A short visit : cibogor.

Bus itu melaju kencang ketika saya berkata pada pak sopir untuk menepikannya. Bersamaan dengan kaki kiri yang turun dari bis, memori 2 bulan lalu kembali menyeruak memenuhi pikiran. Tepat di depan rumah bu nanik saya turun. Ya, saya memang kembali kesini, Cibogor, Panawangan. (baca alasannya di sini: ). Saat itu, tujuan pertama yang terlintas hanya satu : rumah pondokan. Baru jalan beberapa langkah, tampak ibu (pemilik pondokan, yang sudah seperti ibu kami sendiri) yang sedang menjemur pakaian melihat kedatangan saya. Beliau pun langsung menuju depan rumah dan dengan tersenyum menyambut kehadiran saya. “A indra, gimana kabarnya? Sehat? Sendirian aja?” Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Ah, saya jadi teringat bagaimana kami bertemu dengan ibu pertama kali. Saat itu beliau, dibantu asri, sedang memasang pengait untuk tirai kamar perempuan, namun, ketika itu kami belum mengenal sehingga hanya senyum singkat dan anggukan kepala yang menghiasi pertemyan pertama dengan ibu. Kalau ingin mengenang masa itu, tak lengkap rasanya kalau tidak masuk pondokan. Ibu juga paham apa yang saya inginkan, beliau segera mengambil kunci pondokan dan menyerahkannya “Ini koncinya kalo mau main ke rumah. Tapi sekarang kotor nggak ada yang pake”, begitu pesannya. Ah, kunci ini, masih sama. Jadi inget dulu pernah menutup pintu, mengunci gembok tapi lupa mencabut kuncinya. Konyol. Setelah masuk, sekedar melihat kondisi sekitar. Melihat kamar, mengingatkan tempat kaum hawa subunit 3 melakukan rutinitas ‘pergunjingan’ di malam hari, melihat dapur jadi inget kebaikan warga mengantarkan/memberi kami makanan bahkan sampai kami sendiri bingung bagaimana cara menghabiskan semuanya. Melihat kamar mandi, jadi teringat pertama kali datang, harus kerja keras membersihkan lantai&bak serta menambal pintu kamar mandi dengan plat seng agar tidak ada celah. Terlalu banyak kenangan yang tertinggal. Puas melihat pondokan, segera saya moveon. Mengembalikan kunci ke ibu untuk kemudian jalan-jalan, men!

Tujuannya sampai rumah pondokan subunit 1, paling tidak ketemu teh irma. Baru beberapa langkah, bertemu bu elis, guru kelas 5. Beliau yang mengenali saya langsung menghentikan motor dan saya pun menghampiri, bersalaman. “Mau jalan-jalan dulu bu, sambil nunggu jam pulang sekolah” begitu jawaban saya ketika beliau mengajak ke SD. Kalau ke SD sekarang malah ngganggu belajar anak-anak pikirku. Jalan-jalan berlanjut. Melewati plang Pamugaran. Masih ingat betul bagaimana saya dan yusqi yang turun melewati semak belukar demi mengambil seember air dari kolam di bawah untuk campuran semen. Juga dulu pernah mengantar anak yang rumahnya di pamugaran (atas) habis main ke pondokan sampai menjelang buka puasa. Sejenak memandangi plang yang ternyata sudah menjadi kotor. Menurut hemat saya, itu karena di depannya sedang ada proyek pengerukan tanah sehingga debu atau bahkan tanahnya mengenai plang. Juga semak belukar di bawah, sekarang sudah dibabat, tersisa pohon-pohon dan tanah. Jalan-jalan saya berlanjut ke arah pasar. Sempat melewati gang masuk ke rumah kang eli (ketua karangtaruna desa), jadi ingat saat malam-malam saya dan beberapa utusan ‘sowan’ ke sana. Jalan menanjak yang curam dan suara-suara asing mewarnai pertemuan di saung malam itu.

Lanjut, sampai ke SM. SM (Sumber Mulya) adalah Indom*ret nya Panawangan. Hampir tiap hari, menjelang buka atau habis tarawih pasti pada kesini. Dan jajanan favorit kalau nggak UC1000 ya nutriboost, dan juga Kecap (di sini masakan jarang yang manis, enak sih, tapi lama kelamaan ilat jowo saya merengek minta kecap pada makanan). Di depan SM ada pasar, dan jalan menuju sudimara-lebakjero, sagalaherang. Memori malam itu kembali muncul. Bagaimana para tim plangisasi berkumpul jam 00.30 dini hari di pasar, membawa ember, linggis, gergaji, dan plang. Ya, kami memasang plang pada persimpangan di pasar pada dini hari dan selesai 30menit kemudian. Alasan terkuat kami, karena pagi sampai sore pasar ini ramai lalu-lalang kendaraan, tidak memungkinkan untuk dipasang pada saat itu. Syukurlah sampai sekarang plang masih aman. Ke barat beberapa langkah, terlihat makanan favorit buka puasa : CFC (Citra Fried Chicken) yang sekarang ternyata sudah ada tempat untuk makan di tempat. “Eh aku nitip sayap sama dada” , “Gue sayap dua” , “Aku sayap sama ati ampela” begitulah keributan ketika ada yang mau keluar menjelang berbuka. Pasti ada yang nitip CFC. Selain CFC, jajanan favorit kami ada basreng. Bukan karena teteh penjualnya, tapi emang rasa basreng dengan taburan atom dan aida istimewa sekali. Pas mau ke rumah subunit 1, lewat masjid kecamatan sangat rame. Ternyata sedang ada pengajian besar. Kembali teringat dulu pas pekan pertama KKN, hampir setiap pagi agendanya mengantar ‘ibu-ibu’ pengajian. Juga agenda yang agak fail dari PR***G, serta kerjabakti angkat-angkat batu ke makam di dekat masjid. Setelah sampai masjid rasanya capek juga, mengurungkan niat ke rumah sub1, saya memutar arah, kembali ke cibogor. Ternyata di rumah bertemu ibu depan rumah (ibunya ninda si princess) yang dengan ramah menyapa dan mengajak mampir ke rumah. Juga ada ibu-ibu yang saya lupa namanya tapi ingat pernah lihat beliau di lomba 17an. Dan ibu itu pun masih mengenali saya, menyapa, menanyakan kabar dan teman-teman.

Jam 11 lebih, saya menuju SD 2. Perlahan menaiki tanjakan yang ternyata sekarang sudah disemen. Tidak lagi jalan tanah licin berbatu seperti dulu. Jadi teringat waktu ada yang udah sampai atas tapi turun lagi garagara handbook materinya tertinggal. Di lapangan SD juga sekarang dibangun perpustakaan. Waktu mau masuk ke ruang guru ternyata ruangan kelas 5 terbuka lebar, dan Fauzian yang melihat kedatangan saya sontak berteriak “a indraa!!!” dan kelas 5 pun heboh, anak-anak berkeliaran, sedangkan saya cuek saja masuk ke ruang guru. Sambutan bapak dan ibu guru sangat hangat. Mengingatkan betapa baiknya mereka, hampir setiap hari menyediakan makan siang untuk kami, juga mengingatkan tangisan para guru ketika hari perpisahan. Ah, that memories.

hari pertama 'masuk sekolah'
hari pertama ‘masuk sekolah’

Bel pulang sekolah berbunyi, dan anak-anak dari kelas 3-6 antri (berebut) di depan ruang guru untuk sekedar bersalaman. Beberapa bertanya kabar dan bertanya hal-hal lucu lain seperti epi yang bilang : “Kata memey, a indra sama a kepin pernah masuk tipi ya?tentang penemuan obat apa gitu” , dan pertanyaan lucu lainnya. Kembali terkenang hari pertama kami berkenalan di sekolah. Melihat antusias anak-anak itu dalam menerima materi yang kami ajarkan. Ya, doa saya selalu, agar mereka kelak menjadi orang-orang hebat. Hari semakin siang, saat pulang pun banyak yang merengek, memohon untuk tinggal semalam lagi. Namanya juga anak-anak, kalaupun dituruti juga besok pasti minta nambah terus. Berpamitanlah saya dengan bapak-ibu guru dan anak-anak.

Sepulang dari SD, tujuan berikut ialah Masjid Jami’ Al-Ikhlas! Jalan kaki menyusuri dusun cibogor. Melalui lapangan sebelah pabrik kayu. Lapangan yang menjadi saksi semaraknya lomba 17an dusun cibogor. Kembali lagi berjalan. Jalanan ke masjid ini juga penuh kenangan yang,.. ah sudahlah. Sampai di masjid, hal pertama yang dilihat adalah tempat wudhu. Lega rasanya, melihat usaha kami, bagaimana meluangkan sebagian besar uang kas untuk proyek ini, bagaimana negoisasi yang cukup unik dengan warga, dapat berakhir baik seperti ini. Beberapa kenangan seperti ngobrol satu jam bersama pak DKM, bingkisan dari pengurus masjid, kejadian-kejadian lucu selama tarawih, telintas lagi ketika memasuki ruangan masjid.

kerjabakti atap masjid
kerjabakti atap masjid

Selesai keperluan di masjid, segera menuju pondokan untuk berpamitan, pulang. Ternyata di rumah ibu sudah menyiapkan satu porsi makan siang. Kalau diingat ini adalah kali kedua saya makan sendirian di rumah ibu. Pertama kali yaitu ketika selesai upacara 17an dan ketika itu semua anak lebih memilih sarapan di mie ayam. Saya pulang untuk mengambil barang dan di rumah mendapati ibu sudah memasak untuk kami, semua. Padahal siang harinya kami juga ada makanan di kelurahan. Praktis, masakan ibu bakalan tidak dimakan. Selesai makan saya menyadari satu hal, bahwa masakan ibu sur adalah masakan-rumahan paling enak nomer 3 setelah ibu dan nenek saya 🙂

Jam 1 lebih, saya memutuskan untuk pamit, sembari menunggu bis jurusan tasik cirebon lewat depan rumah. Saat tengah-tengah menunggu, lewatlah Pak Baren yang baru pulang dari kantor. Tanpa pikir panjang saya segera menuju rumah beliau. Senang bisa berjumpa dengan pak baren dan bu nanik, mengingat betapa baiknya beliau kepada kami, bahkan pagi-pagi pernah kami repotkan ketika diminta tolong untuk mengantar salah seorang dari kami ke dokter. Ah, belum sempat masuk rumah, bis yang saya tunggu datang juga. Karena takut kesorean, saya langsung berpamitan dengan beliau dan segera masuk dalam bis.Perpisahan kedua kali dengan dusun cibogor. Tidak seperti perpisahan pertama yang begitu berat karena membawa terlalu banyak kenangan, perpisahan ini cukup ringan dengan banyaknya kenangan yang dikembalikan ke asalnya.

“From cibogor, with bus”

TFBA!

Hari ini berbeda
Pagi tanpa kabut, dan udara dingin yang tak kunjung menyapa
Tak ada antrian mandi dengan urutan yang berubah-ubah sesuai urgensi
Tidak ada senyum ceria anak yang mengantri untuk bersalaman
Hilang pula sambutan hangat di ruang guru

Hari ini berbeda
Siang begitu terik, tanpa mamang cilok berkeliaran
Diluar rumah tenang, tanpa anak-anak kecil yang mengajak bermain
Boci berjamaah pun tak berlanjut

Hari ini berbeda
Sore hari hanya kendaraan lalu lalang di depan rumah
Tak ada panggilan dari anak-anak untuk mengajak bermain

Hari ini berbeda
Malam berlalu tanpa gaduh persiapan kegiatan belajar-mengajar

Hari ini berbeda
Tak ada lagi kekhawatiran tembok rubuh tiap pagi
Tak ada lagi suara gemuruh kaki menghentak2kan lantai tiap pagi
Tak ada lagi yang mengomel menyuruh mandi
Tak ada lagi tebakan super absurd
Tak ada lagi pertunjukan smackdown gratis
Tak ada lagi suara-suara melengking ketika makanan datang
Tak ada lagi godaan bermain PES di tengah-tengah kesibukan
Tak ada lagi yang menyebarkan aib orang serumah
Dan tak ada lagi yang paling pantas untuk diberi kartu nama pak haji

Dua bulan berlalu,
Bangga rasanya diberi kesempatan mendampingi anak-anak sekolah
Belajar dari semangat, kejujuran, dan keluguan mereka dalam menuntut ilmu
Belajar dari perjuangan, ketulusan, dan dedikasi para Bapak dan Ibu Guru

Dua bulan berlalu,
Sungguh bangga rasanya diberi kesempatan untuk tinggal bersama kalian, kawan
Banyak sekali hal yang dapat saya pelajari dari orang hebat seperti kalian

Apapun kata orang lain
Bagaimanapun penilaian orang lain
Kalian tetap luar biasa
Dan di malam yang sunyi ini saya berdoa
Agar kalian tetap diberi kemudahan dalam belajar
Kebaikan-kebaikan kalian, selama 2 bulan lalu, agar terbalaskan
Dan meskipun tidak terbalaskan di kehidupan sekarang, semoga lunas terbayarkan di hari perhitungan
Kemuliaan di bumi tidak akan tertukar, apalagi kemuliaan di akhirat. Tak akan pernah”
(paragraf terakhir sedikit banyak mengadopsi tulisan seseorang)

Judul tulisan ini ditujukan untuk kawan-kawan JBR02, khususnya SUB03
TFBA : THANKS FOR BEING AWESOME!

CBR!

 

JBR02