti LGBT itu berlebihan. Percayalah, tak ada yang berlebihan di dunia ini, kecuali perasaanku padamu, dek.

Dari beberapa tulisan yang saya baca, LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender) adalah suatu kelainan psikis yang terbentuk oleh beberapa faktor. Bagi yang masih menganggap LGBT adalah murni bawaan lahir dari gen kita, saya telah membaca beberapa tulisan, diantaranya tulisan di The Guardian ini. Sepintas membaca judulnya, tulisan tersebut seakan memastikan bahwa gay merupakan sifat manusia yang dibawa sejak lahir. Namun coba lebih berhatihati dan cermat dalam membaca, maka anda menemukan beberapa pernyataan yang menyebutkan bahwa pengaruh gen pada orientasi seksual seseorang sangat kecil, dan ada beberapa faktor luar lain yang berpengaruh yaitu budaya, didikan, serta lingkungan.[1]  Ingat. Dibaca sampai rampung ya, jangan nggantung, cukup status kita saja yang menggantung.

Beberapa kampanye LBGT baik secara terang-terangan maupun tersembunyi (subliminal) pun mulai marak. Diawali dengan peresmian LGBT dan simbol pelangi yang bertebaran di dunia maya, tokoh-tokoh film/serial yang berperilaku Gay/Lesbian, sticker/emoticon menyimpang pada media sosial, dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang mungkin menganggapnya sepele, dan tidak perlu dirisaukan. Namun justru itulah yang diharapkan. Kampanye tersembunyi tersebut menjadi cara mereka untuk menyisipkan subliminal stimuli/subliminal message. Karena salah satu cara mengirimkan pesan ke ‘alam bawah sadar’ manusia, ialah mennampilkan (secara terus menerus) sesuatu hal yang tersembunyi, atau nampak namun penonton/pembaca tidak menyadari hal tersebut. When subliminal stimuli exert an influence on us it’s said to be an unconscious influence, meaning it’s an influence we’re not consciously aware of. [2] . Namun, apakah subliminal stimuli tersebut memang mampu mempengaruhi perilaku kita secara tidak sadar? Menurut Pakdhe Ian Zimmerman Ph.D, bisa. Seperti tulisan beliau di kanal PsychologyToday yang saya kutip : “That said, subliminal stimuli and consciously detectable stimuli could influence our behavior without our knowledge when they’re used right.“.

Itu masih bahaya dari pesan tersembunyi, belum yang terang-terangan. Pesan yang disampaikan secara terang-terangan pun juga mulai bermunculan. Walaupun baru beredar di sekitaran blog maupun sosial media, namun hal ini tetap perlu diwaspadai. Mengingat sekarang kita hidup pada zaman di mana anak kecil pun sudah pandai googling, sampai lagu Bimbo pun saya rasa akan berganti judul ‘Ada anak bertanya pada mbah Google…’

Kembali ke kampanye, jadi sebenarnya kampanye anti LGBT itu marak karena kampanye LGBT yang semakin marak (walaupun sejauh yang saya tahu belum  secara terang-terangan di media mainstream seperti tv nasional, koran, radio). Sehingga jikalau kampanye tersebut dibiarkan, akan menjadi viral, dan hal itu cukup berbahaya untuk kita, terlebih lagi untuk mereka yang masih dibawah umur. Maka, wajar jika memang diperlukan kampanye anti LGBT (yang isinya pemahaman untuk masyarakat tentang kelainan/bahaya LGBT). Baik berupa aksi, iklan layanan, maupun tulisan. Namun hal yang perlu diingat, bahwa pengaruh tulisan/penyampaian opini akan dapat dirasakan apabila cara menyampaikannya memang tepat. Seperti Henry Fonda pada film 12 Angry Men, bagaimana dia bisa mengubah polaritas keputusan 11 juri dengan pendapatnya yang berdasar riset yang sangat mendalam tentang kasus tersebut namun disampaikan dengan tenang dan tegas.
Akhir kata, di saat keadaan sudah seperti ini, saya rasa diam sudah bukan lagi emas. Kecuali diam mu adalah Diam Sastrowardoyo. Ah, mbak Cinta..

Referensi:

[1] Rahman, Qazi Dr. “Gay genes’: science is on the right track, we’re born this way. Let’s deal with it.“.  24 Juli 2015.  https://www.theguardian.com/science/blog/2015/jul/24/gay-genes-science-is-on-the-right-track-were-born-this-way-lets-deal-with-it

[2] Zimmerman, Ian Ph.D. “Subliminal Ads, Unconscious Influence, and Consumption“. 09 Juni 2014. https://www.psychologytoday.com/blog/sold/201406/subliminal-ads-unconscious-influence-and-consumption

Advertisements

One thought on “Ketika Diam (bukan lagi) Emas

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s