Having Sense of Humor

If other day I’ve written summary of the ‘hard-skill’ presentation, this time i’ll post a summary about my ‘softskill’ presentation. It was a nice Sunday when an idea suddenly crossed to my mind about picking this topic for my softskill discussion. Having Sense of Humour. I think it’s one of the communication skill. So I wa googling for an article and found this . And just a day before the discussion I was asking my friend if there any other reference about this topic. (Even I got the scientific paper about this. Thanks!). Then I wrote down my materials. And this is our discussion session about Sense of Humour.
Firstly, we all agreed that instead of Inbred skills, Sense of Humour is a skill that can be learnt. It’s part of self development and learning. It also can be shaped by our environment, culture, and etc. The article said that having a good sense of humour is like friendliness, it’s the great oilers of the wheel of social interactions
Then I asked everyone’s opinion about the benefits of having sense of humour. Pak Waw said it can be easier for us to get friends. Nova said it can help us getting attention from people around us. Grand said it can be a good ice breaker. Tommy said it can be good for ‘flirting’ (what’s flirting, i don’t even know this term ). Pak Sanj said it can help us to decompress stress, and Sara said it can reduce depression (then she explain that depression is something difference with stress. Both can occured to you at once). And then from the article said that humour can make criticism more palatable. It also one of the strongest bases for lasting friendship. And since humour is related to laugh, some research show that laughter has been shown to benefit our circulation, lungs, and muscle.
But humour will be good in an exact portion. Not too much, neither too little. Aristotle describe the people who push jokes too far as Buffoons (or Crude, Coarse). They often offend others. And the people who has lack of sense of humour are described as Boorish. They’re oversensitive to others, avoid giving offend to others.
Humour is also about the context. We should aware the situation because not all jokes are the same. For example jokes A might be fine in workplace but not in the dining room, vice versa. There’re four points we should aware of:
Object : the target or object of our jokes (even if the object are not always human). Will they be offended with our jokes?
Strength : strength of feeling will this jokes arouse. Is it good?
People : the audience. Will there be any of them who’ll getting offend with our jokes?
Occassion : Is it really the time & place to give a joke?
From those term we could say that good sense of humour is an adaptive ones. And the term that crossed to my mind was “Adaptive tuning sense of humour” .
And the last but not least, don’t be hesitate to apologize if your jokes cause offense to others. Your apology migh not be immediatly accepted, but at least it will be remembered or excused.
I think that’s all. Thanks.
*Sorry for my English.
*bonus : a chessy (Indonesan caled garing) jokes from Sara (or she called it “my grandpa jokes”)*

A duck walks into a bar and asks, “Got any grapes?”
The bartender, confused, tells the duck no. The duck thanks him and leaves.
The next day, the duck returns and asks, “Got any grapes?”
Again, the bartender tells him, “No — the bar does not serve grapes, has never served grapes and, furthermore, will never serve grapes.” The duck thanks him and leaves.
The next day, the duck returns, but before he can say anything, the bartender yells, “Listen, duck! This is a bar! We do not serve grapes! If you ask for grapes again, I will nail your stupid duck beak to the bar!”
The duck is silent for a moment, and then asks, “Got any nails?”
Confused, the bartender says no.
“Good!” says the duck. “Got any grapes?”

Jenis Tempat Makan yang Laris

Waktu selo di weekend malam sehabis hujan ini akan saya isi dengan mengulas tentang tempat makan. Seperti pelajaran jaman sekolah kemarin, Pangan adalah salah satu dari tiga unsur kebutuhan primer manusia (sekarang kabarnya menjadi empat, dengan bertambahnya jaringan internet). Tak heran apabila bisnis/usaha makan-memakan tak pernah padam di belantika wirausaha nusantara. Dan pada zaman “mau makan apa? googling dulu deh” ini pun saya mengamati, terdapat beberapa jenis warung makan yang laris pengunjung. Pengamatan ini tak hanya di Jogja (walaupun hampir semua yang saya sebut jogja) karena saya sudah lama tak mengikuti perkembangan jajanan di kota sejuta kuliner ribuan.

Jenis pertama, tempat makan laris adalah tempat makan legendaris.

legend

Tak terbantahkan dong. Sudah sejak dahulu kala. Jauh sebelum ditemukannya media sosial. Ciri khas yang biasanya ada ialah foto mbah-mbah punggawa awal didirikannya warung itu, kemudian tempat makan yang seadanya namun mengajarkan kita apa artinya kenyamanan, kesempurnaan, ketertiban, dan kekenyangan, dan juga peralatan memasak yang masih otentik semisal tungku, gerabah, dsb. Tembok/dinding tempat makan yang  dihiasi hitam asap arang berkesan vintage namun alami. Beberapa contohnya ialah Gudeg pawon Janturan, Bakmi mbah mo mbantul, mangut lele Mbah Marto, ayam goreng Mbah Cemplung, dsb. Biasanya lagi, walau tempat tak begitu luas dan kadang mblusuk, namun tak jarang dijumpai mobil-mobil pengunjung parkir di sekitarnya. Menandakan bahwa makanan tersebut memang masuk ke segala kalangan.

Jenis kedua, tempat makan laris adalah tempat makan unik.

unik

dengan menganut salah satu prisnip dalam bertahan di dunia bisnis yaitu INOVASI, maka banyak bermunculan tempat makan unik nan kekinian. Keunikan bisa terdapat pada tempatnya, nama menunya, maupun makanannya. Ditambah dengan marketing yang mantap melalui sosmed, maka tempat makanan unik tersebut tak luput dari penjajak kuliner kekinian. Beberapa makanan yang menurut saya unik diantaranya adalah Rumah makan konsep penjara , konsep rumah sakit , es krim pot , moci eskrim , dan masih banyak lagi. Banyak yang berhasil mempertahankan (dan meningkatkan) konsumennya, namun ada pula yang hanya laris sesaat. Konsumen kebanyakan berupa remaja dan bapak/ibu yang belum terlalu tua yang masih memiliki rasa penasaran besar.

Jenis ketiga, tempat makan laris adalah tempat makan dengan tempat/pemandangan indah.

igabl

tak dapat dipungkiri lagi bahwa selain memenuhi kebutuhan jasmani akan asupan pangan, salahsatu/salahdua alasan masyarakat mencari tempat makan ialah memenuhi kebutuhan piknik atau refreshing. Juga kebutuhan akan posting gambar/foto selfi dengan background hits nan kekinian. Beberapa pengusaha cukup jeli memanfaatkan fenomena ini. Dan bahkan memang ada yang sengaja menata tempat makannya agar bisa dijadikan tempat foto prewed, foto buku kenangan, atau tempat resepsi pernikahan. Beberapa tempat makan yang menurut saya masuk kategori ini ialah Lemongrass Bogor, Secret Garden Jogja, Kebun teh ndoro donker, Nicole’s kitchen Bogor, dsb. Konsumen di sini juga beragam, dari anak muda sampai keluarga lengkap.

Kemudian jenis terakhir, tempat makan laris adalah tempat makan langganan/enak/murah

daily

Jenis ini sengaja saya jadikan satu karena parameter langganan , enak , dan murah setiap orang bervariasi nan subjektif. Misal saya, tempat makan di kategori ini ada bakmi jawa (ngasem, sabarmenanti, dan dekat rumah), mi ayam (tumini, sendowo, pak kliwon) ketoprak (lik min, cirebon), gudeg bu pardi, soto (bu cip, tamansari, pak soleh), ayam bakar/goreng (mas pri, kadipiro) angkringan (alkid, siswagraha, lik harjo, cuprek), “sate kere”, warung kopi, daaaan masih buanyak lagi. Saya juga yakin anda punya list banyak untuk kategori ini.

Jadi, dari kesekian tempat makan di atas, kamu mau makan di mana? yuk ku temenin

*sumber gambar:

http://jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/bakmi-jawa4.jpg..
http://yukplesir.com/wp-content/uploads/2016/01/YPGP3.jpg..
http://bantulmedia.com/wp-content/uploads/2015/05/mangut-lele-mbah-marto.jpg..
http://thefoodescape.com/wp-content/uploads/2014/03/DSCF8111.jpg..
http://hellobogor.com/wp-content/uploads/2015/07/IMG_0842.jpg..
http://blog.jamesadhitthana.com/wp-content/uploads/2016/01/JamesAdhitthana-SG2.jpg..
http://www.vitanona.com/wp-content/uploads/2015/11/Resep-Desert-Mochi-Ice-Cream-Kekinian.jpg..
http://damarsaloka.com/wp-content/uploads/2013/12/SAM_2019.jpg..
http://2.bp.blogspot.com/-W0hcBgDRv_U/U-hGrCWx5SI/AAAAAAAADj0/RTj1MHqx1zE/s1600/soto+pak+sholeh.jpg..

Belajar dari Ketoprak Cirebon

Ketoprak merupakan salah satu warisan kuliner favorit di Indonesia, khususon di Pulau Jawa. Dulu waktu kuliah, langganan saya dan rekan-rekan kampus ialah Ketoprak Lik Min yang terletak persis di sebelah SD di Sendowo. Kemudian sekarang, saat saya sedang menjalani misi di Tangerang, ternyata malah semakin banyak penjual ketoprak yang ada di sekitar tempat kos. Dan langganan saya ialah ketoprak cirebon yang hanya berjarak sekian langkah dari kos. Pernah sih nyobain ketoprak lain yang lebih jauh, namun tetap ketoprak cirebon ini yang paling pas. Selain rasa yang konsisten, bumbu yang mantap, jarak yang dekat pun menjadi alasan saya memilih ketoprak ini. Bahkan mas-mas delivery McD pun memilih berhenti di sini untuk mampir makan.

Beberapa bulan berlangganan ketoprak di sini, ada satu pelajaran moral yang dapat saya ambil. Ialah mengenai ekspektasi. Sejak awal saya selalu pesan ketoprak dengan level “sedang”. Bukannya takut pedas, saya hanya males kalau nanti tengah malam harus setor tunai terlalu dini karena efek kepedesan. Hingga pernah suatu ketika, saat saya pesan ketoprak level sedang dengan berekspektasi rasa pedas yang tak berlebih, ternyata rasanya malah terlalu pedas. Sudah beberapa kali terulang sampai saya harus menegaskan bahwa ‘sedang berarti cabe nya dikit’ kepada mas penjual ketoprak.

Pernah juga pada suatu hari, ketika saya sedang ingin merasakan nikmatnya makan pedas, saya pesan ketoprak dengan level pedas. Namun apadaya, sejak suapan pertama (sampai terakhir) ternyata rasa pedasnya malah sedang-sedang saja. Bahkan masih kalah pedas dengan chat di whatsapp yang hanya centang dua biru tanpa balasan. (Maaf, jangan tersungging, ini berdasar pengalaman teman. Kecuali anda teman saya yang saya maksud, ya maaf.)

Dari sini saya belajar, bahwa jangan terlalu berlebihan dalam ekspektasi. Seperti kata Ika natassaIt’s even said that expectation is the root of all dissapointment. ” , dan ditambah lagu Kunto Aji “mana mungkin hari ini terbuai ekspektasi tinggi jika tak berawal indah sampai akhirnya kau hancurkaan. Saaaakit..” .

Kalau kata saya sih,

“Berhati hatilah dalam berekspektasi, terlebih lagi mengenai hati”.

Klasifikasi angkot

Tak bisa dipungkiri, pada beberapa wilayah di Indonesia, angkutan kota (angkot) menjadi primadona transportasi umum para warga. Seperti dulu waktu di Bandung, serta sekarang waktu di Tangerang, ke mana-mana naik angkot masih terjangkau daerahnya. Dan penumpang pun tak hanya didominasi kaum ibu-ibu ke pasar maupun anak sekolah. Para karyawan perkantoran, mahasiswa kampus ternama pun banyak yang memanfaatkan angkot sebagai sarana transportasi menuju kantor, kampus, maupun sekedar hangout di mall.

Beberapa bulan tinggal di Tangerang (dan sesekali main ke Jakarta) ini, saya menemukan beberapa jenis angkot, yang dapat saya klasifikasikan sebagai berikut:

1. Angkot biasa

dsc03531
angkot biasa

adalah angkot yang biasa. Kondisi mobil biasa, interior juga normal-normal saja. Pengemudi biasanya orang lokal. Angkot ini merupakan salah satu angkot yang lumayan nyaman untuk penumpang.

2. Angkot veteran

angkot-3-e1414673847442
angkot biasa

adalah angkot yang sepertinya sudah ada sejak perang mahabarata. Nampak luar, cat sudah mengelupas, dan beberapa bagian malah sudah berkarat. Nampak dalam kursi sudah agak sobek, serta busa kursi yang bahkan kalah tebal sama yang bersayap. Juga biasanya berkarat di beberapa spot. Beberapa angkot veteran mengeluarkan bunyi kemlothak seakan ada baut yang mau lepas, walaupun jalanan halus. Sedang kalau dilihat asap knalpot sudah sangat pekat. Akan lebih lengkap lagi pabila ada ibu-ibu membawa ikan asin dua baskom. Sensasinya tak tergambarkan.

3. Angkot Mulus

AngkotC01
angkot biasa

adalah angkot yang masih mulus seperti dedek JKT48 . Nampak luar cat masih baru, masih mulus. Entah armadanya emang baru, atau memang sangat terawat. Nampak dalam pun demikian, kursi dengan busa yang masih empuk, dan jendela masih dapat dibuka-tutup.

3. Angkot Kustom:

a. Angkot Kustom Bob Marley:

Uniknya Modifikasi Angkot di Kota Padang
angkot rastafaria

adalah jenis angkot kustom yang berkiblat pada penyanyi reggae asal jamaika. Cat mobil diberi nuansa warna bendera rastafari (Hijau – Kuming – Merah). Namun demikian cat itu hanya sedikit entah di beberapa spot, karena mereka tetap harus menonjolkan warna identitas angkot masing-masing agar tak membingungkan calon penumpang. Audio dengan bass subwoofer wajib terpasang, dengan playlist lagu-lagu reggae. Bahkan rasanya shock mobil akan mentul-mentul mengikuti bit musik reggae.

b. Angkot Kustom Dangdut

tumblr_nib95pcNfF1qbjd7uo1_500
angkot biasa

sebenarnya angkot biasa, namun dengan audio yang menggema (beberapa bahkan terdengar sangat keras dari kamar kos tiap angkot itu lewat). Dan kadang terpasang LCD 18” di belakang untuk memutar videoklip lagu-lagu dangdut.

c. Angkot galak

image0248

merupakan jenis angkot modif dengan asesoris dalam yang didesain sebisa mungkin menyerupai sebuah bar. Di bagian belakang terpajang beberapa botol wedang galak* ternama sekelas JD, JW, Chivas Regal, dan kawannya. Entah isinya bensin eceran, minyak jlantah, madu, atau apapun itu saya belum mengkonfirmasi. Selain interior, biasanya berbagai jenis asesoris disematkan pada bagian luar mobil mereka entah bumper depan tambahan, garnish, atau apapun itu jenisnya. Dan juga biasanya angkot kustom jenis ini juga dilengkapi audio set yang menggelegar.

Meski ada beberapa jenis, sepengamatan saya, penumpang tak begitu memilih jenis angkot yang dinaiki. Mereka lebih memperhatikan jumlah penumpang dalam angkot, sudah penuh berhimpit, atau masih ada ruang selo untuk duduk. Karena kebanyakan sopir berteriak masih kosong , masuk pak/bu, masih kosong , sementara isinya sudah penuh.

Demikian pemaparan saya tentang jenis-jenis angkot. Setelah beberapa bulan tinggal di Tangerang (tanpa membawa kendaraan pribadi) , dan memanfaatkan angkot sebagai salah satu transportasi utama (yang akhir-akhir ini mulai tergeserkan oleh ojek online ). Jika ada yang menemui jenis angkot lain dapat ditambahkan.

Sumber gambar:

http://s1081.photobucket.com/user/ekranoplane/media/AngkotC01.jpg.html

http://www.bekasibusiness.com/2014/10/30/2015-ratusan-angkutan-umum-di-bekasi-dimusnahkan/

http://www.pelangiholiday.com/2014/03/uniknya-modifikasi-angkot-kota-padang.html

https://danummurik.wordpress.com/2010/10/12/surat-dari-padang-1/

http://infobdg.tumblr.com/post/108329638246/angkot-kebon-kalapa-ledeng-bandung-keren

http://www.sewarga.com/wp-content/uploads/2015/11/dsc03531.jpg

[*] wedang galak adalah istilah dalam bahasa jawa untuk menyebut minuman keras

 

Kala Menikah, Apa yang Kau Cari?

“maka pernikahan ideal itu lebih pas disebut sebagai pernikahan barakah. Apa itu barakah? Barakah menurut salah seorang ulama adalah ziyaadatul khair, bertambahnya kebaikan-kebaikan.”

Secuil Gagasan

Oleh : Shibghotullah Syubbanur Robbani

Sering kali terdengar ungkapan do’a ketika kita mendapati acara pernikahan atau memperoleh kabar bahwa saudara kita seiman baru saja melangsungkan pernikahan. Do’a tersebut kurang lebih berisi harapan semoga keluarga mempelai menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah (SAMARA). Apakah do’a tersebut salah? Tentu tidak, karena ungkapan kata tersebut juga terdapat dalam Al-Qur`an, yaitu dalam Surah Ar-Ruum ayat 21. Tetapi apakah tiga hal tadi merupakan sesuatu yang kita cari dan cita-citakan dalam pernikahan? Mari bersama kita menyimak ayatnya serta makna sakinah, mawaddah, wa rahmah sesuai apa yang ditafsirkan olah para mufassir.

Wa min aayaatihii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmatan. Inna fii dzaalika la`aayaatin liqaumin yatafakkaruun.
Ar-Ruum: 21

Dan dari tanda-tanda kebesaranNya, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa cinta dan kasih. Sesungguhnya pada yang demikian itu…

View original post 1,425 more words

Kumpul kreavi #11 : Digital Art Ecosystem

Kumpul kreavi ke 11 ini diadakan di Jogja, bertempat di Jogja Gallery. Bertepatan dengan pameran seni yang diadakan oleh kreavi bersama jogjaforce dan fabula yang bertajuk RUPANADA : Melihat dengan hati, mendengar dengan mata. Pameran tersebut merupakan pameran karya seni digital dengan tema visualisasi lagu-lagu daerah seluruh nusantara. Pembicara dari kumpul kreavi #11 ini merupakan perwakilan seniman yang memajang karya seni pada pameran tersebut, yaitu Ipung, Dhanank Pembayun, Amenth THMD, Ade, serta senior desain grafis, mas bodot, dan pelaku industri seni digital, mbak mayumi. Diawali pembukaan oleh mas Benny (kreavi) yang kemudian dilanjutkan satu per satu seniman yang menjelaskan deskripsi karya mereka.

animo peserta tumpe tumpe
animo peserta tumpe tumpe
bergantian narsum memaparkan materi kreatif
bergantian narsum memaparkan materi kreatif

Diawali oleh mas amenth, lagu yang divisualisasikan ialah Jaran Teji. (Jaranan jaranan jarane jaran teji.. dst.) Baginya, jaran teji berarti kuda yang gagah, kuat, menggambarkan pemimpin yang dipatuhi oleh rakyatnya. Lanjut kemudian mas Dhanank. Dengan memilih lagu kidang talun, dhanank memandang lagu itu sebagai sebuah anomali dimana kijang yang sudah termodifikasi oleh manusia. Kemudian mas ipung yang memvisualisasikan lagu tak lelo lelo lelo ledung yang memiliki arti : love, courious, hope. Mengenai betapa penting peran orang tua dalam mendidik anak. Lalu ada mas .. yang menggambarkan keceriaan dari lagu kicir-kicir dalam sebuah karya digital. Lalu ada mas Ade yang memilih menggunakan teknologi sebagai medianya. Menggunakan arduino, sensor jarak, dan sensor suara, mas ade memvisualisasikan lagu rasa sayange dengan berbagai jenis karakter dengan ratusan kombinasi warna yang berubah sesuai suara yang diterima.
Setelah itu dilanjutkan oleh mas bodot, yang menceritakan sejarah desain grafis nasional. Kemudian diakhiri oleh mbak mayumi yang memaparkan ekosistem seni digital ditinjau dari dunia industri.
Setelah semua pembicara mengutarakan materi masing-masing, diadakan sesi tanya jawab. Untuk sesi ini kebetulan saya hanya mengingat beberapa.

seluruh narasumber berpose dengan kaos kreavi
seluruh narasumber berpose dengan kaos kreavi

Q: Seberapa perlu kemampuan ilustrasi manual jika ingin menjadi seorang desain grafis?
A1 : bagi saya itu penting mbak, sangat penting. Karena memang basic saya di ilustrasi manual, dan software pengolah grafis di komputer digunakan untuk finishing.
A2 : itu tergantung fungsi. Analoginya, jika anda membuat es ‘teh’, apakah anda perlu ember? Jadi semua kembali ke fungsi dan kebutuhan. Mikir,

Q: Saya bukan/belum bisa disebut sebagai desainer grafis, saya hanya sebagai penikmat desain grafis. Dan selama 3-4 tahun terakhir ini saya berada di lingkungan yang mempelajari dunia elektronika, melihat karya mas Ade tadi saya jadi bertanya-tanya, bagaimana peluang seni digital dengan media teknologi pada dunia industri nasional?
A: Itu peluangnya untuk sekarang masih belum begitu besar. Namun memang hal seperti itu belum banyak yang mengembangkan. Ketika nanti teknologi tersebut sudah terjangkau (harganya .red) di Indonesia, maka prospeknya pasti ada.

Sekian liputan kumpul kreavi #11, mohon maaf karena tidak mencatat dan materi sangat melimpah maka banyak yang tidak dapat dituangkan di tulisan ini. Untuk menikmati karya-karya seniman digital, silakan mengunjungi Jogja Gallery (pameran dibuka sampai 8 Mei), atau kunjungi di rupanada

diantara orang-orang kreatif pada kumpul kreavi #11
diantara orang-orang kreatif pada kumpul kreavi #11

Pitpitan #5 : This is (not) the end!

“kalibiru wae ndro, mung 38 kilo, borobudur wingi 40 kilo pada kuat to?!”

Berawal dari ide Iqro tersebut, kami memutuskan untuk gowes ke kalibiru. Buat yang belum tahu, Kalibiru merupakan desa wisata di Kokap, Hargowilis, Kulon Progo. Kalibiru terletak di utara atas waduk sermo. Atas? Ya, kalibiru merupakan daerah dataran tinggi, banyak yang menyebutnya Puncak Kalibiru. Googling kesana kemari, kami menemukan pemandangan luarbiasa yang dapat dinikmati dari puncak kalibiru tersebut. Semakin bersemangat, kami segera mengajak teman-teman lain untuk bergabung. Hingga H-1 ada 9 orang yang konfirmasi untuk bergabung. Ada beberapa wajah lama seperti Miftah, Adit (tuo), Iqro, Makin, Rio obeng, dan saya sendiri, serta ada pendatang baru yaitu Adit si kenyot, Deni pesepeda ulung asal Kebumen, dan Kiki adik sepupu saya. Setelah meminta pendapat Fardani (anak KKN KulonProgo) kami memutuskan melalui rute jalan Godean – Nanggulan, katanya daripada lewat Jalan Wates, rute ini lebih dekat. Katanya! Janjian ketemu di indomaret jalan godean jam 6, namun karena berbagai alasan akhirnya berangkat dari indomaret jam 07.30, ngaret pol!.

meeting point #2 : indomaret jalan godean
meeting point #2 : indomaret jalan godean

Rutenya simpel sebenernya, jalan godean teruuus ke barat sampai ketemu perempatan nanggulan/kenteng, belok kiri. Dan Namun di tengah jalan, sebelum perempatan nanggulan, ada petunjuk arah bertuliskan “<- SERMO 1.2 km” (sermo belok kiri 1,2 kilometer). Di sanalah iman kami goyah. Kami bertanya ke warga di sekitar dan katanya

sermo 1.2 km!
sermo 1.2 km!

oh iya mas, kalo ke sermo belok kiri di situ tadi”.

Tanpa peduli dengan perempatan Nanggulan kami belok kiri sesuai petunjuk warga tersebut. Baru 1 km, saya melihat tulisan “Dusun Sermo” di gapura. Padahal itu masih daerah sleman. Duh firasatku ra enak. Benar saja, ternyata Sermo yang dimaksud warga dan petunjuk arah tadi ialah DUSUN Sermo, bukan Waduk Sermo. Keanehan pertama. Pertanda.

Kami pun berhenti di sebuah perempatan desa itu, dan bertanya ke warga arah waduk sermo. Dari beberapa warga yang ada,kami diarahkan ke 3 jalan berbeda. Ada yang menyuruh kembali ke jalan godean (utara) dan terus ke barat sampai ketemu nanggulan (seperti rute awal), ada yang terus ke barat, dan nanti tembusnya juga ke jalan godean, dan ada bapak-bapak yang agak unik menyarankan kami ke timur lewat jalan wates – Pengasih – Hargowilis . Setelah berembug, kami mengikuti saran untuk terus ke barat (walaupun ibu-ibu itu sudah memperingatkan mengenai medan yang naik-turun) Ketika mendekati nanggulan, hujan turun lumayan lebat. Kami memutuskan berteduh sejenak di tempat istirahat para petani. Tak lama kemudian, hujan reda, kami segera meneruskan perjalanan. Ternyata benar kata warga tadi, lewat rute ini, jalannya naik turun. Bukan tanjakan biasa, tanjakannya memang tidak curam sekali namun panjang dan bertubi-tubi. Iqro dan Deni yang tak kenal lelah melaju jauh mendahului. Disusul Bos adit yang masih menahan kecepatannya. Dibelakangnya ada Adit kenyot yang cepat di jalan rata namun menuntun di tanjakan. Disusul saya yang masih menjunjung tinggi idealisme dengan tidak turun menuntun sepeda, walaupun tidak secepat Iqro dan Deni. Kemudian rombongan belakang ada Rio obeng, Kiki, dan Makin yang menghemat energi dengan menuntun sepeda dan Mifah yang menemani dan sebagai camera-man. Beberapa saat kemudian saat semua berhenti untuk istirahat minum kami memutuskan kembali bertanya ke warga arah ke waduk sermo.

leren sik
leren sik
berteduh. hujan
berteduh. hujan
setelah 'dibantai' tanjakan panjang
setelah ‘dibantai’ tanjakan panjang

Benar mas lewat sini, satu kilo nanti jalannya masih bagus, terus habis itu jalannya jelek mas, batu-batu. Jalan jeleknya cuma sekitar satu kilo, habis itu jalan besar arah waduk sermo”

Berbekal petunjuk tersebut, kami meneruskan perjalanan. Rupanya, perkataan mengenai satu kilo lagi jalannya jelek memang benar. 1 km dari tempat kami bertanya, kami memasuki jalanan pedesaan, bahkan seperti hutan (kanan kiri pohon lebat, rumah jarang) dan jalannya, berbatu dan menanjak! Bahkan Iqro dan Deni pun menyerah, memilih menuntun sepeda ketika jalanan di hutan itu menanjak. Sekitar 1 km, Iqro, Deni dan Saya berhasil keluar dari hutan itu. Dan langsung menemukan tulisan “Selamat datang di kawasan wisata waduk sermo” juga plang kecil bertuliskan “Kalibiru 3 km → ” Hal itu lumayan menambah semangat kami. Demi menunggu rombongan yang tertinggal, kami beristirahat sejenak. Sekitar 10 menit kemudian Nampak rombongan sudah sampai di tempat kami istirahat, dan langsung kami meneruskan perjalanan. 500 meter dari sana kami langsung disuguhkan panorama waduk sermo yang luar biasa. Danau buatan ini tampak sangat menawan dengan pepohonan rimbun yang mengelilingi. Namun tujuan kami bukan disini. Kami lanjut bersepeda menuju kalibiru. Sampai di depan gang masuk kawasan wisata kalibiru, kami memutuskan beristirahat makan siang di warung mie ayam waduk sermo. Rasanya mantap, dengan kuah kari, porsi yang lumayan dan harga murah meriah (mie ayam+es jeruk = 7.000) cukup mengganjal perut kami.

pitstop #1
pitstop #1
waduk serrrrmoo!
waduk serrrrmoo!

Puas makan siang, kami mulai naik ke arah kalibiru, dengan sebelumnya mampir dulu di masjid karena sudah memasuki waktu sholat dzuhur. Ternyata seusai sholat kami terlalu lelah untuk melanjutkan, dan memilih tidur sejenak di masjid. Setengah jam kemudian bos adit membangunkan kami, dan mengajak naik ke puncak. Dengan malas-malasan kami bangun dan melanjutkan perjalanan ke puncak. Rupanya tanjakan ke puncak kalibiru sangat kejam dan bertubi-tubi. Hingga akhirnya kami sampai ke titik maksimal dari kemampuan kami. (Iqro padahal sempat naik lagi ke atas, nyaris mendekati puncak, namun karena kami sudah menyerah diapun turun lagi).

teknik baru. innefective!
teknik baru. innefective!
l e m p o h
l e m p o h
di plang KKN-UGM 2013, di depan tanjakan-hampir-tegaklurus
di plang KKN-UGM 2013, di depan tanjakan-hampir-tegaklurus

Perjalanan turun pun tidak semulus perkiraan. Tak seperti turun dari mangunan, turunan di sini lebih berbahaya karena curam, berkelok-kelok, dan sempit. Praktis kampas rem sepeda saya langsung menipis. Sangat tipis. Sebelum pulang kami kembali mampir masjid, serta warung mie ayam tadi untuk sekedar minum teh panas gula batu.

Setelah itu kami pulang. Bertanya ke penjaga warung, kami disarankan untuk melewati jalan berbeda dengan mengelilingi waduk sermo, langsung tembus wates. Ternyata waduk sermo sangat luas, dan berkelok-kelok. 7 kilometer sudah kami tempuh namun belum setengah putaran. Hari semakin sore, dan turun hujan semakin lebat. Kami berhenti sejenak untuk bertanya ke warga, disarankan untuk mengambil jalan keatas (tidak meneruskan mengitari waduk yang katanya kelilingnya 25 kilometer!), untuk langsung tembus jalan propinsi menuju wates. Sempat kami berhenti karena kaki rio obeng kram. Memang luar biasa perjalanan ini.

hidup ini keras, bro
hidup ini keras, bro

Jalan ternyata tak semudah perkiraan. Hujan deras, dan jalan licin terasa mengerikan. Iqro dan Deni melesat cepat mendahului yang lain. Dibelakangnya ada miftah dan saya, namun karena kaki yang semakin lelah, kayuhan sepeda tak maksimal, saya tertinggal. Praktis miftah dan saya secara terpisah sendirian melewati jalan itu. Jalan yang awalnya terang, semakin lama semakin gelap, dan ternyata melintasi hutan. Kiri-kanan jalan berupa jurang pepohonan dengan lampu yang hanya remang-remang, jalanan turun dengan belokan yang tidak terlihat. Sendirian melintasi jalan itu, bersepeda tanpa lampu, dan kampas rem yang menipis, serem! Hingga akhirnya saya sampai di perempatan jalan besar, berkumpul dengan Iqro, Deni, dan Miftah. Kami berteduh sembari menunggu rombongan yang lain. Hingga tetiba makin telpon

Ndro, tunggu yo, ki alon-alon soale rem pit e kenyot wes ra makan. Mau meh tibo”.

Semakin menegangkan saja suasana nya, ditambah hari semakin malam, jam menunjukkan pukul 18.12, dan kami belum juga meneruskan perjalanan. 5 menit kemudian rombongan datang. Sebelum meneruskan perjalanan kami menyiapkan segala sesuatu. Mengatur formasi, menggunakan 2 hape sebagai senter.

Di tengah jalan, sangat gelap. Dengan senter (flashlight .red) dari hape miftah pun jarak pandang hanya 3-5 meter. Kami pun saling berteriak untuk berkomunikasi

Awas motor, minggir, minggir!”

*ting ting ting ting* (bunyi bel sepeda, sebagai penanda lokasi dan biar kendaraan lain tahu kalo ada rombongan sepeda tanpa lampu di sini)

Di depan turunan, ati-ati, jaga jarak!”

*ting ting ting ting*

Awas, depan belok kiri!”

*ting ting ting ting*

Lapor, belakang jaraknya kejauhan, pelan-pelan!”

*ting ting ting ting*

Menegangkan. Tapi seru. Semacam di film-film thriller.

Alhamdulillah, 15 menit kemudian kami menemukan masjid. Berhenti untuk sholat maghrib dan istirahat sekalian menunggu waktu isya. Berbincang dengan pemuda desa, ternyata desa itu merupakan salahsatu spot KKN PPM UGM 13, unit KP -X. Usai sholat isya kami melanjutkan perjalanan. Menurut keterangan pemuda tadi, 4Km dari masjid kami sudah mencapai Wates kota. Tinggal 4Km lagi kami menuju peradaban! Semakin lama, penerangan semakin ada, dan hujan semakin reda. Dan akhirnya, wates kota! Jam 9 malam kami mulai sangat kelaparan. Berhenti sejenak di warung penyet di sekitaran alun-alun wates. Selesai malam kami langsung melanjutkan perjalanan mengingat malam semakin larut. Baru jam 10 malam, kami sampai di Jalan Wates Km. 18! Ya, masih 18 Km lagi menuju jalan wates km. 0. Sisa tenaga kami kerahkan, kaki kami paksa terus mengayuh tak peduli dinginnya malam. Jalanan besar bukan berarti rata, masih ada tanjakan-tanjakan namun bayangan akan kasur, sekali lagi menjadi motivasi terbesar kami.

penyetan, di alun-alun kota wates
penyetan, di alun-alun kota wates

Sekitar pukul 11:30 malam, saya tiba di rumah. Alhamdulillah. Bakmi jawa rebus dan beberapa lembar salonpas mengakhiri ekspedisi sepeda 103 KM (menurut speedometer bos adit) saya hari ini.

Sampai jumpa, di pitpitan sekuel berikutnya!

Video #pitpitanbro :

When art meets quote #2 : Filosofi Kopi

“Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan” , Dee – Filosofi Kopi

Kumpulan prosa hasil karya Dee dengan judul “Filosofi Kopi”, memang istimewa. Prosa yang ada di buku ini, ditulis dari mulai tahun 1995 – 2005. Dan Dee membuktikan bahwa prosa-nya tidak lekang oleh waktu. Berikut, salah satu kutipan dari salah satu cerita favorit saya : Filosofi Kopi.

filosofi dari sebuah kopi
filosofi dari sebuah kopi
wallpaper, resolusi notebook standar : 1366 x 768
wallpaper, resolusi notebook standar : 1366 x 768

 

Pergi ke Barat (Go West)

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Rabu tanggal 30-01-2013, saya dan teman-teman melakukan perjalanan pergi ke barat (gowes a.k.a pit-pitan). Cerita ini bermula pada Selasa malam di rumah Jundi kami merencanakan untuk pitpitan bareng. Dan pada jam 10an malamnya Jundi mengirimkan pesan singkat yang isinya mengingatkan besok jadi pit-pitan dengan destinasi ke rumah Upek dan mencari sarapan (kirain nyari sarapan di rumah upek *haha). Dan yang paling keren baris ini : “Kumpul di depan SMA jam 5” . WOW. Kok niatmen kumpul jam 5. Pada nggak tau kayaknya jarak rumah saya ke SMA 1 jauhnya seberapa. ckckck. Tapi tak apalah, lagian udara pagi emang paling pas buat pit-pitan (kalo nggak hujan sih). Eh, tapi SMS itu baru saya baca pagi/dini hari nya karena semalam tidur gasik dan ada Juventus disiarkan di tipi (kalah sih). Dan karena janjiannya jam 5 kumpul di SMA, jam 5 pun saya mencoba sms koor pitpitan (Jundi) , menanyakan apakah sudah berangkat. Tapi ternyata gagal terkirim. Saya cek *388# , pulsa sih masih , tapi masa aktif habis. Njelehi. Yasudah kuputuskan segera cepak-cepak, cek tekanan angin roda depan belakang, dan kemudian berangkat.

Selo.

Jam segitu jalanan emang selo. Dan sekalilagi jam-jam segini lah jam ideal untuk bersepeda santai. Tak terasa sudah sampai di depan sekolah sekitar jam setengah 6an. Tapi kekhawatiran yang tadi sempat muncul ternyata terbukti. Shahih. Depan sekolahan masih sepi!. Tipis. Saya pun berbaik sangka “mungkin masih di perjalanan” (batinku sambil mengangguk-angguk seperti di sinetron-sinetron). Tak tunggu sampai jam 6 kurang 10 kok tidak ada kabar. Bosen. Tak pikir karena SMS semalem tidak saya balas, mungkin pitpitan ini dibatalkan. Akhirnya pun saya pergi ke barat (literally, ngulon). Tanpa arah, asal ngulon wae.Sebenernya mau nyari counter pulsa, isi pulsa (+masa aktif) terus telpon Jundi ngejak gelut namun apa daya jam segitu bakul yang buka baru bakul Soto, Bubur Ayam, Gudeg, Nasi Kuning, dan santapan sarapan lain. Hingga terbesit ide untuk mengunjungi rumah Budhe di magelang, keliatannya asik. Dengan rute : Gamping lor – Bantulan – Cebongan — (lali nama dalane) – Tempel,magelang.

bangunan di deket rumah upek
bangunan di deket rumah upek

Ngonthel.

Perlahan demi pasti ku-onthel sepeda ini menuruti rute tersebut. Namun baru sampai di SDN cebongan, nemu bakul pulsa. Mampir buat isi ulang. Tapi entah kebetulan atau emang gangguan sinyal, sepersekian detik setelah pulsa masuk, ada SMS masuk : “Piye bro? aku neng  murni ki..”. Saya tengok jam menunjukkan pukul 06.40 WIB. Dan saya cek lagi sms semalem *sempet kepikir jangan-jangan salah baca*. Ternyata tidak. Saya tidak keliru membaca sms, ini buktinya :

Screenshot_2013-01-30-17-59-00

Tipis.

Tipis memang teman-teman saya. Dan selalu saya jadi korban (baca Liburan Srigethuk part1 dan part2). Langsung tak telpon , dan menyuruhnya langsung ke rumah Upek. Dari sana saya mengayuh sepeda ini dengan kecepatan secepat mungkin. Wuusss. Sempet rantai loss pas kecepatan (agak) tinggi padahal sepeda ini sistem pengeremannya dengan memutar pedal ke belakang. Horohtoyo. Langsung tangan kiri nyampar benda-benda seadanya untuk mengurangi kecepatan (tiang listrik, pohon, pager). Walaupun begitu saya masih pertama yang sampai di rumah Upek. Sempet pekewuh ternyata Upek masih terlelap (ketoke bar Shubuh turu neh). Lima menit berlalu muncul Jundi dengan sepeda lipat nya dan Suban! Sangar. Dari jalan wonosari nggowes sampai Gamping Lor. Ternyata salah satu penggagas acara ini, Moko, terlalu tipis untuk bangun pagi dan menyusul.

Mangkat.

sori le moto rodo hoyag
sori, le moto rodo hoyag

Akhirnya kami berempat pun membentuk boyband. *plak* . Maksudnya kami pun membentuk girlband *plak*. Eh, maksudnya nggowes. Diawali dengan Bismillah, rute yang waton udu dalan buntu ini kami lalui dengan semangat pagi. Udara segar. Minim polusi. Pemandangan indah. MasyaAllah.  Sawah sawah hijau menjulang di sepanjang jalan, sungguh pemandangan yang jarang saya temui. Matahari yang beranjak naik sedikit demi sedikit. Sungguh lengkap keindahan pagi itu. Hingga saat kami melewati jalan yang meragukan. “piye bro?” , “wes, terobos wae, tembus wes, dalane podo” . Kurang lebih seperti itu percakapan yang sempat terjadi. Dan ternyata jalannya memang tembus! Tembus kali. Kecelik. Kami memutar arah dan mencari jalan lain yang lebih jelas dan diakui tembusannya. Sempat melintasi jalan wates (depan kantor kelurahan Balecatur po opo kae). Tapi belok lagi ke jalan-jalan yang lega.

Seger.

Tak terasa sudah semakin dekat dengan rumah Upek. Kami sempatkan mampir sarapan, karena memang itu tujuannya (lihat gambar diatas). Pilihan kami jatuh pada Soto Monjali. Langsung pesen soto sapi 4, jeruk anget 3, es teh 1. Baru ditinggal cuci tangan semua menu pesanan kami sudah tersaji. Gage. Tak lupa mendoan, sate usus, krupuk, menjadi pelengkap makan. Pengen? monggo di klik kanan > Save Image as…

soto sapi
soto sapi

Leren.

Sesampainya di rumah upek kami leren sejenak (?). Leyeh-leyeh. Malah pada bertebaran di lantai. Ada yang tidur, ada yang tiduran, ada yang tertidur. Ckckck. masih mau menyangkal?ini buktinya :

pating semebar
pating semebar

Tak terasa jam menunjukkan kalo waktu sudah siang dan matahri pun lagi seneng-senengnya menyebarkan energi panas. Males sih kalo mau pulang, tapi kalo disini  (rumah upek) terus yo nggak produktif juga. Masih banyak kerjaan lain yang harus diselesaikan. Akhirnya kami memutuskan pulang. Pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing dengan kondisi cuaca panas ngenthang-ngenthang.

Njendol.

Baru 200an meter dari rumah upek terasa ada yang aneh dari roda sepeda saya. Ternyata ban dalem nya pating mendosol keluar karena ban luar nya ada bagian yang mlengse. Jadi aneh, njendol semacam bal basket kalo mau njeblos. Di situasi ini Jundi dan Suban membayar kesalahan mereka (telat) dengan menemani saya nuntun sepeda ke tambal ban terdekat. Sudah nggak tipis lagi rupanya. Mbenakke posisi ban luar yang mlengse dan menambahkan angin dipatok tarif 2ribu rupiah. Alhamdulillah beres, perjalanan pulang berlanjut. Hingga saya sampai rumah tak ada yang bisa diceritakan selain energi panas yang memicu saya untuk mengayuh lebih cepat dari biasanya.  Sampai rumah lalu mandi dan aktivitas selanjutnya yang tidak berhubungan dengan cerita ini.

Tetap sehat tetap semangat supaya kita biar bisa pitpitan lagi. Salam konco tipis.

GRUB : mengubah menu default [UBUNTU]

Seperti yang kita tahu, setalah memasang linux pada PC/notebook maka otomatis akan terinstall GRUB (GNU GRand Unified Bootloader).  GRUB adalah menu awal yang muncul ketika anda pertama kali boot. Seperti ini penampakannya :

Dan pada default, pilihan menu yaitu Linux yang barusan di install dan ada waktu 10 detik sebelum automatic boot. Dan jika ingin mengganti default pilihan menu GRUB ada 2 cara  (banyak cara sih,tapi saya mau membahas ini dulu) :

1. Mengganti grub-default 

Cara ini akan menentukan menu ke-berapa yang akan dipilih secara default. Pertama buka script grub-helper menggunakan text editor :

sudo gedit /etc/default/grub

Kemudian pada baris :

GRUB_DEFAULT=0

ganti angka 4 dengan nomor urut menu yang anda inginkan (dimulai dari 0), jadi jika menu yang anda inginkan pada urutan ke 5, ganti menjadiL

GRUB_DEFAULT=4

setelah itu klik ‘Save’, dan update grub serta initramfs dengan perintah:

sudo update-grub && sudo update-initramfs -u

restart komputer anda, dan lihat bedanya 😀

2. Mengubah urutan menu

Coba anda buka terminal, masuk ke directory /etc/grub.d/ . Kemudian anda lihat isi foldernya maka akan ada beberapa file dengan nama yang diawali dengan angka (00_header , 05_debian_theme, dsb). Jadi sebenarnya urutan menu pada GRUB tergantung oleh urutan nomer yang ada di folder tersebut. Dan default nya OS selain linux (windows,mac) diletakkan di nomor 30 (30_os_prober). Sehingga jika ingin memindah-mindah urutan anda tinggal mengubah angka pada nama file TANPA mengubah nama file setelahnya. misal urutan (header dan debian theme jangan diubah,itu bukan pilihan tapi semacam file header) :

  • 10_linux
  • 20_memtest86+
  • 30_os_prober

kemudian anda ingin memtest diletakkan paling bawah sedangkan os selain linux diletakkan di menu pertama, maka rename file nya sesuai urutan, misal seperti ini (nggak harus sama,yang penting urutannya) :

  • 10_os_prober
  • 15_linux
  • 20_memtest86+

setelah itu jangan lupa jalankan update :

sudo update-grub && sudo update-initramfs -u