pitpitan #6 : nggowes ngepot ke candi bang-jo

Sekian lama setelah event pitpitan terakhir (pitpitan 5.5), akhirnya kami kembali. Berawal dari pelampiasan gagal mendaki gunung lawu, saya dan bos adit berinisiatif gowes pada sabtu (19 mei) pagi. Tujuan awal kaliurang, namun dengan berbagai pertimbangan, dan karena beberapa saat lalu mas zaman sempat mengajak gowes ke candi abang, saya putuskan tujuan kali ini ialah candi abang. Pengumuman sedikit mendadak (jum’at sore baru jarkom sms & facebook), alhasil hanya saya, adit, mas zaman,  iqro, dan fardani yang bisa hadir. Yap, fardani melakukan comeback setelah skip dari pitpitan #2 – #5,5. Kemudian saya pun mengajak teman-teman teladan 51. Personil yang konfirmasi hadir nambah 2 orang yaitu apip dj, dan suban.

Kumpul di depan JEC jam setengah 7. Begitulah kesepakatan kami. Saya berangkat dari rumah jam 6 lebih seperempat dan ternyata iqro sudah sampai di JEC (katanya sih salah perkiraan). Jam 6:40 saya tiba menyusul iqro di sebrang JEC. Kemudian menyusul apip, fardani, bos adit, dan suban. Mas zaman masih belum nampak, dan ketika ditelpon, ternyata mas zaman sudah wedangan di imogiri karena dikira nggak jadi. Akhirnya kami berenam berangkat. Belum ada yang pernah ke candi abang, namun setidaknya fardani lumayan paham ancer-ancernya. Walaupun di jalan juga tetap menggunakan teknologi GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Sempat kami tertipu, hingga melenceng jauh dari tujuan (malah menuju patuk gunungkidul). Namun akhirnya dapat kembali ke jalan yang benar. Sekitar jam 9 kami tiba di candi abang. Jalan yang menanjak dan berbatu jadi cerita tersendiri. Dan sejauh ini idealisme saya (tanpa nuntun) masih terjaga. Di kawasan itu kami disambut anak-anak smp yang sepertinya habis berwisata di candi abang. Ngobrol dan bercanda sebentar seakan kami masih seumuran mereka J Sampai di puncak, kami malah heran, mana candinya? Ternyata candi abang hanyalah gundukan tanah merah (ditumbuhi rumput) yang cukup tinggi, yang katanya dulu bekas candi. Istirahat dan ngemil2 sebentar sambil whatsapp – an. Pas cerita di grup WA, ada yang menyarankan

“lanjut ke candi ijo ajaa, candi tertinggi di jogja, bisa liat pesawat takeoff. Tapi gowesnya sampai ngepot soalnya jalannya nanjak banget”

Saya tawarkan ke teman2 dan jawabannya sama : “Pancalke!” Kami pun turun dan memutuskan lanjut ke candi ijo. Sebelumnya mampir dulu di gua sentono. Foto-foto dong.

candi abang (mana candinya?)
candi abang (mana candinya?)
sepeda diatas gundukan tanah merah
sepeda diatas gundukan tanah merah
gua sentono
gua sentono

Setelah tanya sana-sini kami menemukan jalan menuju candi ijo. Daaan, tanjakan pertamaa :

tanjakan pertama minta diberi
tanjakan pertama minta diberi

Setelah tanjakan tahap 1, kami berhenti di pitstop (kantor desa sambirejo). Sampai pitstop itu idealisme saya juga masih terjaga.

pitstop #1 kantor desa
pitstop #1 kantor desa

Ketika hendak lanjutm kami sempat tanya ke seorang warga masih berapa jauh lagi candi ijo. Jawabannya “pun cedhak, namung 1 kilo malih”. Lumayanlah, kami masih sanggup dengan jarak segitu. Daan tanjakann ini yang menyapa setelah pitstop:

tanjakan setelah pitstop1
tanjakan setelah pitstop1
ketika idealisme masih dipertahankan
ketika idealisme masih dipertahankan

1 kilo setelah pitstop idealisme masih terjaga, namun ketika di depan SD, cuaca semakin panas, idealisme ini akhirnya runtuh. Saya turun dan menuntun sekitar 50 meter menuju pitstop kedua (warung sembako mbak pur) Di sana ada bos adit, aqua dingin, dan ale-ale rasa anggur. Istirahat sejenak sambil menunggu rombongan apip, suban, dan fardani. Sedangkan iqro, sudah duluan di depan entah sampai mana. Sekitar 30 menit, kami berangkat lagi, ke atas. Kadang dikayuh, kadang dituntun. Tak sampai 30 menit ternyata candi ijo sudah tampak. Kami semakin bersemangat mengayuh menuntun sepeda ke atas. Hingga akhirnya :

candi ijo! gratis coy (parkir bayar)
candi ijo! gratis coy (parkir bayar)
candi tertinggi di jogja
candi tertinggi di jogja
foto bareng
foto bareng
foto bareng (lagi)
foto bareng (lagi)

Asli deh ini recommended tempatnya. Selain gratis masuknya, pemandangan candi tertinggi di jogja ini juga luarbiasa. Puas melihat sekeliling dan berfoto ria, kami turun dengan tujuan masjid (sholat dzuhur). Ketika sampai masjid, ban belakang sepeda fardani bocor!

Padahal menurut kesaksian warga setempat tambal ban terdekat ialah di jalan piyungan-prambanan yang berarti sepeda harus dituntun jauh di jalan turunan menuju jalan raya. Sempat terpikir untuk mencegat mobil terbuka/truk untuk mengangkut namun kami memilih sholat dan makan dulu di angkringan.

Ketika selesai makan tiba-tiba apip melihat sosok yang tak asing melintas di depan kami. Ternyata teman SMA yang juga akan berwisata ke candi ijo. Kami memanggil (dengan paksa, haha) mereka dan meminta tolong hendak meminjam motornya untuk mengangkut sepeda yang bocor tadi ke tambal ban. Sungguh, pertolongan Allah itu sangat dekat . Dan pertolonganNya dapat berupa apapun, salahsatunya konco kenthel 

Setelah masalah ban sepeda beres, kami pulang. Dan saya sampai rumah jam setengah 6 sore dengan rasa pegal-pegal di kaki (maklum sih ya, udah lama nggak nanjak seperti tadi).

Sekian cerita pitpitan #6, sampai jumpa di pitpitan #7!.

Advertisements

Pitpitan #5,5 : sermo satu putaran

Kok 5.5? karena destinasi yang sama seperti pitpitan #5 dan hanya 3 personil yang berangkat. Berawal dari rasa penasaran kami mengenai panjang lintasan waduk sermo satu putaran penuh, saya, iqro, miftah menginisiasi anggota pitpitan bro untuk kembali gowes ke waduk sermo. Dari sembilan personil, adit, sani, kiki, dan makin sudah ‘kapok’ gowes ke waduk sermo, deni masih kurang fit habis kecelakaan, sedangkan bos adit ada agenda lain. Praktis akhirnya juga cuma kami bertiga yang berangkat. Pokoke #oraMuntir. Tanggal 26 desember, jam setengah 7, kumpul di perempatan ringroad jalan wates. Iqro dan miftah sampai duluan, 2-5 menit kemudian baru saya datang menghampiri.

 

DSCN0625
iqro nunggu wong ngganteng
DSCN0638
pemandangan di jalan wates

Rute yang kami pilih, belajar dari kesalahan pengalaman yang lalu, ialah jalan wates. Memang lebih panas dan membosankan, namun yang penting tidak ‘aneh’ seperti kemaren, karena tujuan utama kami ialah mengitari waduk sermo. Akan tetapi, bukan berarti jalannya lurus-lurus saja, jalan ini juga banyak tanjakannya.

 

KKN cuy
KKN cuy
tanjakan terakhir sebelum sermo. bantai!
tanjakan terakhir sebelum sermo. bantai!

Jam 8:30 kami sudah sampai di pos peristirahatan menjelang masuk kawasan wisata waduk sermo. Jadi perjalanan hanya memakan waktu -+2 jam. Berbeda jauh dengan sebelumnya yang memakan waktu -+ 4,5 jam (7:30 – 11:50). Sejenak kami beristirahat, menghirup sejuknya udara sekitar waduk sermo dan mengisi bahan bakar untuk metabolisme (ngemil dan minum).

leren. klebus
leren. klebus

Jam 9 kami mulai melanjutkan perjalanan, masuk wilayah waduk sermo untuk mengitari waduk satu putaran. Jalan di pinggiran waduk sermo, selain udara sejuk, pemandangannya juga luar biasa. Ya karena iqro menggunakan sepeda balap maka praktis dia yang memimpin jauh di depan miftah, dan saya. Saya sih terlalu terlena dengan keindahan panorama alam jadi nggowesnya kelewat santai. Namun pas sadar miftah semakin jauh, saya mulai meningkatkan kecepatan. Ada di suatu waktu, iqro nampak di sebrang waduk dan teriak2 memanggil. Keliatannya sih dekat, tapi setelah saya telusuri jalannya, ternyata 10 kali lipat. Berikut ilustrasinya:

kurang lebih begini
kurang lebih begini
waduk sermo
waduk sermo

DSCN0660

Sepeda merah ini semakin cepat dikayuh hingga pada akhirnya saya dapat menyamai miftah (sakjane miftah sing nunggu.haha). Dan menjelang akhir putaran, mulailah tantangan datang. Matahari bersinar sangat terik, dan jalan mulai menanjak. Iya, nanjak! Daan idealisme saya runtuh di akhir putaran. Ketika jalan nanjak, ada portal! Praktis saya dan miftah harus turun di tengah2 tanjakan untuk membuka portal. Dan sepeda kami tuntun naik. Setelah tanjakan tersebut masih ada beberapa tanjakan menghadang, namun karena teduh dan tak ada halangan portal seperti tadi, semua dapat teratasi. Hingga menemui jalan yang kami tunggu2, jalan turun berkelok di tengah hutan J. Tanpa dikayuh, sepeda melaju kencang melalui jalan turunan yang teduh nan berkelok-kelok. Dan jam 10 kami sampai, menyusul iqro yang sudah sampai duluan di pos polisi awal kami berhenti. Jadi total waktu mengitari waduk sermo satu putaran (-+ 15km) ialah 1 jam saja. Jujur saya masih bersedia kalau ada yang mengajak bersepeda seperti itu lagi

leren lagi. puas!
leren lagi. puas!

Istirahat sejenak, kami langsung memutuskan untuk pulang. Melalui jalan yang sama, hingga waktu sholat dzuhur tiba, kami memutuskan berhenti di masjid al amin. Mandi, ganti kaos yang basah kuyup karena keringat, sholat, kemudian tidur. Jam 13:45 kami melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan perut kami kompak menagih jatah. Dan kami pun mampir di salah satu warung mie ayam, masih di daerah pengasih, kulonprogo.

cari yang dingin dingin dulu
cari yang dingin dingin dulu
masjid
masjid
makan siang dulu pak
makan siang dulu pak
warung miayam-bakso
warung miayam-bakso
jalan wates di siang hari
jalan wates di siang hari

Setelah makan kami segera lanjut pulang. Sempat berhenti mampir sholat ashar, kami tiba di jogja sekitar jam 4, dan saya sendiri tiba di rumah jam 5 kurang.

Sampai jumpa di edisi ke 6. Salam pitpitan, bro!

PITPITAN #4 : Borobudur, Wedang Ronde, dan Hujan

Halo bro! Kembali lagi dalam sekuel Pitpitan yang kali ini sudah memasuki episode ke-4. Kali ini kami mengangkat lagi wacana beberapa pekan sebelumnya yaitu : B2B, Bike2Borobudur! Setelah sekuel 1-3 yang semua tujuannya ke arah selatan, kami ingin mencoba hal baru yaitu ke utara dengan harapan tanjakan di awal akan lunas terbayarkan dengan turunan pada akhirnya. Walaupun tidak semua berjalan sesuai harapan. Dalam episode kali ini pesertanya ialah 3 anggota lama yaitu miftah, bos adit, dan saya sendiri, dengan tambahan 2 personil baru yaitu makin anak fixed-gear serta ale dengan sepeda barunya. Sedangkan pencetus ide, iqro, masih disibukkan dengan pembuatan kapal safinah-one yang akhirnya memperoleh juara 3!

Sabtu, 16 November 2013

Janjian di terminal njombor jam 05:30, saya berangkat dari rumah jam 5 kurang sekian dengan kalkulasi perkiraan waktu sedemikian sehingga agar paling tidak cuma telat 10 menit. Sekitar pukul 5:40-an saya pun tiba di meeting point yang ternyata saya datang paling awal. Sekitar 20menit kemudian datanglah Miftah, Makin, dan Ale. Dan baru 20-an menit lagi datanglah bos adit. Lengkap sudah. Sebelum berangkat tak lupa kami berdoa demi keselamatan dan kelancaran dalam perjalanan. Pukul 6:40 kami berangkat dari jombor.

makan mayol dulu biar bertenaga
makan mayol dulu biar bertenaga

Udara di jalan magelang masih sangat sejuk, dan menyejukkan. Kami melaju dengan santai, tidak terlalu cepat namun juga tidak bisa disebut pelan. Pas susunya! Sempat kami berpapassan dengan rombongan pesepedaa yang sepertinya sedang beradu cepat. Bos adit pun sempat berusaha mengejar, mungkin gara-gara seumuran dengan mereka. Haha

rombongan balapan
rombongan balapan

Selang beberapa menit kami tiba di penghujung wilayah propinsi D.I.Y dan memasuki wilayah propinsi Jawa Tengah.

selamat datang, Jawa Tengah!
selamat datang, Jawa Tengah!

Jam 8 kami berhenti sejenak untuk meregangkan kaki, serta minum-minum. Hingga tiba-tiba muncul sosok yang tidak misterius lagi, naik motor boncengan dengan ceweknya. Dewo! Ternyata dia barusan pulang dari dusun tempat KKN nya. Kalo komentar ale sih gini : “Ah, gue udah jauh jauh ke magelang, ketemunya elu juga wo!” . Dewo pun kembali memacu sepeda motornya, kembali ke Jogja. Sedangkan kami melanjutkan perjalanan yang belum ada setengahnya ini.

istirahat dan minum minum
istirahat dan minum minum
eh, ada dewo!
eh, ada dewo!

Perjalanan kami masih sangat panjang, dan terasa lama karena rute yang dilewati ialah jalan utama/ lintas kota magelang-muntilan. Hingga di tengah jalan miftah (dan saya) mengeluarkan gadget masing-masing, menyalakan GPS (Global Positioning System) mencoba mencari rute alternatif. Namun keterbatasan database dari GPS memaksa kami menggunakan GPS lain (Gunakan Penduduk Setempat) Kami berhenti pada suatu tikungan, bertanya pada bapak penjual rokok. Ternyata lewat tikungan tersebut juga bisa menuju borobudur. Tanpa pikir panjang kami mengikuti instruksi bapak tersebut. Walaupun hampir pada setiap tikungan kami berhenti untuk bertanya (lagi. dan lagi). Meskipun demikian, lewat jalan kecil lintas kampung memang selalu lebih berwarna. Ada kalanya kita melalui jalan paving dengan pemandangan sawah di kanan-kiri , juga sempat kita disoraki anak-anak SD “ayo, ayo!” “wah, apik, apik” sambil bertepuk tangan rame-rame ketika melalui SDN Sriwedar, Muntilan.

kiri kanan kulihat sawah!
kiri kanan kulihat sawah!
anak sd yang menyoraki kami, sangat meriah!
anak sd yang menyoraki kami, sangat meriah!

Hingga sekitar pukul 9:30 kami berhenti pada pitstop pertama yaitu Warung Nasi Liwet. Ternyata pada belum sarapan. Langsung saja bos adit dan makin mengambil nasi liwet beserta lauk dan sayurnya. Sedangkan saya yang sudah sarapan di rumah, ale, dan mifta yang belum mulai lapar lebih memilih minum dan ngemil gorengan serta pisang (pisang bermanfaat untuk cadangan energi, bro).

sarapan dulu
sarapan dulu

Hingga akhirnya, pukul 10:15 kami sampai di taman wisata candi borobudur. Hal pertama yang terpikirkan ialah foto. Kami menepikan sepeda, dan berjajar rapi di depan tulisan “taman wisata candi bodobudur” untuk berfoto. Setelah itu kami masuk kawasan taman wisata tersebut dan mencari tahu apakan sepeda diperbolehkan masuk ke kawasan candi borobudur. Ternyata tidak boleh. Kami pun mengurungkan niat masuk. Disamping sepeda tidak boleh masuk, tiket masuk yang cukup menguras kantong mahasiswa ini menjadi salahsatu penguat alasan. Kami pun akhirnya hanya beristirahat di warung terdekat sambil mencari informasi siapa tahu ada “jalur belakang”, hehe. Ternyata tidak ada jalur belakang, namun ada suatu lokasi di mana kita dapat menyaksikan candi borobudur. Kami segera mencari tahu lokasi persis candi tersebut. Tepat setelah sholat dzuhur kami menuju lokasi tersebut. Voila! Akhirnya ketemu. Memang sih candi nya jauh dan terlihat sangat kecil, namun tak apalah, setidaknya ada bukti kami pernah bersepeda ke borobudur. Langsung beberapa foto diabadikan dengan latar candi.

dekat pintu masuk taman wisata candi borobudur
dekat pintu masuk taman wisata candi borobudur
foto di depan candi!
foto di depan candi!
inilah, borobudur! (padahal jauh)
inilah, borobudur! (padahal jauh)
with our bikes
with our bikes

Setelah puas, kami kembali pulang. Kali ini rutenya berbeda, dengan ale sebagai penunjuk jalan menjanjikan rute lain dengan akhirnya melalui selokan mataram. Saya sih setuju aja karena dengan begitu bisa misah di tengah jalan, tidak perlu harus ke timur terlalu jauh. Namun ternyata tidak semulus perkiraan. Beberapa tanjakan dengan tiba-tiba menyapa kami. Persiapan belum matang memaksa kami menuntun sepeda pada beberapa tanjakan. Sempat kami berhenti pada penanda batas dusun yang mana terdapat label KKN PPM UGM 2013. Kami berfoto di depan batas tersebut dengan tujuan “ah, nanti pokoknya tak upload di grup bincang kkn 2013!” Dasar.

kkn ppm ugm 2013, subunit dusun trayem :p
kkn ppm ugm 2013, subunit dusun trayem :p

Sekitar jam 2 siang, hujan yang tadinya gerimis mulai lebat, dan kami memutuskan berteduh sekalian beristirahat di masjid terdekat. Saking lelahnya kami tertidur pulas di serambi masjid.

di serambi masjid
di serambi masjid
tertidur, pulas
tertidur, pulas

 

Sampai setelah sholat ashar, dan hujan reda, kami melanjutkan perjalanan pulang. Ternyata jalanan ini semakin terasa asing. Sehingga kami selalu tanya kepada warga mengenai arah ke Jogja. Dan tak lama kemudian, hujan turun. Semakin lama semakin deras, memaksa kami berhenti dan mengenakan jas hujan darurat (yang bahannya semacam kantong plastik). Itu menjadi pengalaman pertama saya bersepeda menggunakan jas hujan darurat. Dengan jas hujan itu, praktis hanya kepala hingga perut yang terlindungi. Celana basah kuyup.  Padahal hujan semakin deras,  jalanan semakin asing, dan warga semakin sedikit yang tersedia di luar rumah untuk ditanyai. Perut juga semakin lapar. Hingga akhirnya kami menemui penjual gorengan, dan wedang ronde. Kami singgah sejenak, mengisi perut dan menghangatkan badan. Donat, telo, tempe, pisang, dan tahu cukup buat menenangkan orkes keroncong yang sudah bermain lama di dalam perut. Saat istirahat itu hujan mulai reda dan kami pun lega. Tanya ke penjual gorengan dan mengetahui bahwa kami sudah semakin dekat dengan tujuan (jombor).

basah kuyup, kelaparan. dihangatkan dengan wedang ronde dan gorengan
basah kuyup, kelaparan. dihangatkan dengan wedang ronde dan gorengan

Namun setelah kami beranjak untuk melanjutkan perjalanan pulang, hujan kembali turun. Deras. Tanpa ragu kami menerobos hujan deras. Mau gimana lagi, udah jam 5 sore, semakin mendekati gelap. Dan semakin lama hujan semakin bersemangat mengguyur kami berlima. Kaki yang semakin lelah, badan yang semakin kedinginan, tidak mampu memperlambat laju sepeda kami. Karena kami (saya) termotivasi dengan gambaran rumah, lengkap dengan makanan dan kasur! Akhirnya kami tiba di dekat pasar sleman. Saya memisahkan diri untuk langsung ke selatan sementara teman-teman ke timur dan menuju jalan magelang. Dan ternyata bersepda sendirian dalam kondisi seperti ini (hujan deras, kaki mulai kelelahan) terasa amat berat. Namun saya tetap memaksakan kaki mengayuh sepeda secepat mungkin mengingat waktu sholat maghrib sudah tiba ketika saya sampai di kompleks pemerintah kabupaten sleman. Terus sepeda saya kayuh , melalui ringroad – jalan kabupaten. Ternyata sempat ada penutupan jalan yang sedang diperbaiki di jalan kabupaten. Untungnya saya naik sepeda, jadi tidak perlu memutar jauh, cukup mengangkat sepeda melalui kolam, dan melewati perbaikan jalan. Semakin dekat rumah, semakin cepat sepeda ini melaju. Hingga pada akhirnya, sekitar pukul 18:30 saya tiba di rumah dengan rasa pegal luar biasa di kaki.

Sembari menikmati semangkuk sop hangat dan segelas teh panas, cerita pitpitan #4 ini saya akhiri.

Terimakasih dan,

Sampai jumpa pada pitpitan #5 dengan unknown partners, unknown destination.

Be there!

“Hiduplah seperti orang bersepeda. Kita harus senantiasa bergerak jika tidak ingin terjatuh. Meskipun kadang perlu untuk diam, berhenti sejenak,guna mempersiapkan langkah selanjutnya”

Pit-pitan #3 : Jalan Panjang Menuju Laut Biru

Halo sobat kolik! Serial Pit-pitan sudah mencapai episode ke-3. Iya, ketiga. Setelah kita bisa move-on dari suasana KKN, tim pit-pitan segera merapat membahas destinasi berikut. Dan satu kata yang langsung disepakati yaitu : PANTAI! Opsi antara pantai kwaru, pantai samas, baron, dan parangtritis mulai bermunculan, dan setelah diskusi panjang lebar akhirnya diputuskan destinasi berikutnya yaitu : Pantai Parangtritis + Depok.
Tanggal

Setelah destinasi disepakati, hal kedua yang sangat krusial untuk disepakati ialah tanggal. Yak karena beberapa ada yang sibuk ada yang selo dengan waktu yang tak bersamaan, akhirnya disepakati tanggal  September 2013. Dengan konsekuensi Mas Adit dan Mas Zaman tidak bisa ikut. Yah, kurang rame sih kalo cuma bertiga. Nambah personil juga belum ada yang minat. Hingga pada detik-detik menjelang keberangkatan, Rio, mahasiswa kotagede, sms ke nomor saya mau pinjem sepeda karena dia berminat ikuta pit-pitan. Langsung saja saya sanggupi. Lumayan lah berempat jadi lebih rame.

Hari-H pun tiba, kami janjian jam 6 ketemu di nol kilometer. Dan rio pun sudah datang mruput ke rumah jam 5.30 buat nukerin motor sama sepeda di rumah. Walaupun ban sepeda sempat lepas, akhirnya saya dan rio berangkat menuju meeting point. Kurang lebih jam 6:25 kami bertemu miftah dan iqro’ di nol kilometer. Dari sana rute kami ialah melalui alun-alun lor – alun-alun kidul – jalan parangtritis – pantai! Pas lewat alun-alun utara ternyata pintu halaman kraton ditutup jadi mesti gotong sepeda dikit buat lewat.

DSCN9005

Dari alun-alun lor dan kidul kami menuju jalan parangtritis. Keliatannya sih simpel rutenya. Tinggal ikutin jalan parangtritis terus ntar juga samapai di pantainya. Iya sih, nggak salah itu. Tapi jalan parangtritis itu panjangnya 20an km. Ya mungkin dibandingkan jalan waktu ke mangunan dan pajangan, yang ini mah nggak ada tanjakan se heboh itu. Dan justru itu, jalan aspal yang lurus, panas, banyak polusi kendaraan itulah yang jadi tantangan pada Pit-pitan #3 kali ini. Padahal pada awalnya saya sempat sesumbar “ah ke parangtritis mah nggak ada apa-apanya dibandingin sama ke mangunan kemaren” tapi ternyata cukup melelahkan. Memakan waktu kurang lebih 2 jam hingga kami sampai di pantai parangtritis.

DSCN9016
jembatan jalan parangtritis
DSCN9017
pintu masuk kawasan wisata parangtritis

dan finally, Pantai Parangtritis! Sebenernya udah sering pake banget kalo ke sini, tapi kalo nyepeda seperti ini entah kenapa timbul rasa puas tak tertahankan (opoh). Dan agenda kami disini ialah main air dan tentunya, foto.

(wah ada motor lewat)
(wah ada motor lewat)
sepeda dan pantai jadi teman baru..
sepeda dan pantai jadi teman baru..
*adegan kekerasan ini hanya fiktif belaka*
*adegan kekerasan ini hanya fiktif belaka*

Setelah puas bermain air, sekitar jam 10 kami keluar dari pantai parangtritis dan menuju pantai depok. Niat awal sih makan sekalian, seafood gitu. Tapi pas sampai sana malah bingung. Disamping pengunjung sangat ramai, dan penjual yang dengan setia mengikuti gerak-gerik kami, kami mengurungkan niat untuk makan disana, dan memilih cari makanan lain pada perjalanan pulang. Jam 11.15 kami meninggalkan pantai depok untuk pulang sekalian cari makan. Saat pulang ini lah saat paling berat. Panasnya ngenthang-ngenthang kalo orang jawa bilang. Untung tidak cukup jauh udah banyak warung makan. Dan pilihan kami jatuh pada warung soto-miayam-bakso. 3 porsi Soto ayam dan 1 porsi mie ayam dipesan. Bahkan saking laparnya, gorengan satu wadah habis disantap 4 orang kelaparan ini.

soto ayam segar+gorengan sewadah ludes!
soto ayam segar+gorengan sewadah ludes!

Selepas itu, kami pulang ke rumah/kos masing masing.
Sekian cerita tentang pitpitan#3, sampai jumpa di Pitpitan #4!