un-titled

Kita bagaikan air

Mengalir dari berbagai muara

Melalui jalur yang berlainan

Dan di tengah jalan, serentak menguap

Ber-kondensasi membentuk segumpal awan

Mau tak mau, bergerak bersama beriringan, tertiup angin

Hingga tiba di suatu titik

Ketika kita harus turun sebagai hujan, meregangkan ikatan

Kembali terpisah, dalam jalur berlainan

Mengalir dengan mandiri

Kelak ketika kalian sibuk menuju hilir

Janganlah lupa

Bahwa kita pernah tertiup angin, dalam gumpalan awan yang sama

Tulisan di atas terdedikasikan untuk rekan-rekan sejawat saya yang sudah, akan, maupun belum wisuda besok. Khususon teman KKN yang faktanya dari sekian (29) orang personil JBR02 2013, hanya segelintir (2 orang) yang asli jogja, yang entah setelah wisuda kemarin, besok mei, ataupun periode berikutnya, akan kembali ke asal atau ke perantauan baru. Selamat memasuki jenjang kehidupan baru, para fresh graduate, juga selamat dan semangat berjuang buat yang masih memperjuangkan karena hasil tak akan mengkhianati usaha kita.
Keep calm and may the force be with you.

maafkan pose mereka yang aneh.
maafkan pose mereka yang aneh.
Advertisements

JBR02 : Panawangan, Brace yourself!

Preparation and the departure

Persiapan sebelum KKN cukup hectic, mana yang belanja peralatan, cari bus dengan seat diatas 30 dengan tarif nggak mahal, ditambah dengan persiapan ngirim motor. Karena setelah diskusi dingan pertimbangan yang sangat matang, bahwa KKN di sana dengan wilayah kerja luas membutuhkan mobilisasi masal yang cukup sering sehingga diputuskan kami mengangkut 15 motor (5 tiap subunit, biar pas, bisa boncengan). Belum lagi pembagian barang kebutuhan per subunit seperti ember, heater, speaker, tali jemuran, alat tukang, dan KASUR. Yup,total ada sekitar 10-12 kasur yang dibawa ke lokasi . Untuk barang pribadi, tanggung jawab masing-masing, dan sesuai rencana sepasang USB-Joystick saya masukan dalam checklist barang pribadi. Akhirnya kami berhasil memastikan kendaraan yang digunakan untuk pemberangkatan yaitu Bus Sargede dengan seat 44 (cmiiw). Masalah baru muncul, karena motor udah dikirim H-1, terus gimana anak-anak yang motornya dikirim buat kumpul ke GSP pas pemberangkatan? Barang-barangnya? Dengan beberapa pertimbangan akhirnya diputuskan untuk menyewa mobil pickup/bukaan dan menjemput barang-barang ‘besar’ seperti kasur dan seukurannya.
Hari pemberangkatan tiba. Lokasi meeting point ialah sayap selatan GSP dan janji dengan sopir bis jam 7 malam berangkat. Menjelang waktu maghrib saya tiba di lokasi, namun ternyata masih banyak yang belum tiba di lokasi. Kami mulai menata hati barang-barang ke dalam bus sedemikian sehingga dapat ditempati. Bayangpun, ada 12 kasur dipaksakan masuk ke 2 baris seat terbelakang yang kursinya dilepas. Serta ada 2 viewer projector yang melintang di tengah bus. Prinsip kami saat itu : waton amot! (asal muat). Hingga jam 7.30 malam masih ada yang belum datang dengan berbagai halangan. Sedangkan tim penjemput barang yang dikemudikan Guntur dengan diasisteni Gilang, menerobos hujan deras mereka menjemput barang-barang menggunakan mobil pickup yang sudah disewa. Karena sempat terjadi hal yang tidak diinginkan proses penjemputan barang pun molor dan baru selesai jam 8 malam. (Menurut saksi yang terpercaya mobil penjemput sempat menyerempet mobil lain, dan dipermasalahkan). Hingga akhirnya semua anak baru siap berangkat setelah jam 10 malam. Dengan sedikit menggerutu pak sopir yang telah dihibur dengan sebungkus besar rokok dan bronis amanda ini pun menjalankan mesin, dan berangkat. Dan karena saya menempati kursi tunggal di sebelah sopir dan asistennya, di depan, praktis saya lah yang jadi tempat sambat (mengeluh.red) pak sopir dan asisten. Memang mereka berhak ngeluh karena kami memang molor jauh (-+ 3jam) dari janji, sedangkan bis tersebut esok harinya harus sudah ada di Jogja. Kami juga tak mungkin menyalahkan siapapun, insiden itu juga diluar kehendak kami. Ah sudahlah, tak perlu dibahas, yang terpenting kami sudah berangkat menuju lokasi KKN.
Panawangan, Here we come!
(Soundtrack : Crows Zero – Into the Battlefield)

The arrival

arrived at panawangan and extracting package
arrived at panawangan and extracting package

Kurang lebih 8 jam perjalanan (hanya berhenti sekali untuk sholat shubuh di Masjid Agung Ciamis), dan sekitar jam 8 pagi kami tiba di pom bensin panawangan, depan pondokan subunit 1. Alhamdulillah. Semua sehat, semua selamat. Unloading barang dari bus, setelah itu, tanpa istirahat kami menuju kantor kecamatan dan kelurahan untuk acara penyambutan dari kecamatan dan desa panawangan. Di sana, sambutan serta arahan dari pak camat, pak kuwuk (kepala desa), komnas pendidikan, dosen pembimbing, dan kormanit menjadi ‘menu sarapan’ kami. Intinya sama, dari pihak desa dan kecamatan bersedia penuh memfasilitasi dan bekerjasama dengan kami, dari pihak dosen ‘mewanti-wanti’ agar kami tidak menjadi bossy, manja, sombong, kemudian dari kormanit menyampaikan program utama, tema, dan permohonan kerjasama. Pertemuan itu juga dihadiri oleh bebrapa pejabat/tokoh masyarakat seperti Ibu ketua PKK, Bapak-bapak kepala dusun, dan ketua karang taruna, sehingga selain mendengar arahan kami juga sekalian bertatap muka dengan orang-orang yang akan sering kami minta bantuan selama di sini. Nampak antusiasme tokoh masyarakat terhadap kehadiran kami cukup tinggi. Keluar dari balai desa, sejenak saya membiarkan kelima panca indra ini beradaptasi, merasakan suasana desa ini. Sempat terlintas pertanyaan krusial dan fundamental : “Mampukah bertahan di lingkungan ini. Lingkungan yang benar-benar baru. Dengan orang-orang yang masih asing, dan bahkan teman-teman yang masih belum begitu kenal?” Namanya juga cuma terlintas, pertanyaan itu berhasil dialihkan 100% oleh rasa lapar. Untungnya setelah itu kami segera menuju pondokan subunit 1 untuk makan siang. Sembari menyimak briefing dari dosen pembimbing mengenai Do’s & Don’ts selama berada di lingkungan baru, khususnya dalam tujuan KKN. Briefing selesai, kormanit menginstruksikan kami untuk segera menuju pondokan masing-masing sekalian memindahkan perabotan. Saya, subunit 3, bersama 9 anggota lain bergantian mengangkut barang ke dusun Cibogor, dusun yang dalam 2 bulan ke depan menjadi cakupan kerja subunit 3.
(Bedah) Rumah pondokan
Pada awalnya saya masih kesulitan mengenali lokasi pondokan karena letaknya di tikungan yang sulit diidentifikasi dengan cepat. Bahkan sempat beberapa kali ‘kebablasan’ karenanya. Setibanya kami (subunit 3) di pondokan, ternyata ibu pondokan bersama anaknya sedang memasang kain gorden untuk menutup jendela dan kamar perempuan. Sedangkan karena kamar laki-laki dirasa tidak perlu privasi tinggi, dibiarkan terbuka (sakjane perlu sih 😐 ). Rumah pondokan subunit 3 dapat dibilang cukup lega. Literally. Karena isinya 1 ruang utama, 3 kamar, 1 dapur, dan 1 kamar mandi, dan 1 buah kursi. Meski demikian rumah ini masih memerlukan sedikit finishing touch pada beberapa hal agar supaya dapat dikategorikan layak huni. Pertama adalah kamar mandi. Bak mandi dan lantai lagsung dibersihkan, di sikat sampai bersih. Juga pintu ke arah luar. (FYI, kamar mandinya cukup luas, bahkan memiliki pintu di 2 sisi berlawanan, arah dari dalam rumah dan arah ke luar rumah). Pintu arah ke luar memiliki celah cukup luas untuk binatang seperti ular atau anak macan untuk tiba-tiba menyelinap ke dalam. Untuk mengatasinya kami menambalnya dengan plat aluminium yang dibeli dari pasar, dengan bantuan paku dan palu yang sudah kami bawa dari Jogja. Tak sampai 10 menit, masalah kamar mandi terselesaikan. Kami beralih ke dapur. Ukuran dapur juga termasuk luas, namun karena lama tidak digunakan jadi masih kotor. Segera kami mengguyurkan air ke meja dapur, rak piring, dan lantainya untuk kemudian di lap hingga bersih. Beranjak dari dapur, segera menuju ke masalah berikutnya yaitu penerangan. Beberapa lampu dan saklar bermasalah. Untungnya ada kursi dan obeng, sehingga tak lama kemudian masalah tersebut terselesaikan. Akhirnya tinggal membersihkan kamar, ruang utama, kemudian meletakkan barang bawaan (pakaian, kasur, alat pribadi, alat unit, dan bekal logistik) sesuai di tempatnya. Dan mulai saat itu, rumah ini resmi menjadi rumah kami selama dua bulan KKN. Berharap tak perlu ada permasalahan serius di dalam rumah yang sederhana namun menenangkan tersebut.

“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa, semuanya, ada di sini!” Godbless – Rumah Kita.

JBR02 : The beginning

Is it a coincidence?

Hari itu, hari terakhir pemilihan lokasi KKN melalui website LPPM. Sejak awal memang saya ingin memilih lokasi KKN di luar propinsi. Setelah sebelumnya gagal di lampung, akhirnya saya memutuskan untuk lokasi yang masih di dalam Pulau Jawa. Sekitar jam 11 malam saya mulai membuka website lppm. Scroll mouse dari pilihan pertama/paling atas, BL, BTL, GK, JBR, JKT, JTG, JTM, KP, SLM, dan lainnya. Scroll atas-bawah-atas lagi-bawah lagi, hingga akhirnya ada 2 pilihan yang cukup mengambil perhatian :

JBR02 – Pengembangan Metode dan Media Pembelajaran Alternatif Siswa SD dan SMP Desa Panawangan Kabupaten Ciamis

dan

JTMxx – (tema tentang wisata di daerah Malang, Jawa Timur)

Tema pertama yaitu pendidikan, sangat menarik bagi saya pribadi. Terlebih lagi mengenai metode pembelajaran alternatif, asumsi saya kelompok ini akan berisi orang-orang kreatif yang sangat peduli dengan pendidikan di Indonesia. Wah, bakalan satu unit bersama orang-orang hebat!. Dan juga  lokasinya di Ciamis, seingat saya belum pernah sekalipun berkunjung ke kabupaten di Jawa Barat ini. Lewat doang sih paling pernah. Tapi kan nggak  ada rasanya, apalagi ini nanti 2 bulan, pasti akan jadi pengalaman yang menarik. Kemudian tema kedua yaitu pariwisata, sangat menyenangkan sekali sepertinya. Apalagi, saya belum pernah (atau baru sekali pas waktu kecil dulu) wisata ke kota apel, Malang. Dan apa salahnya sih, milih lokasi KKN di desa yang berpotensi menjadi desa wisata? Bakalan semangat menjalankan program, kan? Pengabdian dapet, jalan-jalan juga dapet. Komplit kayak bakso.

Ternyata kedua tema itu mendapat porsi sama dalam perhatian saya. Bolak-balik saya melihat 2 tema itu sambil bingung memilih, hingga malam semakin larut dan tak terasa saya pun tertidur di depan laptop. Keesokan harinya di kampus ketika teman-teman menanyakan mengenai pilihan lokasi KKN yang diambil, saya jadi teringat. Duh! Semalem aku jadinya milih yang mana coba? Jawa Barat kah? Atau Jawa Timur? Pendidikan atau Pariwisata? Meskipun hal itu tidak membuat panik, ya, karena kedua pilihan itu sama saja. Maksudnya saya sama-sama berminat di keduanya. Justru dengan begini jadi lebih seru, dan jadi penasaran. Hehe. Cukup yakin saja, bahwa keputusan Allah pasti yang terbaik buat hambaNya 😀  Hari-hari pun berlalu dengan kesibukan seperti biasa.

JBR02 for sure..

Di siang hari yang cerah, HP tetiba bergetar, ada pesan singkat masuk. Isinya berupa undangan first meeting KKN unit JBR02 di salah satu cafe di Seturan. Loh? Belum juga pengumuman plotting dari LPPM, kok udah first meeting? SMS itu berasal dari Evint, yang mengaku salah satu tim pengusul JBR02. Sempet ragu juga awalnya, tapi karena dipikir-pikir nggak mungkin juga ada orang terlalu selo uripe buat ngerjain saya, jadi saya anggap dengan ini resmi saya bergabung dengan KKN unit JBR02. Reaksi saya sih, impas. Kok impas?  Pertama kecewa karena nggak jadi KKN sambil jalan-jalan di Malang. Tapi, juga seneng bisa mengabdi di bidang Pendidikan dengan bergabung di KKN JBR02. Jadi, impas, bukan? Selain itu, mulai agak penasaran juga sama bentukan teman-teman yang nantinya bakal tinggal bareng 2 bulan. Couriously excited.

First meet = expectation!

First meeting, berangkat, agak telat karena jamnya juga nanggung (pake banget). Pas sampai lokasi, ternyata acara baru mulai. Sejenak kemudian, saatnya sesi perkenalan tiap orang. Semua tim pengusul dan anggota mulai menyebutkan nama, dan jurusan masing-masing. Perfect! Nggak ada satupun anggota JBR02 yang udah saya kenal sebelumnya! Ini baru komposisi kelompok yang idaman saya. Jadi total saya nambah 28 teman baru. Lumayan. Selesai perkenalan, kormanit dan tim pengusul bergantian menjelaskan mengenai KKN kali ini, mulai dari kondisi lokasi, penjelasan tema, rencana program, dan lainnya. Setelah itu kumpul per klaster, dan ternyata klaster soshum mendominasi unit ini dengan 17 orang. Klaster saintek sendiri ada 9 orang. (segini udah lumayan lah, kalo ada program nguli nggak dikit-dikit banget yang kerja). Dan klaster kesehatan ada 3 orang. Sejak firstmeeting itu, rapat unit mulai gencar dilakukan. Maklum lah, penentuan anggota ini mepet banget, H-2 bulan! Padahal persiapan masih banyak, ada pencarian dana, pembahasan program, survey lokasi, dan semacamnya. Dan jujur, awal-awal rapat saya samasekali nggak bisa fokus. Dateng sih rutin, tapi fokus nggak begitu.  Istilahnya setor muka. Masalahnya fokus sebagian besar teralihkan ke persiapan kompetisi muatan roket di Garut tanggal 30 Mei-2 Juni. Manajemen fokus saya memang buruk. Tiap malem habis rapat di FISIP saya langsung ke gedung TETI (Teknik Elektro & Teknologi Informasi) buat lembur. Kadang juga nginep di sana.  Bahkan waktu ketemu perdana dengan dosen pembimbing lapangan pun saya terpaksa ijin. Setelah lomba selesai baru saya mulai memikirkan keberlangsungan KKN ini, juga mulai berusaha mengenali (dan menghapal) nama beserta wajah anak-anak JBR02.

Saintek – Subunit3!

Dalam rapat awal diumumkan mengenai pembagian subunit. Pembagian ini menurut saya semi random, karena walaupun acak tetap dibagi rata untuk jumlah tim pengusul dan jumlah laki-laki tiap subunit. Cerdas. Dan saya tergabung di subunit 3 bersama … ah waktu itu belum hafal nama-namanya. Kormasit yang terpilih untuk subunit 3 adalah Khrisna. Kesan pertama orangnya pendiem, normal, perilakunya wajar-wajar aja, lumayan tenang lah jadi anggotanya. Setelah itu ada pemilihan kormater, dan untuk saintek yang terpilih ialah Joko. Pertama diliat orangnya kritis, aktif, kadang suka ngelawak. Lumayan juga buat jadi kormater. Rapat-rapat berikutnya semakin intens. Entah rapat unit, rapat subunit, maupun rapat klaster. Semakin lama semakin muncul semacam praduga/ekspektasi awal buat anak-anak subunit 3 dan saintek (soalnya sering rapat bareng). Di subunit 3, ada Khrisna kormasit yang ternyata fans Barca, Unin psikolog yang rajin jualan tahu bakso (aku durung ngicipi tekan saiki), ada Gilang temen sejurusan yang belom pernah liat/ketemu di kampus,  Mbak Ayu anak sastra korea yang hobi masak kimcil eh, kimbab, ada Dani sekre sejati (soalnya tiap rapat bawa leptop terus), ada Kevin perkap unit yang tingginya 2 meter (plus sandal), ada Dia adiknya Dewi, ada Aul yang ternyata rumahnya deket lokasi, dan ada Lili anak sastra jepang yang selalu ijin pulang sebelum jam 9. Dengan prasangka awal itu, sempet kepikiran juga, apakah nanti di pondokan bisa nyambung? Melihat latarbelakang bahasa dan jurusan kami yang berbeda-beda. Sedangkan di klaster saintek, ada Joko kormater yang nglawak terus, ada Ima yang pemikir (maksudnya pendiam), ada Vania yang sebenernya aktif, tapi jarang rapat (hehe), ada Mirza yang kadang kadang malah koyo kormater, ada Gilang (again), ada Yusqi yang juga jarang keliatan, serta ada Mas Nupus yang banyak ide. Oh iya, ada Devki, aktivis bismania yang sedang kuliah di geografi. Melihat komposisi seperti itu, serta kebutuhan di lapangan, sudah dapat diduga bahwa mayoritas program saintek ialah pelatihan komputer.  Ahay! 

Rapat – rapat pun berlalu, dan hari H semakin dekat. Sampai detik-detik sebelum pemberangkatan saya masih belum 100% yakin bisa nyambung dengan anak-anak unit JBR02. Tapi, ah,sudahlah.

To be continued (as soon as possible)

“..boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”

[Q.S. 2:216]

TFBA!

Hari ini berbeda
Pagi tanpa kabut, dan udara dingin yang tak kunjung menyapa
Tak ada antrian mandi dengan urutan yang berubah-ubah sesuai urgensi
Tidak ada senyum ceria anak yang mengantri untuk bersalaman
Hilang pula sambutan hangat di ruang guru

Hari ini berbeda
Siang begitu terik, tanpa mamang cilok berkeliaran
Diluar rumah tenang, tanpa anak-anak kecil yang mengajak bermain
Boci berjamaah pun tak berlanjut

Hari ini berbeda
Sore hari hanya kendaraan lalu lalang di depan rumah
Tak ada panggilan dari anak-anak untuk mengajak bermain

Hari ini berbeda
Malam berlalu tanpa gaduh persiapan kegiatan belajar-mengajar

Hari ini berbeda
Tak ada lagi kekhawatiran tembok rubuh tiap pagi
Tak ada lagi suara gemuruh kaki menghentak2kan lantai tiap pagi
Tak ada lagi yang mengomel menyuruh mandi
Tak ada lagi tebakan super absurd
Tak ada lagi pertunjukan smackdown gratis
Tak ada lagi suara-suara melengking ketika makanan datang
Tak ada lagi godaan bermain PES di tengah-tengah kesibukan
Tak ada lagi yang menyebarkan aib orang serumah
Dan tak ada lagi yang paling pantas untuk diberi kartu nama pak haji

Dua bulan berlalu,
Bangga rasanya diberi kesempatan mendampingi anak-anak sekolah
Belajar dari semangat, kejujuran, dan keluguan mereka dalam menuntut ilmu
Belajar dari perjuangan, ketulusan, dan dedikasi para Bapak dan Ibu Guru

Dua bulan berlalu,
Sungguh bangga rasanya diberi kesempatan untuk tinggal bersama kalian, kawan
Banyak sekali hal yang dapat saya pelajari dari orang hebat seperti kalian

Apapun kata orang lain
Bagaimanapun penilaian orang lain
Kalian tetap luar biasa
Dan di malam yang sunyi ini saya berdoa
Agar kalian tetap diberi kemudahan dalam belajar
Kebaikan-kebaikan kalian, selama 2 bulan lalu, agar terbalaskan
Dan meskipun tidak terbalaskan di kehidupan sekarang, semoga lunas terbayarkan di hari perhitungan
Kemuliaan di bumi tidak akan tertukar, apalagi kemuliaan di akhirat. Tak akan pernah”
(paragraf terakhir sedikit banyak mengadopsi tulisan seseorang)

Judul tulisan ini ditujukan untuk kawan-kawan JBR02, khususnya SUB03
TFBA : THANKS FOR BEING AWESOME!

CBR!

 

JBR02