Merbabu via Timboa: Dihajar sejak awal

Berawal dari temuan Angga, yang katanya dia menemukan jalur pendakian menuju Merbabu ketika sedang iseng motoran di sekitaran rumahnya. Jalur itu bernama Timboa. Googling dan diketahui ternyata jalur itu merupakan jalur terpendek dan paling jarang dilewati. Kemudian beberapa pekan kemudian bersama Nova, dia survey ke basecamp pendakian dan bertanya mengenai angkutan ke sana.

Setelah cukup mengetahui persiapan, pasukan dikumpulkan. Awalnya Angga, Nova, Pascal, Saya. Kemudian semakin hari semakin bertambah dan berkurang. Hingga akhir ada 7 orang yang jadi berangkat menuju pendakian; Pascal, Bayu, Saya, Nova, Vegi, Firman, dan Sivi. Dijemput menggunakan mobil bak terbuka (pick-up), kami sampai di basecamp dan registrasi. Kemudian mulai pendakian sekitar pukul 9.30 pagi.

Memang, secara logika, kalau jalur ini adalah yang terpendek menuju puncak, maka konsekuensinya adalah kemiringan yang semakin parah. Sejak awal, dari basecamp, kemiringan jalurnya sudah mantap. Hingga beberapa meter dari gapura start pendakian, salah satu teman kami menyerah dan memilih kembali ke basecamp. Sepertinya memang dia belum persiapan fisik yang matang. Salah dua pelajaran yang dapat diambil adalah, ketika hendak naik gunung (apalagi untuk pertama kalinya) persiapkan fisik dengan matang. Olahraga rutin, perkuat bagian kaki dan juga punggung (karena bawa beban lebih berat dari biasanya). Dan yang kedua, ketika memang tidak siap&merasa tidak mampu, mundur/berhenti adalah keputusan terbaik. Dan ingat, anda sendiri lah yang dapat tahu kondisi fisik diri anda.

Jalur dari awal menuju pos 1 terasa sangat jauh. Selain mendaki cukup tajam, jalanan penuh tanah kering sehingga berdebu dan licin, serta banyak jalan yang masih tertutup rumput ilalang. Kemudian sekitar jam 13.15 kami sampai di pos 1. Perjalanan -+ 2jam 45 menit dari start (banyak istirahat). Lalu lanjut ke pos 2, kami sampai jam 14.00, berarti 45 menit dari pos 1. Jarak pos 1 ke pos 2 memang cukup dekat dan tidak terlalu panas&berdebu karena masuk ke area hutan.

Di pos 1 menuju pos 2, salah satu teman kami ada yang merasa tidak enak badan. Namun dia masih bersikukuh untuk melanjutkan pendakian. Sementara jalur pendakian pos 2 menuju pos 3 menurut saya sangat berat. Selain jaraknya yang cukup panjang, kemiringan yang curam, serta panas (sudah tidak di antara pohon2an rindang). Di jalur inilah kami sangat sering beristirahat, karena kondisi salah satu teman kami tersebut. 10 menit jalan, 5 menit istirahat. Hingga kemudian sampai jam 5 sore. Berarti perjalanan dari pos 2 ke 3 memakan waktu sekitar 2 jam 45 menit. Di pos inilah kami mendirikan tenda, mengingat teman kami yang sudah semakin lemas dan waktu juga semakin petang. Selesai tenda berdiri kami baru sadar bahwa di sebelah tenda ada sebuah makam kecil.

Tenda berdiri, kami berkemah, memasak, makan siang-malam dan ngopi-minum yang hangat-hangat. Jam 8 kami tidur karena berencana untuk lanjut summit jam 2 dini hari. Jam 2 kami bangun dan persiapan summit. 2 teman kami stay di tenda, dan 4 orang berangkat ke puncak jam 2.30. Dari pos 3 ke 4 cukup jauh, dan kami sampai sekitar jam 3.15. Perjalanan sekitar 60 menit. Dan kemudian menuju pos 5 yang cukup dekat dengan pos 4. Sekitar jam setengah 5 atau tepat waktu adzan subuh berkumandang, kami sampai di pos 5. Dan kami memutuskan untuk menunggu sunrise di Pos 5. Sejak dari pos 4 – 5, hawa dingin mulai merasuk tubuh. Selain suhu pada jam-jam tersebut memang rendah, ketinggian juga mempengaruhi hawa dingin ini. Sampai melepas sarung tangan untuk mengambil video timelapse pun hanya sanggup beberapa menit — karena tangan semakin lama serasa beku. Alhasil hanya foto-foto yang berhasil terabadikan.

Jam 5.15 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Jalan melalui sabana dengan pancaran sinar keemasan matahari terbit. Lelah, dingin seakan tersamarkan oleh pemandangan yang mengagumkan. Lanskap lautan awan di sekitaran Jawa Tengah, Gunung-gunung tetangga nampak menembus awan, seperti Gn. Merapi, Sumbing, Sindoro, Ungaran, Andong & Telomoyo. Tak lama kemudian kami sampai di puncak Batutulis, lalu dilanjutkan di puncak doa Siabi (baru pada tahu juga ada puncak bernama ini), dan pada akhirnya, dengan izin Allah, kami mencapai puncak Syarif! Pemandangan yang sangat epic dari ketiga puncak ini. Bunga-bunga edelweis juga nampak bermekaran.

Di puncak Syarif ini, hanya kami satu kelompok (4 orang) dan juga beberapa (5-6) warga sekitar yang berziarah di puncak (mungkin juga karena kebetulan semalam adalah malam 1 Muharam (1 Suro, kalau di Jawa). Itu juga berarti memang hanya kami, 1 kelompok yang mendaki Merbabu melalui jalur Timboa ini. Dari puncak Syarif juga nampak puncak lain Merbabu, yaitu puncak Kentengsongo. Puncak tersebut nampak lebih ramai akan pendaki yang melalui jalur lain (Suwanting, Selo).

Selesai menikmati&mengabadikan pemandangan, kami bergegas turun ke pos 3 untuk sarapan (sangat lemas&lapar sekali). Dibandingkan waktu naik yang memakan waktu 4 jam (termasuk istirahat foto2), turun kembali ke pos 3 memakan waktu 30-60 menit. Kemudian kami pun sarapan lalu sejenak istirahat. 30menit istirahat, kami berkemas, menggulung tenda untuk segera melanjutkan perjalanan turun ke basecamp. Siang hari matahari terasa sangat terik. Debu-debu di jalan bertebaran. Berbeda dengan perjalanan ketika naik, perjalanan turun terasa sangat cepat, meski juga menghabiskan banyak air minum. Itupun juga karna kami percaya di pos 1 ada pipa air yang berlubang yang airnya dapat diambil untuk langsung diminum.

Jam 11 kami berangkat dari pos 3, jam 12 kami sudah mencapai pos 2, kemudian jam 12.40 kami mencapai pos 1. Di pos ini selain istirahat kami juga mengisi ulang botol air minum dari air pegunungan yang mengalir melalui pipa berlubang kecil. Lalu kami melanjutkan kembali perjalanan, dan sampailah kami di basecamp pendakian jalur Timboa, pada sekitar pukul setengah 3. Sambil menuju jemputan mobil pickup, kami menyeduh kopi, teh, jahe wangi, di basecamp sambil melemaskan otot kaki. Mobil jemputan baru datang jam 5 sore, dan dengan rasa puas bercampur letih, kami pulang.

Terimakasih, Merbabu ♥

Summit series: Gn. Andong

Menurut wikipedia, gunung andong adalah gunung bertipe perisai (?). Memang sebenarnya banyak yang menyebutnya bukit karena medannya yang tidak terlalu curam dan ketinggian 1463 mdpl. Walau begitu menaiki gunung andong tetap perlu persiapan dan rencana.

Malam itu, Jum’at 13 April 2018, kami bersepuluh, berangkat untuk pendakian riang ke Gunung Andong. Berkumpul di rumah Wulan dan sedikit menikmati jamuannya berupa Nasi putih + kwetiau goreng pedas, kami sekalian mengemasi barang-barang kebutuhan. Dengan 4 sepeda motor dan 1 sepeda kayuh kami berangkat. Untuk pengendara sepeda kayuh sendiri, Paulus, sudah mendahului berangkat sejak jam 4 sore dari kantor. Sedangkan yang lain baru berangkat sekitar jam 9an malam. Kemudian sampailah kami di pos bawah pendakian untuk parkir kendaraan dan mendaftarkan pendakian.

Sejenak beristirahat di gubuk-gubuk di bawah yang tanpa penerangan (sempat listrik padam saat itu). Hingga sekitar jam entah berapa kami berangkat mendaki. Jalan santai dengan beberapa kali berhenti untuk water break. Hingga sekitar jam 2 pagi kami sampai di salah satu puncaknya. Rame.IMG_20180413_221419_HDR.jpg

10an lebih tenda sudah didirikan di puncak. Dengan angin yang cukup kencang dan sedikit gerimis kami mendirikan tenda, ngemil makanan ringan yang kami bawa, menyeduh minuman saset, dan bercengkrama. Sejurus kemudian kami menuju tenda masing-masing untuk tidur sejenak. Saat itu kami mendirikan 3 tenda, 1 khusus untuk perempuan (Wulan dan mbak Hasna) dan 2 untuk laki-laki masingmasing berisi 4 orang.

Subuh lewat beberapa puluh menit kami bangun. Kemudian menuju ke tempat pengamatan matahari terbit a.k.a sunrise. Namun Allah berkehendak lain. Kabut tebal menyelimuti langit pegunungan pagi itu. Bahkan sampai pukul 9 kabut masih timbul tenggelam. Alhasil kami hanya sedikit mengabadikan foto hingga kemudian berkemas dan turun gunung. Sekitar jam 10 kami turun, dan dengan pace yang lebih cepat dibandingkan saat naik, kami sampai bawah sekitar jam 12.

IMG_20180414_075104_HDR.jpg

Bebersih, sejenak istirahat, kami pun pulang, mampir makan siang sejanak di Waroeng Gunung. Kemudian kembali ke Salatiga. Saya sejenak tidur di Kontrakan untuk kemudian sorenya pulang ke Jogja. Alhamdulillah perjalanan kali ini, lancar (hanya sedikit drama Rifqi kehilangan HP dan ga akan sadar kalau ga dihubungi teman kantornya yang dihubungi penemu HP)