Kopi Menoreh Pak Rohmat: Sebuah Pengalaman Kuliner

Sudah terlampau lama saya tidak menuliskan pengalaman kuliner. Kali ini saya menuliskan sedikit tentang kedai kopi yang spesial. Sudah ada sejak lama namun baru pekan kemarin saya sempat mengunjunginya. Namanya Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat. Cukup informatif. Kita bisa tahu kedai tersebut spesialisasinya ialah Kopi dari perbukitan Menoreh, dengan pemilik bernama Pak Rohmat. Awalnya saya tidak berekspektasi macam-macam. Sepintas googling, tahu bahwa kedai tersebut cukup jauh dari kota Jogja ( -+ 45 menit), tempat yang sangat alami (di tengah perbukitan) dan menyajikan kopi menoreh serta camilan khas pedesaan.

Rute yang ditempuh ialah melalui Jalan Godean lurus ke barat, sampai perempatan Nanggulan belok utara arah Dekso. Lurus sampai pertigaan Boro (ada plang petunjuk arah) belok kiri. Terus saja ikuti jalan hingga nanti menemui petunjuk tulisan “Kedai Kopi Pak Rohmat”, di sebelah kanan jalan, masuk (turun).

img_20161126_135841_hdr
tampak depan rumah Pak Rohmat

Pesanan saya waktu itu ialah Kopi Robusta plus Camilan Komplit. Kopi diseduh tubruk biasa, dengan 3 pilihan gula yang terpisah yaitu gula jahe, gula pasir, dan gula jawa. Camilan komplit terdiri dari 2 tahu goreng tepung (masih hangat), beberapa gebleg, singkong rebus, dan kacang rebus. Kombinasi suara aliran air sungai, ketenangan dan kesejukan perbukitan menoreh, menambah nikmat setiap sruput kopi dan camilannya. MasyaAllah. Selesai menikmati hidangan, saya ke atas untuk membayar pesanan saya. Dan sebelum pulang saya sempat sedikit berbincang dengan Bu Rohmat. Sangat ramah seolah saya adalah kerabatnya sendiri. Dan ternyata di sini setiap pengunjung yang baru, diminta mengisi buku tamu (nama, alamat, telpon, kesan pesan). Sungguh yuniq.

img_20161124_220753
kopi plus paket camilan lengkap

Beberapa hari kemudian saya kedatangan teman saya dari jakarta. Waktu dia mengajak cari tempat nongkrong, saya mengajaknya untuk mengunjungi kedai pak rohmat. Karena ke wisata alam berdua rasanya aneh, dan ke kafe-kafe biasa juga mudah dijumpai di jakarta. Berangkatlah kami ke mengunjungi Pak Rohmat. Waktu itu saya berangkat lebih pagi untuk menghindari hujan di sore hari. Sampai di lokasi teman saya langsung heran karena Pak Rohmat dan Bu Rohmat masih mengenali saya.
“Mau nyoba yang pas nggak hujan ya mas? Dulu itu pas pulang kehujanan nggak?” (in javanesse)

Saya jadi merasa sedang berkunjung ke rumah saudara sendiri.
Waktu itu tempat di tengah atas tidak penuh jadi kami langsung ke sana. Kami memesan kopi dan camilan komplit seperti biasa. Saat itu ada bapak-bapak sendirian di sebelah kami yang mengajak berbincang. Beliau ternyata rutin mengunjungi kedai ini sekalian membeli kopi bubuk untuk konsumsi harian. Beliau juga bercerita bahwa kopi-lah yang menyembuhkan penyakit yang dideritanya yang secara umum justru menjadi pantangan (Maag). Menurutnya, dari nasihat Pak Rohmat juga, bahwa tanaman kopi ini ditanam dengan penuh rasa sayang, ketelatenan, kesabaran, maka tidak mungkin akan mencelakai. That was so deep, man. Sesekali Pak Rohmat juga sempat ikut duduk berbincang bersama, juga kadang Bu Rohmat, bergantian dengan pengunjung lain.

img_20161124_150315
saung salah satu spot ngopi di sini

Dari kunjungan kedua ini saya semakin yakin bahwa di kedai ini kita tidak hanya membeli kopi maupun camilannya. Melainkan juga pengalaman. Pengalaman touring di jalan perbukitan, juga pengalaman sambutan pemilik yang menganggap kita seakan kerabat sendiri. Hal ini yang belum saya temukan di kedai kopi lainnya. Maka saya pun tak akan berpikir panjang jikalau ada kesempatan atau ajakan untuk kesana lagi.

1480860785966
kunjungan berikutnya, foto bersama Pak Rohmat (tengah)

Jadi, kapan kita kesana berdua saja?

Advertisements

Jenis Tempat Makan yang Laris

Waktu selo di weekend malam sehabis hujan ini akan saya isi dengan mengulas tentang tempat makan. Seperti pelajaran jaman sekolah kemarin, Pangan adalah salah satu dari tiga unsur kebutuhan primer manusia (sekarang kabarnya menjadi empat, dengan bertambahnya jaringan internet). Tak heran apabila bisnis/usaha makan-memakan tak pernah padam di belantika wirausaha nusantara. Dan pada zaman “mau makan apa? googling dulu deh” ini pun saya mengamati, terdapat beberapa jenis warung makan yang laris pengunjung. Pengamatan ini tak hanya di Jogja (walaupun hampir semua yang saya sebut jogja) karena saya sudah lama tak mengikuti perkembangan jajanan di kota sejuta kuliner ribuan.

Jenis pertama, tempat makan laris adalah tempat makan legendaris.

legend

Tak terbantahkan dong. Sudah sejak dahulu kala. Jauh sebelum ditemukannya media sosial. Ciri khas yang biasanya ada ialah foto mbah-mbah punggawa awal didirikannya warung itu, kemudian tempat makan yang seadanya namun mengajarkan kita apa artinya kenyamanan, kesempurnaan, ketertiban, dan kekenyangan, dan juga peralatan memasak yang masih otentik semisal tungku, gerabah, dsb. Tembok/dinding tempat makan yang  dihiasi hitam asap arang berkesan vintage namun alami. Beberapa contohnya ialah Gudeg pawon Janturan, Bakmi mbah mo mbantul, mangut lele Mbah Marto, ayam goreng Mbah Cemplung, dsb. Biasanya lagi, walau tempat tak begitu luas dan kadang mblusuk, namun tak jarang dijumpai mobil-mobil pengunjung parkir di sekitarnya. Menandakan bahwa makanan tersebut memang masuk ke segala kalangan.

Jenis kedua, tempat makan laris adalah tempat makan unik.

unik

dengan menganut salah satu prisnip dalam bertahan di dunia bisnis yaitu INOVASI, maka banyak bermunculan tempat makan unik nan kekinian. Keunikan bisa terdapat pada tempatnya, nama menunya, maupun makanannya. Ditambah dengan marketing yang mantap melalui sosmed, maka tempat makanan unik tersebut tak luput dari penjajak kuliner kekinian. Beberapa makanan yang menurut saya unik diantaranya adalah Rumah makan konsep penjara , konsep rumah sakit , es krim pot , moci eskrim , dan masih banyak lagi. Banyak yang berhasil mempertahankan (dan meningkatkan) konsumennya, namun ada pula yang hanya laris sesaat. Konsumen kebanyakan berupa remaja dan bapak/ibu yang belum terlalu tua yang masih memiliki rasa penasaran besar.

Jenis ketiga, tempat makan laris adalah tempat makan dengan tempat/pemandangan indah.

igabl

tak dapat dipungkiri lagi bahwa selain memenuhi kebutuhan jasmani akan asupan pangan, salahsatu/salahdua alasan masyarakat mencari tempat makan ialah memenuhi kebutuhan piknik atau refreshing. Juga kebutuhan akan posting gambar/foto selfi dengan background hits nan kekinian. Beberapa pengusaha cukup jeli memanfaatkan fenomena ini. Dan bahkan memang ada yang sengaja menata tempat makannya agar bisa dijadikan tempat foto prewed, foto buku kenangan, atau tempat resepsi pernikahan. Beberapa tempat makan yang menurut saya masuk kategori ini ialah Lemongrass Bogor, Secret Garden Jogja, Kebun teh ndoro donker, Nicole’s kitchen Bogor, dsb. Konsumen di sini juga beragam, dari anak muda sampai keluarga lengkap.

Kemudian jenis terakhir, tempat makan laris adalah tempat makan langganan/enak/murah

daily

Jenis ini sengaja saya jadikan satu karena parameter langganan , enak , dan murah setiap orang bervariasi nan subjektif. Misal saya, tempat makan di kategori ini ada bakmi jawa (ngasem, sabarmenanti, dan dekat rumah), mi ayam (tumini, sendowo, pak kliwon) ketoprak (lik min, cirebon), gudeg bu pardi, soto (bu cip, tamansari, pak soleh), ayam bakar/goreng (mas pri, kadipiro) angkringan (alkid, siswagraha, lik harjo, cuprek), “sate kere”, warung kopi, daaaan masih buanyak lagi. Saya juga yakin anda punya list banyak untuk kategori ini.

Jadi, dari kesekian tempat makan di atas, kamu mau makan di mana? yuk ku temenin

*sumber gambar:

http://jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/bakmi-jawa4.jpg..
http://yukplesir.com/wp-content/uploads/2016/01/YPGP3.jpg..
http://bantulmedia.com/wp-content/uploads/2015/05/mangut-lele-mbah-marto.jpg..
http://thefoodescape.com/wp-content/uploads/2014/03/DSCF8111.jpg..
http://hellobogor.com/wp-content/uploads/2015/07/IMG_0842.jpg..
http://blog.jamesadhitthana.com/wp-content/uploads/2016/01/JamesAdhitthana-SG2.jpg..
http://www.vitanona.com/wp-content/uploads/2015/11/Resep-Desert-Mochi-Ice-Cream-Kekinian.jpg..
http://damarsaloka.com/wp-content/uploads/2013/12/SAM_2019.jpg..
http://2.bp.blogspot.com/-W0hcBgDRv_U/U-hGrCWx5SI/AAAAAAAADj0/RTj1MHqx1zE/s1600/soto+pak+sholeh.jpg..