Otw Tuban : Kisah tentang Opor ayam, Keteguhan hati, dan Adrenalin.

Berawal dari bocoran undangan walimah Tika (Teladan2011) dengan mas Satria (2009), saya dan beberapa rekan pun merencanakan perjalanan ke Tuban sejak jauh hari. Hingga hari H pun semakin dekat, kami mendata peserta awayday ini. Umar, Jundi, Masipo, Amru, dan Afif adalah 5 orang pertama yang konfirmasi. Kemudian disusul Ipang. Dan terakhir, saya, setelah memastikan bisa cabut kantor nggasik. Sesuai kesepakatan, rombongan jogja kumpul di rumah Jundi dan berangkat dari sana selepas Isya. Sedang saya menunggu di Solo, tepatnya di sekitaran terminal tirtonadi. Ternyata saya sampai di Solo dua jam lebih cepat dari rombongan Jogja, jadi saya jalan-jalan dulu ke festival lampion di Pasar Gede sambil cari jajanan.

festival lampion
festival lampion

Sekitar jam 10 kurang saya diantar teman ke terminal, dan 10 menit kemudian mobil Umar sudah nampak. Berangkatlah kami ke ngawi. Ngawi? Ya karena kami berangkat malam, kami memutuskan transit istirahat di rumah Afif di Ngawi untuk paginya berangkat ke Tuban. Karena kanan-kiri jalan adalah pepohonan tinggi, dan alfam*rt yang jadi patokan jalan bentuknya juga identik, kami sempat berselisih paham salah jalan (putar balik, putar lagi). Dan alhamdulillah kami sampai di kediaman gopip jam 1 dini hari. Menandai kamar kecil, dan ngobrol sebentar, kami segera beristirahat. Sebenarnya, sekitaran adzan subuh kami sudah terbangun, dan siap melanjutkan perjalanan. Namun ternyata menikmati pagi di ngawi, samping stasiun kedunggalar, cukup menarik. Yang kemudian disusul dengan menu sarapan pecel + lauk pauk yang mantap dari keluarga Afif.

Kami beranjak dari kediaman Afif jam 8. Tujuan berikutnya ialah kulineran di Blora, tepatnya di Lontong Opor Ayam Pak Pangat, Pakuan, Cepu. Berdasarkan pengalaman, kami menyempatkan telpon untuk memesan 7 porsi lontong opor. Berangkat jam 8, kami sampai di lokasi jam 9.30. FYI, Ketika kami datang warung ini sudah memajang tulisan ‘Habis’ di depan.

(( habis ))
(( habis ))

Tak lama berselang pesanan kami datang. 7 porsi lontong dan sewadah besar opor berisi 7 potong ayam kampung tersaji.Tips untuk menikmatinya, pertama cicipi kuahnya dulu, dan resapi bumbu rempah yang melebur di lidah. Baru kemudian iris lontong, siram dengan kuah opor dan ayam kampungnya. Kuah dengan bumbu yang menggoda dengan ayam kampung yang sangat empuk. Sungguh nikmat yang tak mungkin kami dustakan. Sempat kami menengok dapurnya, tempat masak masih vintage menggunakan batu-bata, dan jumlah porsi opor ayam yang sudah siap saji ada banyak. Meski demikian, saat kami selesai makan, ada pengunjung baru datang yang ternyataharus kembali dengan kepala tertunduk karena sudah habis. Karena usut punya usut opor ayam di belakang tadi merupakan pesanan orang lain. Dan kami harap agar kejadian ini menjadi pelajaran untuk orang lain.

nikmat opor ayam pak pangat
nikmat opor ayam pak pangat
selfi sukaesih . credit to Mi5 apip
selfi sukaesih . photo by Mi5 apip
klasik terbaik .  photo by :  jundi
klasik terbaik .
photo by : jundi

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi walimah, Gedung Tri Dharma, Tuban. Bermodalkan algoritma dari Aljabar (yang diimplementasikan ke google maps), kami memilih jalan-jalan tembusan membelah bukit. Jalan aspal – konblok – beton yang silih berganti menjadi medan kami siang itu. Sempat putar balik karena salah point direction (gedung tri dharma bojonegoro instead of tuban), kami pun sampai di masjid terdekat (untuk mampir beribadah, salin, dan cuci muka) sekitar jam 2 siang. Segera setelah itu kami menuju gedung lokasi walimah.

barakallah, mas satria, tika
barakallah, mas satria, tika. photo by Mi5 Apip

Selesai jam setengah 4, kami istirahat sejenak di rumah singgah sampai menjelang isya, untuk pamit pulang jam 8 malam. Kami bertekad melewati jalan yang berbeda dari waktu berangkat, menghindari naik turun bukit. Dari Tuban menuju Bojonegoro, lalu Ngawi. Sudah set direction di google maps, bismillah, kami berangkat dengan Umar sebagai pemegang kendali dan saya navigasi. Awalnya jalan masih biasa, manusiawi, namun beberapa saat kemudian semakin menyempit dan gelap. Dengan modal yakin (dan google maps) kaami maju terus pantang putar balik. Ternyata rute kali ini pun membelah bukit juga, walaupun jalan aspal namun beberapa kali jalanan sama sekali tanpa penerangan dan tak ada kendaraan lain melintas. Se pa neng. Sepanjang jalan kami serius memperhatikan google maps (agar masih stay on the right track) dan jalanan (karena sumber penerangan hanya lampu mobil). Sinyal internet pun lenyap ditelan gelapnya jalanan. (Thanks to gmaps offline caching). Satu jam kemudian mulai nampak peradaban, dan jalanan gelap nan sunyi itu berakhir di dobel tikungan U tajam menukik. Sampailah kami di jalan raya Bojonegoro – Ngawi. Sempat kami berhenti sejenak di seberang Indo*ret, di pinggir jalan, untuk istirahat (tidur) selama kurang lebih 1 jam. Dan kami sampai di kediaman Apip jam 1 dini hari.

Keesokan harinya kami pulang ke jogja melalui Solo Surakarta. Karena hendak main sekalian kami set direction menuju Karanganyar tepatnya di kebun & kedai teh Ndoro Donker. Dari Ngawi kami menuju Karanganyar melalui dusun Gumeng. Ternyata jalan menuju Karanganyar dari arah Ngawi sungguh terlalu. Tak hanya tanjakan dan belokan curam, ada juga jembatan ujian. Jembatan yang sangat sempit sekali sehingga kendaraan yang kami tumpangi hanya menyisakan sekian cm di kedua sisi. Tak hanya driver, navigator pun ikut tegang dengan situasi demikian. Terasa keringat dingin membasahi telapak tangan.

img-20170130-wa0004

'jembatan ujian' *credit redmi note 3 masipo
‘jembatan ujian’ photo by: hape masipo

Tak lama kemudian kami sampai dengan selamat, alhamdulillah, di Kebun teh ndoro donker. Camomile tea adalah menu wajib pada kondisi ini. Khasiatnya yang mampu mengendurkan syaraf yang tegang seusai naik turun perbukitan. Kami juga mencoba appricot tea yang ternyata sangat harum. Juga sepertiga teko white tea. Beberapa camilan juga kami pesan untuk mengganjal perut. Sungguh ngeteh di tengah dinginnya perbukitan dan kebun teh di Karanganyar adalah nikmat duniawi yang tak terbantahkan.

panorama kebun teh
panorama kebun teh
'belajar selfi' . credit redmi note 3 masipo
‘belajar selfi’ . photo by: masipo

Puas ngeteh, kami pun pulang. Mampir di masjid UNS, dan makan siang di bakso kadipolo. Dan saya berpisah di Terminal Tirtonadi untuk kembali macul di Salatiga.
Semoga Allah masih memberi kami kesempatan untuk touring menghadiri walimahan lagi. Entah sahabat kami, atau salah satu dari kami. Biarkan waktu, dan undangan yang menjawabnya. Keep update!

Advertisements

Trip to Sri Getuk – Wonderfull waterfall in southmountain (part II – end)

halo bro,ini lanjutan cerita kemaren (sri getuk part 1), ndak selak lali ceritane,mumpung rodo selo tak lanjut sekarang lah. mungkin anda penasaran,siapakah anak piyungan yang dengan setia menanti di prapatan berdesakan berebut tempat dengan para pengamen *ora ding.. dialah riyan (yakin ki aku ndelok buku taunan sek,lali jeneng asline) atau yang kerap disapa boleng (bocah nggeleleng po opo singkatane). singkat cerita kami melanjutkan perjalanan dengan skuad hampir penuh (masih ada 2 orang(?) lagi yang katanya nyusul). dan di jalan wonosari dengan tingkat kemiringan jalan yang fluktuatif kami lalui dengan santai dan sepertinya tidak banyak yang bisa di ceritakan disini.

akhirnya sampailah kami di loket masuk wisata sri getuk. tiap kepala mbayar 5ribu (aku dibayari jundi e,mbuh wes tak ijoli po durung) dan itu sudah termasuk wisata gua rancang kencana, dan parkir. Kan eman eman kalo udah mbayar tapi nggak mampir, jadi kami putuskan mampir di gua rancang kencana. Di tengah-tengah gua ada pohon yang besarnya melebihi risal, dan di ujungnya ada ruangan kecil yang konon katanya tempat menyusun rencana (mbuh rencana opo). pas mau masuk ruangan kecil ada seorang pemandu yang bercerita sejarah gua ini. dan ini kutipan percakapannya:

pemandu : nah kalo pohon besar yang didepan itu umurnya sudah ratusan tahun,sudah diteliti fakultas kehutanan
risal : wah kui le nandur boleng,umur e meh podo
boleng: hahasem,daripada stalaktit e kae tibo mak tlepok dadi koe sal
*ngakak kabeh

setelah itu kami diajak masuk ke ruangan yang sangat sempit, dengan pintu masuk berukuran sangat kecil(tapi mbuh piye carane kok risal iso mlebu). tak lama kemudian kami keluar dan foto-foto. pas keluar tiba-tiba datanglah teman kami, yang (katanya) sudah move-on, ma’ruf . dan langsung ikutan foto. buat yang penasaran bentuk gua rancang kencana,  kurang lebih seperti ini penampakannya :

ora ding. haha, ini foto-foto yang asli, :

DSC_0272 grk grk2

seusai foto kami segera menuju tempat tujuan utama : sri getuk waterfall. jalannya lumayan asik (persis jalan deket rumah saya kalo pas musim hujan, bechek bechek). dan, alhamdulilah kami sampai di tempat tujuan, srigetuk, dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia .. #eh. ternyata ada satu teman lagi yang suka makan semut, fadli, yang sudah nunggu di parkiran (paling yo nyambi markir i). lengkap sudah. dari tempat parkir kami jalan kaki untuk menikmati pemandangan air terjun di sana. jalan cukup menantang, licin bak belut mandi oli, becek, ditambah lagi tak ada ojek. hampir beberapa kali saya dan teman-teman tergelincir namun karena tekad yang bulat dan niat yang kuat serta didukung kualitas sandal jepit yang oke, kami selamat. ya,kami semua,tak terkecuali risal.

segera kami mencari tempat berteduh dari air hujan dan terik sinar matahari. sembari makan cemilan yang dibawa dari rumah dakir. dan tak lupa foto-foto buat ganti profpic. ada satu hal yang sangat disayangkan.karena curah hujan yang tinggi menyebabkan keruh. bukan, bukan muka teman saya yang keruh, tapi airnya! dan itu mengurungkan niat saya untuk terjun bebas seperti air. tapi tak apalah, toh pemandangannya tetap keren. ini oleh-oleh foto :

sri srii

sebelum pulang, kami mampir ke warung makan di tempat. enak dan harganya nggak mahal seperti perkiraan saya. tapi pas mau mbayar ada sedikit kesalahan pada ibu sang penjual. padahal di menu sudah jelas tertera :

Ayam Goreng + Nasi = Rp 8.000

tapi pas di nota tercantum harganya 10ribu, langsung lah kami yang notabene mahasiswa kritis dengan kejanggalan (apalagi menyangkut masalah uang dan merugikan), segera mengklarifikasi ke pihak terkait (dalam hal ini ibu penjual). dan tanpa debat kusir, debat masinis atau debat pilot si ibu mengalah dan kami membayarkan dengan muka berseri seri.

srimakan

then we go home (dakir’s).
sampai rumah dakir kurang lebih jam 4 kurang dikit. dan rasa capek+ngantuk tak tertahankan. lagi asik ngobrol tibatiba ada yang memanggil melambai-lambai kepada saya : kursi empuk+bantalannya. sontak saya tertidur. mungkin sekitar 15menit yo, dan pas bangun, SEPI. rumah dakir yang tadi penuh tawa anak-anak sekarang sepi. saya keluar dan ternyata dakir di luar habis melepas kepulangan teman-teman. haha, padahal tadi saya sempat ngece jundi yang biasa tidur sak nggon-nggon. malah…entah mungkin karena faktor kursi tamu yang sangat nyaman (yakin,ra ngapusi)..

dan seiring dengan mendung yang semakin gelap,amarah saya sudah reda dan saya pun siap pulang. pamit ke dakir dan pulang. ke rumah. rumah saya.
sekian.

to be continued, in my next trip, don’t know where, don’t know when, don’t know whom i’ll go.
thanks for reading.and don’t leave anything except comment.

Trip to Sri Getuk – Wonderfull waterfall in southmountain (part I)

Lama-lama bosen juga posting an serius,
Cerita dikit lah, tentang minggu tenang liburan kemaren.
kejadian ini bermula dari hari Ahad, tanggal 30 Desember, malam hari (lupa jam berapa). Pas lagi asik nerusin main COD:BlackOps2, tiba-tiba HP geter, ada sms. rodo ganggu sih, tak terusin main game nya sampe masson nya mati (entah berapa kali si mason ini mati) lalu baru saya buka sms tadi. ternyata dari si suban. isinya kuranglebih seperti ini:

Ndro,sesuk melu neng sri getuk yo.kumpul teladan jam 9. ono aku, jundi, tapir, dakir, risal, momo. liyane dijaki

I’M IN! gimana nggak kepingin,liat foto-foto srigetuk yang keren:

tanpa pikir panjang, langsung tak forward ke beberapa anak2 yang belum disebutin di sms. baru sms suban saya bales. intinya ikut, tapi usul kumpul nya jam 7. pengalaman beberapa waktu lalu pas cabut ke wediombo janjian kumpul jam 8 akhirnya berangkat jam 10 dan perjalanan hampir 2 jam (opo malah lebih,mbuh lali) sehingga sesampainya di pantai panasnya ngentang-ngentang. so, akhirnya suban merevisi jarkom sms untuk kumpul teladan jam 7. (oke,berarti mangkat setengah 8, haha).

setelah itu, saya jadi sulit pitik tidur. bukannya nggaksabar mau touring,tapi emang ngelanjutin main COD.  ——->and then ,the day. seperti biasa bangun tidur, mandi, sarapan. trus jam 7.30an cuss ke sma. kurang dari 5 menit udah sampai, padahal sma1 ada di jogja, rumahku di sleman. dan sesuai dugaan saya keadaan sekolah masih sepi.cuma terlihat pak satpam di deket pintu. *ndlogok kabeh. dan kuputuskan nunggu di bangku depan murni (burjo an).

DSC_0054

kurang lebih 30menit datang si konco tipis (tak setebal bibirnya) , risal. pringas pringis. disusul 5menit kemudian pangeran dari tiwir, uzi  momo. seperti biasa, bicara ke utara-selatan (baca: ngobrol ngalor ngidul) dan baru 45menit kemudian datanglah anak yang paling berjasa dalam mengajarkan kesabaran, ozy curut. tapi penantian belum selesai, masih nunggu 1 orang lagi yang turun gunung dari pakem, doek. 5menit setelah kedatangan curut, doek pun datang. langsung kami cabut ke rumah dakir. pas mau berangkat, ada kutipan yang tak terlupakan.

curut : sal, awakdewe boncengan yo, kita kan go green(mbuh dong artine po ora)!

risal : yoh

curut: tapi nggo motormu yo! << langsung do ngakak, ini modus, yang ngajakin go green siapa, yang suruh ngorbanin bensin siapa.

risal : asem i

curut: rapopo, tak bayar 5ewu wes << tambah ngakak meneh

risal: dipikir aku tukang ojek

*dan ketika tertawa sudah mereda tibatiba curut ngomong

curut: eh, 4ewu wae yo..
*dan statement terakhir curut ini yang marai emosi, marai ngakak sakpole.posisikan saja,dalam kisah ini, anda sebagai risal.udah disamain tukang ojek,bayar 5ribu dari jogja-wonosari(mana ada ojek harga segitu), ditawar 4ribu malah! hargadiri mana hargadiri?haha, *gojek iki sal,rut.

Selesai urusan bonceng membonceng, kami langsung kami berangkat ke rumah dakir.  disana kami disambut dengan hangat oleh beberapa pendahulu yatu dakir(jelas) , jundi, suban, kodok, dan irfan. setelah duduk bentar basa-basi, kami ditawari makan pagi (part II) oleh ibunya dakir. dan,seperti biasa,tanpa malumalu anak-anak menyerbu makanan. (nuwun yo kir) bahkan sampai si risal berkata: wah bun(suban),nek ngene rasah neng sri getuk, nengomahe dakir wae. ra gumun. memang risal paling doyan urusan santap-menyantap, setelah suban (haha). Selesai makan, mau cuci piring tapi makannya nggak pake piring beling, yaudahlah, nggak jadi. sekitar jam 10:21 WIRD (waktu  indonesia rumahnya dakir) kami berangkat. pertamanya sih jalan lumayan, lega, tapi pas sampai di jalan wonosari kilometer sekian : macet! ra gumun. jogja, terlebihlagi arah wisata pantai gunungkidul, sudah wajar semacet itu, kan pas tanggal 31desember. ternyata masih ada satu anak lagi yang sedang menanti rombongan di pasar piyungan. bukan, dia bukan preman pasar piyungan , cuma kebetulan rumahnya di dekat sana. komplit sudah, kmi melanjutkan perjalanan…

dan kisah kami berlanjut di part II. wes leren sek, masih ada kerjaan lain menunggu.

*tidak ada hewan dan tumbuhan yang disakiti dengan sengaja dalam kisah part-I ini.