JBR 02 : Vindicated. Survived.

*gegara liat ada akun IG bernama jbr02ugm yang akhir-akhir ini aktif upload foto, saya jadi teringat akan draft tulisan ini yang belum dipublish*

Hello, my name is aa – teteh KKN!

bersama guru karyawan sdn 2 panawangan

Pekan awal digunakan untuk mengenali medan. Survey jalan ke sekolah, fasilitas/perlengkapan belajar-mengajar sekolah. SD 1 (panawangan) jalan yang menanjak rata, SD 2 (cibogor) dengan jalan menanjak berbatu, SD 3 (salam-cigobang) yang akses paling mudah, SD 4 (sudimara) yang terjauh, serta SMPN 1 Panawangan yang terletak hanya sekian langkah dari pondokan subunit 1. Beberapa data tersebut nantinya kami gunakan untuk pertimbangan penyesuaian program, serta pembagian tugas sesuai jadwal dan lokasi. Survey ke sekolah kami lakukan bersama (ada perwakilan dari setiap subunit) karena setiap orang mengampu minimal lebih dari 1 sekolah. Pada beberapa hari berikutnya beberapa orang kembali survey di SD 2. Ialah saya, kevin, krisna, dan joko yang ketika survey melihat Pak Kepala sekolah dengan dibantu pak penjaga sekolah mengecat ulang dinding sekolah. Agar lebih ceria menyambut semester baru. Kamipun turun tangan membantu mereka menyelesaikan pengecatan. Lumayan, pemanasan menjelang pelaksanaan program perdana pekan depan.

Selain survei ke sekolah kami juga melakukan survei ke warga masing-masing dusun. Saya yang berada di subunit 3, dusun Cibogor, juga turut serta dalam survey warga ini. Tak seperti survey sekolahan, survey ke warga kami lakukan pada malam hari karena pada pagi-sore warga beraktivitas masing-masing (bekerja). Survey sekaligus perkenalan yang lebih personal kami lakukan door to door. Dari pak RT, pak Kadus, pak RW, serta pak ketua pemuda. Perkenalan, meminta izin untuk melaksanakan agenda, serta menanyakan kongruensi program yang kami susun dengan keadaan/kebutuhan warga. Sejauh ini sambutan beliau-beliau ini sangat baik dan siap diajak bekerjasama. Nice. Semoga hubungan baik ini terus bertahan.

Pekan kedua, KBM sudah mulai setelah libur semester. Hari pertama masuk sekolah, kami datang lebih awal karena ada upacara bendera. Berkenalan dengan murid-murid yang waktu itu masih malu-malu menyapa kami. Setelah itu kami masuk ruang guru, berkenalan dengan Bapak Kepsek, serta Bapak-Ibu Guru dan karyawan. Kami menjelaskan rencana program kerja kami serta meminta saran. Setelah itu kami juga masuk ke kelas masing-masing sesuai tanggungjawab. Kebetulan saya kebagian kelas V. (Eh, tapi di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, ehe). Mencatat nama, absen, serta berkenalan agar lebih akrab. Dan di SD ini kami, mahasiswa KKN dipanggil Aa’ dan teteh.

Learning by sharing

Setiap anak KKN mengambil jumlah program utama (tema), program klaster, dan program lintas klaster. Dari sekian banyak program, program yang berada di lingkungan sekolah ialah Pembelajaran Bangun Ruang, Pembelajaran PowerPoint, Pengenalan Bahasa Jepang, Pelatihan komputer Guru, Pelatihan eCommerce, Lomba kebersihan kelas,. Dengan mengajar di sekolah dasar, justru kami yang belajar lebih banyak hal. Kami yang notabene mahasiswa non-pendidikan belajar mengenai manajemen, pembagian waktu, kesabaran, kreativitas, public speaking, juga belajar memahami anak. Dan kami memang seharusnya sudah tahu akan tantangan ini sejak saat memilih kelompok KKN bertemakan pendidikan. Program lain di sekolah ialah pembelajaran komputer untuk guru. Kami lakukan pembagian anggota, sebagian mengajari guru, sebagian lagi mengisi kelas yang ditinggal guru belajar komputer. Memang sebagian besar sudah dapat mengoperasikan komputer (Di sekolah juga tersedia 2 unit komputer dan 2 unit laptop dari dinas pendidikan) namun untuk beberapa hal spesifik seperti; membuat kop surat untuk amplop, formula-formula olah data di spreadsheet, serta maintenance dan utilities lainnya. Maka dari itu setiap malam harinya, kami selalu mempersiapkan beberapa hal; mempersiapkan materi/bahan ajar, menyelaraskan jadwal, menyusun jatah program bantu, membagi transportasi, dan kemudian diakhiri dengan turnamen PES atau nonton film bareng dengan LCD projector.

Selain program mengajar di sekolah ada juga program di luar sekolah. Program di luar sekolah yang saya ambil diantaranya diskusi parenting, pembuatan peta dusun, plangisasi, serta pembangunan fisik (bentuknya apa ditentukan belakangan). Hampir semua program memiliki cerita yang berkesan. Pada diskusi parenting, saya kebagian di dusun subunit 2 (dusun Salam dan Cigobang). Dan pada kedua dusun ini kami menyisipkan program pada forum pengajian Ibu-ibu. Tim diskusi parenting sub 2 ada saya, Gilang, dan Priscil. Bayangpun saja, kami yang masih muda, belum berkeluarga (apalagi memiliki anak), harus berbagi poin poin penting dalam pengasuhan anak di depan puluhan Ibu-ibu yang sudah memiliki anak entah berapa. Jelas dari diskusi tersebut kami-lah yang belajar banyak dari beliau. Dari pertanyaan-pertanyaan beliau mengenai realita yang ada dalam keluarga, khususon dalam pengasuhan anak.

seminar parenting kepada para parents oleh mahasiswa/i belum berkeluarga, di tengah rangkaian pengajian rutin

Ramadhan di Panawangan.

Waktu KKN kami bertepatan dengan bulan ramadhan 1434H. Sehingga selama sebulan penuh kami berpuasa sembari melaksanakan program KKN. Bahkan awal program kami berlangsung ketika puasa. Dan kali ini adalah Ramadhan pertama bagi saya di perantauan. Merupakan cerita tersendiri mengenai menjalani puasa di Panawangan, khususnya di pondokan subunit 3. Bagaimana kami bersiap melingkari nasi laukpauk dan segala camilannya di ruang tengah sejak satu jam menjelang adzan maghrib. Bagaimana salahdua dari kami mengalah keluar untuk membeli CFC (semacam Olive-nya panawangan) dengan sederet titipan “Paha atas, Paha bawah, Dada, Sayap, maupun Ati Ampela” dan kadang basreng (baso goreng +atom aida) yang mungkin setelah KKN usai akan muncul kisah “Teteh basreng naik umroh” karena dagangannya yang tiap sore dilarisi anak KKN. Tak lupa cerita bagaimana pada sholat tarawih perdana yang diwarnai adegan anak kecil kentut dengan nyaring dan tak segera mengaku, yang apesnya dia sholat tepat di sebelah saya. Sempat juga kami merasakan tradisi “tarling” atau tarawih keliling bersama pejabat desa. Sehingga kami dapat merasakan sholat tarawih berjamaah di setiap dusun. Pernah pada puasa hari ke sekian (entah lupa), kami diundang untuk menghadiri mabit bersama siswa SMPN 1 Panawangan. Kami hanya ikut menyimak kajian Islam, buka bersama, serta sahur bersama. Walau tidak semua ikut menginap di SMP karena harus menyiapkan program dan menjaga pondokan. Konflik intrik internal pun juga mulai muncul di bulan ini.

perbaikan gizi berkedok mabit di smpn panawangan

30 hari kami berpuasa, tibalah saat hari raya Idul Fitri. Beberapa dari kami ada yang cuti pulang karena rumahnya yang dekat, sedang sebagian orang lainnya tinggal dan merayakan Idul Fitri di perantauan tanpa kehadiran keluarga. Ya, meskipun kami sudah menganggap satu sama lain adalah keluarga. Suasana haru meliputi ketiga pondokan subunit sesaat setelah sholat idul fitri, yaitu ketika momen telpon orangtua di rumah. Setelah itu kami berkumpul di rumah Subunit 2, makanmakan, bersalamsalaman sambil bermaafmaafan. Beberapa hari setelahnya kami gunakan untuk silaturahim ke rumah warga serta guru dan kepala sekolah dasar. Alhamdulillah, insyaALlah mendapat berkah silaturahmi (dan perbaikan gizi broo).

silaturahmi lebaran di rumah Bu Nanik

Tak lama kemudian kegiatan belajar mengajar dimulai, pertanda kami harus memulai kembali program yang sempat tertunda. Keadaan di luar bulan ramadhan ternyata berbeda. Di ruang guru selalu disediakan makanan untuk kami dengan menu andalan ketupat panawangan yang guri-guri nyoy. Jajanan menggoda iman pun melimpah di sekolahan. Juga ajakan ngaliwet (makan bareng nasi-sayur-ikan hasil bumi sendiri) dari warga sekitar. Namun ternyata setelah ini masih ada pekerjaan berat menunggu kami. Dan semua masih tetap kami hadapi dengan penuh semangat. Seperti pesan Imam Syafi’i ;

“Berlelah-lelah lah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang”

Masih belum berakhir..

Advertisements

JBR02 : Panawangan, Brace yourself!

Preparation and the departure

Persiapan sebelum KKN cukup hectic, mana yang belanja peralatan, cari bus dengan seat diatas 30 dengan tarif nggak mahal, ditambah dengan persiapan ngirim motor. Karena setelah diskusi dingan pertimbangan yang sangat matang, bahwa KKN di sana dengan wilayah kerja luas membutuhkan mobilisasi masal yang cukup sering sehingga diputuskan kami mengangkut 15 motor (5 tiap subunit, biar pas, bisa boncengan). Belum lagi pembagian barang kebutuhan per subunit seperti ember, heater, speaker, tali jemuran, alat tukang, dan KASUR. Yup,total ada sekitar 10-12 kasur yang dibawa ke lokasi . Untuk barang pribadi, tanggung jawab masing-masing, dan sesuai rencana sepasang USB-Joystick saya masukan dalam checklist barang pribadi. Akhirnya kami berhasil memastikan kendaraan yang digunakan untuk pemberangkatan yaitu Bus Sargede dengan seat 44 (cmiiw). Masalah baru muncul, karena motor udah dikirim H-1, terus gimana anak-anak yang motornya dikirim buat kumpul ke GSP pas pemberangkatan? Barang-barangnya? Dengan beberapa pertimbangan akhirnya diputuskan untuk menyewa mobil pickup/bukaan dan menjemput barang-barang ‘besar’ seperti kasur dan seukurannya.
Hari pemberangkatan tiba. Lokasi meeting point ialah sayap selatan GSP dan janji dengan sopir bis jam 7 malam berangkat. Menjelang waktu maghrib saya tiba di lokasi, namun ternyata masih banyak yang belum tiba di lokasi. Kami mulai menata hati barang-barang ke dalam bus sedemikian sehingga dapat ditempati. Bayangpun, ada 12 kasur dipaksakan masuk ke 2 baris seat terbelakang yang kursinya dilepas. Serta ada 2 viewer projector yang melintang di tengah bus. Prinsip kami saat itu : waton amot! (asal muat). Hingga jam 7.30 malam masih ada yang belum datang dengan berbagai halangan. Sedangkan tim penjemput barang yang dikemudikan Guntur dengan diasisteni Gilang, menerobos hujan deras mereka menjemput barang-barang menggunakan mobil pickup yang sudah disewa. Karena sempat terjadi hal yang tidak diinginkan proses penjemputan barang pun molor dan baru selesai jam 8 malam. (Menurut saksi yang terpercaya mobil penjemput sempat menyerempet mobil lain, dan dipermasalahkan). Hingga akhirnya semua anak baru siap berangkat setelah jam 10 malam. Dengan sedikit menggerutu pak sopir yang telah dihibur dengan sebungkus besar rokok dan bronis amanda ini pun menjalankan mesin, dan berangkat. Dan karena saya menempati kursi tunggal di sebelah sopir dan asistennya, di depan, praktis saya lah yang jadi tempat sambat (mengeluh.red) pak sopir dan asisten. Memang mereka berhak ngeluh karena kami memang molor jauh (-+ 3jam) dari janji, sedangkan bis tersebut esok harinya harus sudah ada di Jogja. Kami juga tak mungkin menyalahkan siapapun, insiden itu juga diluar kehendak kami. Ah sudahlah, tak perlu dibahas, yang terpenting kami sudah berangkat menuju lokasi KKN.
Panawangan, Here we come!
(Soundtrack : Crows Zero – Into the Battlefield)

The arrival

arrived at panawangan and extracting package
arrived at panawangan and extracting package

Kurang lebih 8 jam perjalanan (hanya berhenti sekali untuk sholat shubuh di Masjid Agung Ciamis), dan sekitar jam 8 pagi kami tiba di pom bensin panawangan, depan pondokan subunit 1. Alhamdulillah. Semua sehat, semua selamat. Unloading barang dari bus, setelah itu, tanpa istirahat kami menuju kantor kecamatan dan kelurahan untuk acara penyambutan dari kecamatan dan desa panawangan. Di sana, sambutan serta arahan dari pak camat, pak kuwuk (kepala desa), komnas pendidikan, dosen pembimbing, dan kormanit menjadi ‘menu sarapan’ kami. Intinya sama, dari pihak desa dan kecamatan bersedia penuh memfasilitasi dan bekerjasama dengan kami, dari pihak dosen ‘mewanti-wanti’ agar kami tidak menjadi bossy, manja, sombong, kemudian dari kormanit menyampaikan program utama, tema, dan permohonan kerjasama. Pertemuan itu juga dihadiri oleh bebrapa pejabat/tokoh masyarakat seperti Ibu ketua PKK, Bapak-bapak kepala dusun, dan ketua karang taruna, sehingga selain mendengar arahan kami juga sekalian bertatap muka dengan orang-orang yang akan sering kami minta bantuan selama di sini. Nampak antusiasme tokoh masyarakat terhadap kehadiran kami cukup tinggi. Keluar dari balai desa, sejenak saya membiarkan kelima panca indra ini beradaptasi, merasakan suasana desa ini. Sempat terlintas pertanyaan krusial dan fundamental : “Mampukah bertahan di lingkungan ini. Lingkungan yang benar-benar baru. Dengan orang-orang yang masih asing, dan bahkan teman-teman yang masih belum begitu kenal?” Namanya juga cuma terlintas, pertanyaan itu berhasil dialihkan 100% oleh rasa lapar. Untungnya setelah itu kami segera menuju pondokan subunit 1 untuk makan siang. Sembari menyimak briefing dari dosen pembimbing mengenai Do’s & Don’ts selama berada di lingkungan baru, khususnya dalam tujuan KKN. Briefing selesai, kormanit menginstruksikan kami untuk segera menuju pondokan masing-masing sekalian memindahkan perabotan. Saya, subunit 3, bersama 9 anggota lain bergantian mengangkut barang ke dusun Cibogor, dusun yang dalam 2 bulan ke depan menjadi cakupan kerja subunit 3.
(Bedah) Rumah pondokan
Pada awalnya saya masih kesulitan mengenali lokasi pondokan karena letaknya di tikungan yang sulit diidentifikasi dengan cepat. Bahkan sempat beberapa kali ‘kebablasan’ karenanya. Setibanya kami (subunit 3) di pondokan, ternyata ibu pondokan bersama anaknya sedang memasang kain gorden untuk menutup jendela dan kamar perempuan. Sedangkan karena kamar laki-laki dirasa tidak perlu privasi tinggi, dibiarkan terbuka (sakjane perlu sih 😐 ). Rumah pondokan subunit 3 dapat dibilang cukup lega. Literally. Karena isinya 1 ruang utama, 3 kamar, 1 dapur, dan 1 kamar mandi, dan 1 buah kursi. Meski demikian rumah ini masih memerlukan sedikit finishing touch pada beberapa hal agar supaya dapat dikategorikan layak huni. Pertama adalah kamar mandi. Bak mandi dan lantai lagsung dibersihkan, di sikat sampai bersih. Juga pintu ke arah luar. (FYI, kamar mandinya cukup luas, bahkan memiliki pintu di 2 sisi berlawanan, arah dari dalam rumah dan arah ke luar rumah). Pintu arah ke luar memiliki celah cukup luas untuk binatang seperti ular atau anak macan untuk tiba-tiba menyelinap ke dalam. Untuk mengatasinya kami menambalnya dengan plat aluminium yang dibeli dari pasar, dengan bantuan paku dan palu yang sudah kami bawa dari Jogja. Tak sampai 10 menit, masalah kamar mandi terselesaikan. Kami beralih ke dapur. Ukuran dapur juga termasuk luas, namun karena lama tidak digunakan jadi masih kotor. Segera kami mengguyurkan air ke meja dapur, rak piring, dan lantainya untuk kemudian di lap hingga bersih. Beranjak dari dapur, segera menuju ke masalah berikutnya yaitu penerangan. Beberapa lampu dan saklar bermasalah. Untungnya ada kursi dan obeng, sehingga tak lama kemudian masalah tersebut terselesaikan. Akhirnya tinggal membersihkan kamar, ruang utama, kemudian meletakkan barang bawaan (pakaian, kasur, alat pribadi, alat unit, dan bekal logistik) sesuai di tempatnya. Dan mulai saat itu, rumah ini resmi menjadi rumah kami selama dua bulan KKN. Berharap tak perlu ada permasalahan serius di dalam rumah yang sederhana namun menenangkan tersebut.

“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya, ada di sini!” Godbless – Rumah Kita.

JBR02 : The beginning

Is it a coincidence?

Hari itu, hari terakhir pemilihan lokasi KKN melalui website LPPM. Sejak awal memang saya ingin memilih lokasi KKN di luar propinsi. Setelah sebelumnya gagal di lampung, akhirnya saya memutuskan untuk lokasi yang masih di dalam Pulau Jawa. Sekitar jam 11 malam saya mulai membuka website lppm. Scroll mouse dari pilihan pertama/paling atas, BL, BTL, GK, JBR, JKT, JTG, JTM, KP, SLM, dan lainnya. Scroll atas-bawah-atas lagi-bawah lagi, hingga akhirnya ada 2 pilihan yang cukup mengambil perhatian :

JBR02 – Pengembangan Metode dan Media Pembelajaran Alternatif Siswa SD dan SMP Desa Panawangan Kabupaten Ciamis

dan

JTMxx – (tema tentang wisata di daerah Malang, Jawa Timur)

Tema pertama yaitu pendidikan, sangat menarik bagi saya pribadi. Terlebih lagi mengenai metode pembelajaran alternatif, asumsi saya kelompok ini akan berisi orang-orang kreatif yang sangat peduli dengan pendidikan di Indonesia. Wah, bakalan satu unit bersama orang-orang hebat!. Dan juga  lokasinya di Ciamis, seingat saya belum pernah sekalipun berkunjung ke kabupaten di Jawa Barat ini. Lewat doang sih paling pernah. Tapi kan nggak  ada rasanya, apalagi ini nanti 2 bulan, pasti akan jadi pengalaman yang menarik. Kemudian tema kedua yaitu pariwisata, sangat menyenangkan sekali sepertinya. Apalagi, saya belum pernah (atau baru sekali pas waktu kecil dulu) wisata ke kota apel, Malang. Dan apa salahnya sih, milih lokasi KKN di desa yang berpotensi menjadi desa wisata? Bakalan semangat menjalankan program, kan? Pengabdian dapet, jalan-jalan juga dapet. Komplit kayak bakso.

Ternyata kedua tema itu mendapat porsi sama dalam perhatian saya. Bolak-balik saya melihat 2 tema itu sambil bingung memilih, hingga malam semakin larut dan tak terasa saya pun tertidur di depan laptop. Keesokan harinya di kampus ketika teman-teman menanyakan mengenai pilihan lokasi KKN yang diambil, saya jadi teringat. Duh! Semalem aku jadinya milih yang mana coba? Jawa Barat kah? Atau Jawa Timur? Pendidikan atau Pariwisata? Meskipun hal itu tidak membuat panik, ya, karena kedua pilihan itu sama saja. Maksudnya saya sama-sama berminat di keduanya. Justru dengan begini jadi lebih seru, dan jadi penasaran. Hehe. Cukup yakin saja, bahwa keputusan Allah pasti yang terbaik buat hambaNya 😀  Hari-hari pun berlalu dengan kesibukan seperti biasa.

JBR02 for sure..

Di siang hari yang cerah, HP tetiba bergetar, ada pesan singkat masuk. Isinya berupa undangan first meeting KKN unit JBR02 di salah satu cafe di Seturan. Loh? Belum juga pengumuman plotting dari LPPM, kok udah first meeting? SMS itu berasal dari Evint, yang mengaku salah satu tim pengusul JBR02. Sempet ragu juga awalnya, tapi karena dipikir-pikir nggak mungkin juga ada orang terlalu selo uripe buat ngerjain saya, jadi saya anggap dengan ini resmi saya bergabung dengan KKN unit JBR02. Reaksi saya sih, impas. Kok impas?  Pertama kecewa karena nggak jadi KKN sambil jalan-jalan di Malang. Tapi, juga seneng bisa mengabdi di bidang Pendidikan dengan bergabung di KKN JBR02. Jadi, impas, bukan? Selain itu, mulai agak penasaran juga sama bentukan teman-teman yang nantinya bakal tinggal bareng 2 bulan. Couriously excited.

First meet = expectation!

First meeting, berangkat, agak telat karena jamnya juga nanggung (pake banget). Pas sampai lokasi, ternyata acara baru mulai. Sejenak kemudian, saatnya sesi perkenalan tiap orang. Semua tim pengusul dan anggota mulai menyebutkan nama, dan jurusan masing-masing. Perfect! Nggak ada satupun anggota JBR02 yang udah saya kenal sebelumnya! Ini baru komposisi kelompok yang idaman saya. Jadi total saya nambah 28 teman baru. Lumayan. Selesai perkenalan, kormanit dan tim pengusul bergantian menjelaskan mengenai KKN kali ini, mulai dari kondisi lokasi, penjelasan tema, rencana program, dan lainnya. Setelah itu kumpul per klaster, dan ternyata klaster soshum mendominasi unit ini dengan 17 orang. Klaster saintek sendiri ada 9 orang. (segini udah lumayan lah, kalo ada program nguli nggak dikit-dikit banget yang kerja). Dan klaster kesehatan ada 3 orang. Sejak firstmeeting itu, rapat unit mulai gencar dilakukan. Maklum lah, penentuan anggota ini mepet banget, H-2 bulan! Padahal persiapan masih banyak, ada pencarian dana, pembahasan program, survey lokasi, dan semacamnya. Dan jujur, awal-awal rapat saya samasekali nggak bisa fokus. Dateng sih rutin, tapi fokus nggak begitu.  Istilahnya setor muka. Masalahnya fokus sebagian besar teralihkan ke persiapan kompetisi muatan roket di Garut tanggal 30 Mei-2 Juni. Manajemen fokus saya memang buruk. Tiap malem habis rapat di FISIP saya langsung ke gedung TETI (Teknik Elektro & Teknologi Informasi) buat lembur. Kadang juga nginep di sana.  Bahkan waktu ketemu perdana dengan dosen pembimbing lapangan pun saya terpaksa ijin. Setelah lomba selesai baru saya mulai memikirkan keberlangsungan KKN ini, juga mulai berusaha mengenali (dan menghapal) nama beserta wajah anak-anak JBR02.

Saintek – Subunit3!

Dalam rapat awal diumumkan mengenai pembagian subunit. Pembagian ini menurut saya semi random, karena walaupun acak tetap dibagi rata untuk jumlah tim pengusul dan jumlah laki-laki tiap subunit. Cerdas. Dan saya tergabung di subunit 3 bersama … ah waktu itu belum hafal nama-namanya. Kormasit yang terpilih untuk subunit 3 adalah Khrisna. Kesan pertama orangnya pendiem, normal, perilakunya wajar-wajar aja, lumayan tenang lah jadi anggotanya. Setelah itu ada pemilihan kormater, dan untuk saintek yang terpilih ialah Joko. Pertama diliat orangnya kritis, aktif, kadang suka ngelawak. Lumayan juga buat jadi kormater. Rapat-rapat berikutnya semakin intens. Entah rapat unit, rapat subunit, maupun rapat klaster. Semakin lama semakin muncul semacam praduga/ekspektasi awal buat anak-anak subunit 3 dan saintek (soalnya sering rapat bareng). Di subunit 3, ada Khrisna kormasit yang ternyata fans Barca, Unin psikolog yang rajin jualan tahu bakso (aku durung ngicipi tekan saiki), ada Gilang temen sejurusan yang belom pernah liat/ketemu di kampus,  Mbak Ayu anak sastra korea yang hobi masak kimcil eh, kimbab, ada Dani sekre sejati (soalnya tiap rapat bawa leptop terus), ada Kevin perkap unit yang tingginya 2 meter (plus sandal), ada Dia adiknya Dewi, ada Aul yang ternyata rumahnya deket lokasi, dan ada Lili anak sastra jepang yang selalu ijin pulang sebelum jam 9. Dengan prasangka awal itu, sempet kepikiran juga, apakah nanti di pondokan bisa nyambung? Melihat latarbelakang bahasa dan jurusan kami yang berbeda-beda. Sedangkan di klaster saintek, ada Joko kormater yang nglawak terus, ada Ima yang pemikir (maksudnya pendiam), ada Vania yang sebenernya aktif, tapi jarang rapat (hehe), ada Mirza yang kadang kadang malah koyo kormater, ada Gilang (again), ada Yusqi yang juga jarang keliatan, serta ada Mas Nupus yang banyak ide. Oh iya, ada Devki, aktivis bismania yang sedang kuliah di geografi. Melihat komposisi seperti itu, serta kebutuhan di lapangan, sudah dapat diduga bahwa mayoritas program saintek ialah pelatihan komputer.  Ahay! 

Rapat – rapat pun berlalu, dan hari H semakin dekat. Sampai detik-detik sebelum pemberangkatan saya masih belum 100% yakin bisa nyambung dengan anak-anak unit JBR02. Tapi, ah,sudahlah.

To be continued (as soon as possible)

“..boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”

[Q.S. 2:216]