Tetaplah digugu lan ditiru


Pagi itu diawali dengan matakuliah olahraga. Saya dan teman teman bersiap kumpul di lapangan mengenakan seragam olahraga. Dosen pengampu matkul olahraga di SMP kami memang terkenal tegas disiplin tanpa tedheng aling-aling. Dan sudah hal lumrah apabila tiap pagi kami diperiksa panjang rambutnya. Kebetulan saat itu rambut saya (menurut beliau) sudah melebihi batas panjang rambut siswa putra. Maka tanpa ragu beliau langsung njenggit¹ saya dan memperingatkan agar besok sudah harus potong Apa yang saya lakukan setelah itu? Tidak, saya tidak memfoto dan mengunggahnya di sosmed untuk “mengadu” kepada khalayak warganet. Cerita ke orangtua pun jarang jarang, apalagi lapor ke komnas anak. Beuh. Selomen uripmu.
Reaksi saya kala itu, ya, sudah. Saya cukup mengingat-ingat bahwa harus segera memangkas rambut (maksimal sebelum pelajaran olahraga minggu depan. ehe ehe).  Saya juga nggak begitu mempermasalahkan tindakan itu lhawong beliau punya alasan. Dan mungkin besok nya sudah biasa lagi kalau bertemu dengan Guru tersebut.
Sejatinya (setahu saya), hukuman-hukuman fisik sepele seperti itu sudah banyak diberlakukan sejak generasi dulu (itupun kalau memang benar-benar ngeyel). Setau saya juga, teman-teman saya yang juga pernah dihukum, tidak ada yang begitu mempermasalahkannya. Karena walau bagaimana pun juga, kami tahu kalau kami melanggar. Dan kamipun tahu tugas guru selain menerangkan materi akademis dan memberi nilai rapor (yang kadang dibumbui belas kasihan), ialah mendidik muridnya. Mendidik hal di luar pelajaran akademis semisal kedisiplinan, pendidikan moral, dan softskill lainnya. Karena istilah ‘guru adalah orangtua kedua anak anak‘ bukan hanya sebagai gimmick belaka.

Maka dari itu saya selalu sedih setiap melihat berita seorang wali murid mempidanakan guru yang menghukum (ringan) anaknya yang melanggar aturan.² Berawal dari murid yang membangkang/tak patuh aturan, lalu guru memberi hukuman fisik ringan, kemudian murid melebih-lebihkan dan lapor ke orangtuanya. Nduk, le, hukuman fisik seperti apa sih yang kau wadulkan itu. Lak yo mung nabok, mencubit, njenggit, dan selevelnya kan? Padahal setahu saya (yang juga pernah belajar untuk mengajar anak sekolah waktu KKN), hukuman guru itu nggak ada yang bermaksud jahat sampai membuat muridnya sakit parah. Hukuman itu hanyalah peringatan untuk memberikan efek jera agar supaya kita tidak mengulangi kesalahan. Dan peringatan semacam itu adalah suatu bentuk model didikan dari beliau. Lagipula hukuman fisik itu masih menandakan ada sekelumit rasa sayang dari guru kepada muridnya. Karena puncak kemarahan yang sesungguhnya, adalah diam dan abai. Itu jauh lebih menyakitkan. Percayalah.
Maka mulai saat ini, untuk para murid, coba kalian lebih berfikir akan tindakan, dan sebab akibat. Bahwa tujuan kita sekolah itu bukan sekadar mencari ilmu akademis (karena kalau sebatas ilmu akademis, tak perlu lah bayar SPP, cukup langganan Internet dan belajar semua dari berbagai sumber di internet) melainkan juga pendidikan karakter.  Pendidikan karakter itu harus kita alami langsung dengan bimbingan orangtua kedua kita (yaitu guru). Sehingga wajarlah ketika beliau mendidik kita melalui hukuman/teguran jika kita memang salah.
Dan untuk para guru, para pendidik di manapun kau berada, tetaplah menjadi sosok pendidik yang digugu lan ditiru. Tetaplah mendidik anak didikmu dengan cara terbaikmu. Tetap semangat. Kalau boleh meminjam slogan sleman fans :

“Bapak/Ibu guru, aku ning mburimu caket!”

 

¹ njenggit adalah menarik ke atas rambut di sebelah telinga

² contoh kasus : http://sangpencerah.id/2017/07/guru-agama-di-parepare-dipidana-karena-perintahkan-shalat/

Advertisements

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s