Diary Misteri – Teman Kasat Mata


Berawal dari ketertarikan dengan cerita diary mistery yang sedang hits di kaskus, saya jadi terinspirasi untuk menuliskan cerita yang berdasarkan pengalaman saya (walaupun tidak sefrontal cerita agan genta). Entah saya sudah menceritakannya berapa kali namun mungkin ada beberapa hal yang terlewatkan. Dalam kisah ini, tak seperti cerita-cerita pengalaman saya, saya menyamarkan nama beberapa teman saya agar tidak ada yang tersungging. Berikut kisahnya,

Pengalaman ini terjadi pada saat saya masih duduk di bangku kuliah sekitar semester 3 atau 4 (lupa) di Jogja. Saat itu malam hari, saya sedang melakukan rutinitas mahasiswa pada malam hari, bermain game. Hingga tiba-tiba ada benda bergerak sendiri di meja laptop saya. Saya mempause game, dan mencari benda tersebut yang ternyata hape saya yang bergetar. Setelah saya buka, ada pesan masuk berupa ajakan dari teman SMA, sebut saja Shampoo, untuk bermain ke salah satu tempat wisata di gunung kidul. Walaupun Shampoo sebenarnya kuliah di jakarta, namun saya saat itu tidak menaruh curiga. Karang konco dhewe. Dan juga disebutkan meeting point di rumah Juki, padahal setahu saya Juki juga masih menyandang status mahasiswa institut ternama di Bandung. Tanpa mempertanyakan kebenaran info tersebut saya mengiyakan ajakan mereka.

Hari yang ditentukan tiba. Saya bersiap seadanya dan kumpul dulu di tempat burjoan dekat sekolah bertemu teman yang searah untuk kemudian ke rumah Juki. Seingat saya ada Bembi, Sanur, Alfy, dan Dona. Dari keempat orang itu sebenarnya hanya Sanur yang kuliah di jogja, sedangkan Bembi di Solo, Alfy dan Dona di Jakarta. Saya jadi bertanya-tanya ada apakah gorengan sehingga mereka tiba-tiba di Jogja dan mengajak bermain. Namun waktu yang semakin siang mengalihkan rasa penasaran saya, karena kami sudah ditunggu di rumah Juki. Sampai di rumah Juki sudah ada 4 teman lain yang sudah menunggu. Makan sebentar lalu kami berangkat. Saat di piyungan (dekat perempatan) tiba tiba muncul sosok yang cukup mengagetkan kami. Setelah diamati lagi sosok itu teman kami (yang lagi-lagi kuliah di bandung), yaitu Asri. Syukurlah. Kemudian kami menuju ke tempat wisata yaitu sebuah air terjun yang saat itu cukup hits di kalanngan anak-anak MTMA.

Sesampainya di lokasi, kami tetiba disapa oleh teman kami, Udin. Entah sejak kapan dia berada di lokasi, karena seingat saya Udin tidak ikut kumpul di rumah Juki dan tidak disebutkan di sms Shampoo. Sekali lagi saya mengabaikan kejanggalan itu dan mencoba bergembira bersama teman-teman. Tujuan awal kami adalah air terjun, namun tempat yang dikunjungi pertama adalah GOA. Entah kenapa kami tibatiba ingin mengunjungi GOA yang kabarnya sempat digunakan sebagai tempat berunding menyusun rencana. Dan sebenarnya ada salahsatu kejanggalan lagi yaitu ketika Bembi berkata “wah pohon yang ini (pohon yang katanya pemandu berusia ratusan tahun) pasti yang nanem si Asri, soalnya seumuran” DEG . Apakah benar mereka (pohon ini dan Asri) seumuran? Kalau diliatlihat bisa saja sih. Ah tapi mungkin Bembi bercanda, karena memang dia kalau bercanda suka ngasal. Dan saya kembali mengabaikan hal itu.

Selesai berfoto, kami menuju air terjun. Tidak ada kejadian janggal di air terjun itu, kami hanya berfoto bersama (nanti akan saya sertakan HASIL dari foto ini) . Setelah itu kami pulang, dan terlebih dahulu transit di rumah Juki. Entah mengapa saat turun, jalan sangat macet. Sesampainya di rumah Juki, kami ber­leyehleyeh sejenak dan bercanda melepas lelah. Tertawa menceritakan hal-hal lucu selama perjalanan sambil ngemil dan wedangan. Tak terasa sudah semakin senja, dan tibatiba, mak jenggirat, saya seolah-olah terbangun dari mimpi. Entah bagaimana ceritanya saya sudah bersandar di salah satu kursi di rumah Juki dalam keadaan terbangun dari tidur. Dan setelah melihat sekeliling,  RUMAH JUKI SEPI! Padahal barusan saja tempat itu seolah ramai dengan suara tawa teman-teman. Juki pun tak terlihat. Saya mencoba menenangkan diri, minum segelas air yang tersedia. Mencoba memastikan bahwa piknik tadi bukan hanya mimpi, dan saya lakukan dalam keadaan sadar. Melihat pintu rumah Juki yang masih terbuka, saya keluar.Dan ternyata ada Juki di luar. Saya pun menanyakan keberadaan teman-teman,  mengapa tiba-tiba sepi. Jawaban yang disampaikan Juki ternyata mengejutkan saya, dan seakan saya tak percaya.

“Lagiwae do bali ndro, mau pas koe keturon”

WOLHA biangannya. Ternyata teman-teman SMA saya memang kasat mata, namun tipis.

Saya pun segera pamit pulang ke Juki (yang ternyata saat itu sedang liburan panjang antar semester. Pantesan do mulih).

Sekian kisah teman kasat mata dari saya, mohon maaf apabila ada yang tersungging. Jangan lupa berdoa sebelum tidur.

HASIL FOTO BERSAMA :

srii
hasilnya biasa saja, tak ada yang ganjil
Advertisements

2 thoughts on “Diary Misteri – Teman Kasat Mata

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s