Vania wedding : Reuni singkat dan (kebun teh yang) menenangkan

Setelah ke tuban, weekend berikutnya saya menghadiri undangan nikah temen KKN di Djoglo Ageng Boyolali. Harusnya lebih dekat saya berangkat langsung dari Salatiga, namun dengan beberapa pertimbangan saya jumat malam ke Jogja untuk membersamai rombongan Jogja. Kumpul jam 6 lebih sedikit menit, kami (kevin, gilang, unin, yusqi, saya) berangkat menggunakan mobil sewaan menuju lokasi pernikahan. Geng Jakarta (devita, besov) rencana menyusul dari Semarang. Rencana awal menghadiri akad (jam 8 pagi) namun kami mendapat kabar bahwa kereta yang ditumpangi geng Jakarta terlambat satu jam sehingga tidak memungkinkan hadir sesuai rencana. Baiklah, kami fokus pada acara walimahan (jam 10 pagi).

Jam 8.30 rombongan Jogja sudah sampai di Boyolali untuk kemudian mencari sarapan. Berkeliling kota boyolali, kami menjatuhkan pilihan pada satu diantara sekian banyak warung Soto yang ada. Dari sekian banyak warung soto bertajuk “Soto Segeerr”, kami memilih yang extraordinary, standout in the crowd, yaitu “Soto Sedap”. Meski demikian, soto yang kami makan tetep saja ‘seger’. Entah kenapa. Selesai sarapan, saya berjumpa beberapa teman kantor divisi sebelah (Mechanical Engineer), yang ternyata sedang menuju Jogja untuk menghadiri LPDP Edu Fair di Sportorium UMY.

Dari warrung Soto Sedap, Kami lalu menuju DJoglo Angeng. Sesampainya di lokasi, kami tak segera masuk karena menanti rombongan Jakarta yang sedang otw dari Semarang. Setengah jam mungkin. Baru tampak Ibu pejabat beserta koleganya turun dari mobil. Dan masuklah kami. Konsepnya bukan prasmanan melainkan ‘piring terbang’ dengan layout kursi meja melingkar. Asik juga.

"mohon bersabar ini ujian"
“mohon bersabar ini ujian”

img-20170205-wa0019

Makanlah kami dengan beberapa jenis hidangan yang ‘terbang’ ke hadapan kami. Setelah itu ada khutbah nikah dari Pak Ustad yang dilanjutkan sesi foto-foto.

img-20170204-wa0016
#finallyAfter10Years
barakallah vania & dimas
barakallah vania & dimas

Setelah selesai acara kami menuju masjid agung boyolali untuk singgah sejenak, dan jajan sedikit. Kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi kedua yaitu Rumah&Kebun Teh Ndoro Donker. Yang kedua kalinya dalam 2 pekan ini bagi saya. -+2 jam perjalanan, kami sampai dan memesan 2 teko teh (camomile dan green tea) serta beberapa camilan. Sejuknya suasana perkebunan teh dataran tinggi karanganyar, kehangatan teh asli, dan obrolan bersama teman – yang – hanya – ketemu – kalau – ada – nikahan ini adalah nikmat yang sepatutnya disyukuri.

the ndoro donker!
the ndoro donker!

Kembali ke jogja menjelang maghrib dan mampir singgah di Masjid UNS (lagi), dengan diiringi playlist lagu mendayu-dayu, kami sampai di kosan kevin sekitaran jam 10 malam.

What a day. And see you all guys in the next wedding ceremony.

Advertisements

Otw Tuban : Kisah tentang Opor ayam, Keteguhan hati, dan Adrenalin.

Berawal dari bocoran undangan walimah Tika (Teladan2011) dengan mas Satria (2009), saya dan beberapa rekan pun merencanakan perjalanan ke Tuban sejak jauh hari. Hingga hari H pun semakin dekat, kami mendata peserta awayday ini. Umar, Jundi, Masipo, Amru, dan Afif adalah 5 orang pertama yang konfirmasi. Kemudian disusul Ipang. Dan terakhir, saya, setelah memastikan bisa cabut kantor nggasik. Sesuai kesepakatan, rombongan jogja kumpul di rumah Jundi dan berangkat dari sana selepas Isya. Sedang saya menunggu di Solo, tepatnya di sekitaran terminal tirtonadi. Ternyata saya sampai di Solo dua jam lebih cepat dari rombongan Jogja, jadi saya jalan-jalan dulu ke festival lampion di Pasar Gede sambil cari jajanan.

festival lampion
festival lampion

Sekitar jam 10 kurang saya diantar teman ke terminal, dan 10 menit kemudian mobil Umar sudah nampak. Berangkatlah kami ke ngawi. Ngawi? Ya karena kami berangkat malam, kami memutuskan transit istirahat di rumah Afif di Ngawi untuk paginya berangkat ke Tuban. Karena kanan-kiri jalan adalah pepohonan tinggi, dan alfam*rt yang jadi patokan jalan bentuknya juga identik, kami sempat berselisih paham salah jalan (putar balik, putar lagi). Dan alhamdulillah kami sampai di kediaman gopip jam 1 dini hari. Menandai kamar kecil, dan ngobrol sebentar, kami segera beristirahat. Sebenarnya, sekitaran adzan subuh kami sudah terbangun, dan siap melanjutkan perjalanan. Namun ternyata menikmati pagi di ngawi, samping stasiun kedunggalar, cukup menarik. Yang kemudian disusul dengan menu sarapan pecel + lauk pauk yang mantap dari keluarga Afif.

Kami beranjak dari kediaman Afif jam 8. Tujuan berikutnya ialah kulineran di Blora, tepatnya di Lontong Opor Ayam Pak Pangat, Pakuan, Cepu. Berdasarkan pengalaman, kami menyempatkan telpon untuk memesan 7 porsi lontong opor. Berangkat jam 8, kami sampai di lokasi jam 9.30. FYI, Ketika kami datang warung ini sudah memajang tulisan ‘Habis’ di depan.

(( habis ))
(( habis ))

Tak lama berselang pesanan kami datang. 7 porsi lontong dan sewadah besar opor berisi 7 potong ayam kampung tersaji.Tips untuk menikmatinya, pertama cicipi kuahnya dulu, dan resapi bumbu rempah yang melebur di lidah. Baru kemudian iris lontong, siram dengan kuah opor dan ayam kampungnya. Kuah dengan bumbu yang menggoda dengan ayam kampung yang sangat empuk. Sungguh nikmat yang tak mungkin kami dustakan. Sempat kami menengok dapurnya, tempat masak masih vintage menggunakan batu-bata, dan jumlah porsi opor ayam yang sudah siap saji ada banyak. Meski demikian, saat kami selesai makan, ada pengunjung baru datang yang ternyataharus kembali dengan kepala tertunduk karena sudah habis. Karena usut punya usut opor ayam di belakang tadi merupakan pesanan orang lain. Dan kami harap agar kejadian ini menjadi pelajaran untuk orang lain.

nikmat opor ayam pak pangat
nikmat opor ayam pak pangat
selfi sukaesih . credit to Mi5 apip
selfi sukaesih . photo by Mi5 apip
klasik terbaik .  photo by :  jundi
klasik terbaik .
photo by : jundi

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi walimah, Gedung Tri Dharma, Tuban. Bermodalkan algoritma dari Aljabar (yang diimplementasikan ke google maps), kami memilih jalan-jalan tembusan membelah bukit. Jalan aspal – konblok – beton yang silih berganti menjadi medan kami siang itu. Sempat putar balik karena salah point direction (gedung tri dharma bojonegoro instead of tuban), kami pun sampai di masjid terdekat (untuk mampir beribadah, salin, dan cuci muka) sekitar jam 2 siang. Segera setelah itu kami menuju gedung lokasi walimah.

barakallah, mas satria, tika
barakallah, mas satria, tika. photo by Mi5 Apip

Selesai jam setengah 4, kami istirahat sejenak di rumah singgah sampai menjelang isya, untuk pamit pulang jam 8 malam. Kami bertekad melewati jalan yang berbeda dari waktu berangkat, menghindari naik turun bukit. Dari Tuban menuju Bojonegoro, lalu Ngawi. Sudah set direction di google maps, bismillah, kami berangkat dengan Umar sebagai pemegang kendali dan saya navigasi. Awalnya jalan masih biasa, manusiawi, namun beberapa saat kemudian semakin menyempit dan gelap. Dengan modal yakin (dan google maps) kaami maju terus pantang putar balik. Ternyata rute kali ini pun membelah bukit juga, walaupun jalan aspal namun beberapa kali jalanan sama sekali tanpa penerangan dan tak ada kendaraan lain melintas. Se pa neng. Sepanjang jalan kami serius memperhatikan google maps (agar masih stay on the right track) dan jalanan (karena sumber penerangan hanya lampu mobil). Sinyal internet pun lenyap ditelan gelapnya jalanan. (Thanks to gmaps offline caching). Satu jam kemudian mulai nampak peradaban, dan jalanan gelap nan sunyi itu berakhir di dobel tikungan U tajam menukik. Sampailah kami di jalan raya Bojonegoro – Ngawi. Sempat kami berhenti sejenak di seberang Indo*ret, di pinggir jalan, untuk istirahat (tidur) selama kurang lebih 1 jam. Dan kami sampai di kediaman Apip jam 1 dini hari.

Keesokan harinya kami pulang ke jogja melalui Solo Surakarta. Karena hendak main sekalian kami set direction menuju Karanganyar tepatnya di kebun & kedai teh Ndoro Donker. Dari Ngawi kami menuju Karanganyar melalui dusun Gumeng. Ternyata jalan menuju Karanganyar dari arah Ngawi sungguh terlalu. Tak hanya tanjakan dan belokan curam, ada juga jembatan ujian. Jembatan yang sangat sempit sekali sehingga kendaraan yang kami tumpangi hanya menyisakan sekian cm di kedua sisi. Tak hanya driver, navigator pun ikut tegang dengan situasi demikian. Terasa keringat dingin membasahi telapak tangan.

img-20170130-wa0004

'jembatan ujian' *credit redmi note 3 masipo
‘jembatan ujian’ photo by: hape masipo

Tak lama kemudian kami sampai dengan selamat, alhamdulillah, di Kebun teh ndoro donker. Camomile tea adalah menu wajib pada kondisi ini. Khasiatnya yang mampu mengendurkan syaraf yang tegang seusai naik turun perbukitan. Kami juga mencoba appricot tea yang ternyata sangat harum. Juga sepertiga teko white tea. Beberapa camilan juga kami pesan untuk mengganjal perut. Sungguh ngeteh di tengah dinginnya perbukitan dan kebun teh di Karanganyar adalah nikmat duniawi yang tak terbantahkan.

panorama kebun teh
panorama kebun teh
'belajar selfi' . credit redmi note 3 masipo
‘belajar selfi’ . photo by: masipo

Puas ngeteh, kami pun pulang. Mampir di masjid UNS, dan makan siang di bakso kadipolo. Dan saya berpisah di Terminal Tirtonadi untuk kembali macul di Salatiga.
Semoga Allah masih memberi kami kesempatan untuk touring menghadiri walimahan lagi. Entah sahabat kami, atau salah satu dari kami. Biarkan waktu, dan undangan yang menjawabnya. Keep update!

kondangan

Kondangan : Reuni, dan Mudik yang singkat

Bermula dari wasap seorang teman serumah waktu KKN dulu.

“Om, jadi gimana, tanggal 5 bisa hadir? Undanganmu ta anter ke rumah po?”

Jadi teman saya itu (lili) mengabarkan bahwa prosesi pernikahannya dilaksanakan tanggal 5 september. Dan tentu, antusias kami (saya dan beberapa personil sub 3 yang diberitahu paling awal) cukup tinggi untuk dapat hadir di acara yang dihelat di Banjarnegara. Beberapa hari kemudian undangan resmi dirilis dan kami, menginisiasi sebuah grup whasap berisi anak JBR02 (selain lili) untuk membahas mengenai beberapa hal. Siapa saja yang hadir, kadonya gimana, berangkatnya gimana. Maklum lah, beberapa personil sudah tidak menetap di Jogja. Ada yang baru mulai merantau dan ada yang pulang ke kampung halaman. Dan dari ratusan obrolan di grup tersebut akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa untuk keberangkatan dibagi 2 kelompok: kelompok 1 dari Jogja barengan naik travel, dan kelompok 2 dari Jakarta naik kereta api tututut. Kelompok 2 pun terdiri dari 2A dan 2B. Kelompok 2A ialah kelompok Ibu-ibu hamil yang ngga boleh naik kereta ekonomi, dan kelompok 2B ialah sekelompok manusia yang belum-ada-yang-melarang naik kereta ekonomi.
Saya termasuk kelompok 2 yang berangkat dari stasiyun pasar senen. Mengendarai kereta super ekonomis, serayu malam, kami berjanji akan tiba dan bertemu di stasiun jam setengah sembilan malam (kereta take off pukul 9 malam). Saya yang sementara berdomisili di Tangerang, harus menempuh beberapa stasiun transit hingga turun di stasiun kemayoran dan naik bajaj sampai pasar senen. Di sana sudah menunggu Devita, Mas Nufus, Krisna. Krisna di sini hanya ingin berjumpa saja, dia tidak ikut dikarenakan suatu alasan tertentu. Jadi masih nunggu seorang lagi, Besov. Tak lama kemudian Besov datang dan kami segera check-in ke kereta. Dikarenakan ada seorang yang tiba-tiba batal ikut, alhasil lima tempat duduk ditempati oleh 4 orang. Lumayan lega. Menghabiskan waktu di kereta dengan ngobrol ke utara-selatan, nonton one-piece, tidur, hingga tak terasa hari sudah pagi. Ya karena namanya juga serayu, kereta ini menuju purwokerto dengan melintasi bandung jadi rute yang diambil lebih jauh. Sekitar pukul 8 pagi kami baru sampai di tujuan, stasiyun purwokerto. Dengan selamat, kantuk, dan kaki pegal-pegal. Alhamdulillah.

Baru beberapa langkah keluar stasiun, tim penjemput sudah menghampiri kami. Jadi, sesuai rencana, kelompok 1 berangkat dari jogja jum’at malam dan sampai purwokerto (rumah Dika) jum’at larut malam. Kemudian dini hari sekitar jam 4 mereka menjemput mba ayu (kelompok 2A) yang tiba lebih awal dan pagi harinya baru mereka menjemput kami yang tiba belakangan. Sesampainya di rumah Dika kami mandi – tiduran – sarapan (plus sesi curhat dan tanya jawab).

Jadwal acara resepsi dilaksanakan jam 12.30. Perkiraan perjalanan -+ 1,5 jam, kamipun berangkat jam 11 lebih dikit. Rombongan 9 orang ini dibagi ke dalam 2 mobil. Berbekal do’a, peta di undangan, GPS, google maps, dan petunjuk jalan, akhirnya kami tiba di lokasi sekitar jam 1 kurang 10menit.

squad kondangan
squad kondangan

Ternyata acaranya belum dimulai. Kami pun duduk di tempat yang disediakan. Di sana berjumpalah kami dengan teman kami, warga pribumi Banjarnegara : Dani. Karena kami tak ada yang mengabari lili bahwasanya akan hadir berombongan, alhasil dia agak terkejut sambil menahan tawa ketika melihat kehadiran kami. The Surprise, accomplished. Setelah melihat segala rangkaian adat dan sambutannya, tibalah saat yang ditunggu yaitu sesi bersalaman dan berfoto. Pada awalnya ada rombongan lain yang hendak berfoto, namun dengan sigap, Dani (humas nya subunit 3) segera meminta keringanan untuk kami dengan dalih keburu kehabisan angkutan pulang jogja. Bukan Dani namanya kalau gagal membujuk. Belum puas berfoto dengan pengantin, kami juga berfoto di parkiran mobil.

kondangan
#JBR02 at lili’s wedding
di parkiran, di jalanan, angkat skali lagi gelasmu kawan
di parkiran, di jalanan, angkat skali lagi gelasmu kawan

Demi mengejar bus malam untuk pulang Jogja, kami pulang segera. Mampir makan sebentar di soto sokaraja, kemudian pulang ke rumah Dika dan berkemas. Nah perjalanan dari rumah Dika ke terminal bus ini yang berbeda. 9 orang yang tadi dibagi dalam 2 mobil, sekarang, entah bagaimana caranya, harus muat dalam sebuah mobil avanza, plus 1 sopir. Seat tengah dan belakang dijejali dengan 4 makhluk yang segera merindukan ruang bernapas ini. Untungnya jarak rumah Dika dengan terminal hanya sepelemparan batu. Dan ternyata kami masih kebagian tiket bus efisiensi keberangkatan jam 7 malam. Alhamdulillah.

Oh, iya, dari 9 orang tadi, hanya 7 orang yang ke Jogja. Sedang Mba Ayu dan Mas Nufus kembali lagi ke ibukota. Awalnya saya ragu mau ikut ke Jogja atau langsung balik Tangerang. Namun dengan segala pertimbangan, ke Jogja saya pun kembali.

Sampai Jogja jam 11 malam, di ambarketawang kami dioper dengan shuttle bus menuju tujuan masingmasing. Saya turun duluan di pom bensin kadipiro. Ternyata Bapak sudah menunggu di sana. Tak langsung dibawa pulang, saya diampirkeun ke Gudeg batas kota. Rindu.

Walaupun minggu sore saya sudah harus berangkat ke Tangerang lagi, namun kepulangan ini tetap berarti. Ngobrol-ngobrol dengan ibuk, dicurhati simbah werno-werno, update berita sekitar. Tetap menyenangkan. Dan siangnya, kebetulan, MasPian dan Suban mengadakan syukuran menjelang penempatan definitf-nya, bersama rekan-rekan SMA. Bertempat di sambel welut Pak Sabar, kami yang memang penyabar ini menyantap habis belut-belut yang berkeliaran di meja makan. Sebenarnya siang itu juga anak JBR02 kumpul di kalimilk, namun dengan prinsip pembagian jadwal, karena Sabtu sudah full berjumpa berbahagia dengan mereka, maka hari Ahad saatnya gantian dengan yang lain. Mumpung kumpul.

sambel welut pak sabar. foto by toni, hape fadli
sambel welut pak sabar. foto by toni, hape fadli

Setelah itu saya segera pulang untuk bersiap kembali ke perantauan. Dan mungkin beberapa bulan lagi, baru kembali pulang. Dalam perjalan pulang, ternyata, di kereta yang sama ada Mas Sigit (elins 09), Devi dan Oni (teladan51) yang sama-sama kembali ke perantauan, ke ibukota.

“Karena rindu juga butuh jeda, dan jeda untuk rindu, adalah bertemu”

Selain syawalan, acara nikahan teman pun bisa jadi ajang reuni yang cukup ampuh.

Sampai jumpa lagi, di lain nikahan.

#latepost