Civil War: Bubur Ayam Diaduk vs Bubur Ayam Tidak Diaduk


Bubur ayam adalah bubur yang diberi potongan daging ayam, kacang kedelai, daun bawang, krupuk, (beberapa ada) cakwe, kuah rasa-rasa, kecap, dan topping opsional (sate usus/telur/ati) di atasnya. Akhir-akhir ini menu sarapan saya sering didominasi oleh bubur ayam. Karena tidak terlalu mengenyangkan namun sudah mencakup nutrisi yang dibutuhkan seperti karbohidrat, gula, protein, dan lainnya[2] .

Selain sebagai menu sarapan, bubur ayam juga akhir-akhir kemarin menjadi menu perdebatan, pertikaian yang berpotensi memecah belah perdamaian. Yaitu mengenai cara memakan bubur ayam apakah diaduk terlebih dahulu baru dimakan atau langsung dimakan begitu saja. Sebenarnya mengapa dapat muncul perbedaan ini? Dan mengapa mereka sangat memegang teguh prinsip masing-masing dalam hal diaduk atau tidak? Coba kita simak penjelasan berikut.

buryamtd
gambar bubur ayam lengkap sebelum diaduk

Tidak diaduk

Bagi para pemegang teguh prinsip “Bubur ayam tidak perlu diaduk dulu, langsung dimakan” , mereka menganggap penting penampilan dari sebuah makanan. Beberapa orang memang memiliki selera makan yang dipengaruhi oleh tampilan makanan. Bukannya mengabaikan rasa, justru dengan melihat tampilan bubur yang masih beraturan, menambah selera makan dan juga secara psikis menambah rasa nikmat pada bubur tersebut. Beberapa penelitian, salahsatunya yang dibahas pada laman the guardian ini bahwa tampilan dan penyajian makanan dapat mempengaruhi kenikmatan makan [1]. Dan dengan tidak mengaduk bubur ayam terlebih dahulu dapat membiasakan kita berlaku dengan adil, yaitu ketika menyendok bubur dengan ayam serta kacang sedemikian sehingga pada akhirnya tidak ada bubur yang tertinggal sendirian tanpa lauk.

Diaduk

Sedangkan bagi para pemegang teguh prinsip “Bubur ayam diaduk dulu baru dimakan” , mereka mengabaikan hal-hal yang berkaitan dengan tampilan makanan atau food presentation. Kaum ini termasuk kaum yang tidak terlalu memperhatikan tampilan suatu makanan, khususnya bubur ayam. Bagi mereka makan bubur ayam hanyalah sebagai menunaikan kewajiban mengisi perut tanpa berpikir ndakik-ndakik tentang food presentation atau apalah itu. Mereka juga tak sempat menyendok lauk sedikit-demi sedikit sehinngga memilih mencampuradukkan semuanya secara merata. *tak ada gambar bubur ayam setelah diaduk, karena saya termasuk dalam kubu bubur ayam tidak diaduk*

Dengan penjelasan tersebut nampak bahwa kedua kubu memiliki alasan yang mengakar kuat untuk tetap berpegang teguh pada prinsip masing-masing. Jadi jangan sampai perpecahan umat terjadi hanya karena perbedaan bubur ayam diaduk atau tidak diaduk. Dewasalah dalam menyikapi perbedaan.

*PS: Jangan terlalu serius bacanya, kesehatanmu lho dek.

Referensi :

[1] Davis, N. “Food presented artistically really does taste better”, The Guardian : Food Science, 20 Juni 2014. https://www.theguardian.com/science/2014/jun/20/food-presented-artistically-taste-salad-kandinsky

[2] http://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/bubur-ayam?portionid=5260588&portionamount=1,000

Advertisements

2 thoughts on “Civil War: Bubur Ayam Diaduk vs Bubur Ayam Tidak Diaduk

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s