Wang Sinawang

Dua kata ajaib. Filosofi luhur orang jawa. Hingga saat ini saya masih belum menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk ungkapan ini. Mungkin jika dalam bentuk kalimat yang lebih spesifik misal “Urip iki wang sinawang” dapat dialihbahasakan menjadi “Hidup itu semu/fatamorgana”. Teuteup aneh sih.

Jika diejawantahkan pengertian dari filosofi itu bahwa segala sesuatu dalam hidup orang lain itu kita hanya mengetahui sebatas apa yang kita lihat. (Sinawang dari kata dasar sawang atau dalam bahasa ialah lihat). Banyak sekali kasus seseorang yang merasa kehidupan orang lain jauh lebih nikmat dibandingkan kehidupannya sendiri. Dan dampaknya dia sering mengeluh, tidak pernah bersyukur atas kehidupannya dan iri terhadap kehidupan orang lain. Padahal dia tidak tahu apa yang harus dialami oleh orang lain tersebut. Don’t compare your life to others. You have no idea what they’ve been through!

Intinya bersyukur. Tetap berusaha tapi jangan lupa bersyukur.

edisi NTMS

setelah sekian lama tidak menulis

Advertisements

BacaBuku : Kambing dan Hujan, oleh Mahfud Ikhwan

“Subuhnya tak pakai qunut”, kata Mif. ” Tak apa kan?”
Fauzia tersenyum dan mengangguk. “Tapi wiridnya yang panjang, ya? Keraskan sedikit bacaannya, biar aku bisa mengamini doamu.
Mif tersenyum dan mengangguk, untuk kemudian mengangkat takbir. (hlmn. 365-366)

Sungguh hari itu ingin melepas penat dengan membeli buku baru. Sudah mencari referensi dari internet dan sosial media, menemukan sebuah buku. Ketika sampai di Toko Buku, menemukan buku tersebut dan mengambil yang sudah terbuka. Sepintas membaca, kok rasanya kurang sreg dengan isinya. Mungkin lain kali saja baca buku itu. Jalan-jalan keliling beberapa rak buku, sempat mengambil buku-membaca sinopsis-dan mengembalikannya. Hingga ditemukanlah saya dengan buku berjudul ‘Kambing dan Hujan’ ini. Awalnya tertarik dari melihat desain sampulnya (yes. cover design does matter). Ditambah lagi adanya embel-embel ” juara sayembara menulis novel DKJ 2014″. Kemudian saya pun bertanya sinopsisnya kepada simbah-simbah. Iya, mbah google. Yang ternyata buku tersebut bercerita mengenai roman dua insan yang ditengarai perbedaan pendapat Nahdliyin dan Muhammadiyah. Seems unique.

aaand voila!

Kesannya: ceritanya mengalir namun meninggalkan bekas.

Penulis benar benar mencoba menyampaikan perselisihan tersebut dari sudut pandang orang ketiga (netral, tak berpihak) sehingga banyak gurauan-gurauan mengenainya cukup seimbang. Dan juga, spoiler alert ternyata kisah romansa Mif dan Zia sejatinya tak terhalang oleh perbedaan pendapat saja namun mengenai gengsi antara kedua bapak mereka, Is dan Mat. Is dan Mat adalah sahabat sangat erat sejak kecil. Dan kisah masa muda Is dan Matt lah, yang menurut saya, sangat membekas.

Pesannya: dewasalah dalam menyikapi perbedaan.