Fourtwnty x Efek Rumah Kaca (SAF#11)

Semalam menyaksikan pentas seni bertajuk SAF#11 (SmadaArtFest) yaitu peringatan HUT SMA Negri 2 Jogja. Yang menarik bagi saya (dan teman²) adalah lineup bintang tamu utama yaitu fourtwnty dan efekrumahkaca.

IMG_20170902_212333_HDR-01
Fourtwnty adalah band indie lokal bergenre Acoustic Folk (*cmiiw) yang sejauh yang saya pernah dengar liriknya bertemakan perdamaian, toleransi, alam dan sekitarnya. Meski sudah beberapa tahun, namun awal tahun 2017 band yang dipelopori Ari Lesmana dan Nuwi ini mulai melejit gegara terpilih untuk mengisi original soundtrack film Filosofi Kopi (Zona Nyaman). Sayapun baru pertama kalinya nonton live, dan perform mereka memang atraktif.

IMG_20170902_214914-01

Band berikutnya mungkin juga tak asing bagi kalian. Efek rumah kaca. Band yang sudah jadi salahsatu band indie favorit saya sejak kelas 10 dengan duo hitsnya (Cinta Melulu dan Efek Rumah Kaca). Saya terperangah ketika pertama menyimak lirik kedua lagu itu.

IMG_20170902_222601_BURST1-01

Saya rasa kegundahan Cholil dkk. pada lagu Cinta Melulu yaitu mengenai : “Atas nama pasar semuanya begitu klise” , terjawab oleh mereka sendiri pada lagu mereka yaitu bahwa : “Pasar bisa diciptakan!”

IMG_20170902_223456-01

priceless moment ketika personel fourtwnty menuju ke samping depan panggung menyaksikan Efekrumahkaca dan bahkan ikut berteriak menyanyikan lagu²nya. Salute!

4fa62872-de35-4777-988c-581fcbb5896b

gambar dari kamera Xiaomi Mi4i Global Dev + editing Snapseed

Advertisements
gelap

Gelap

Pernahkah mengalami keadaan ketika sedang dalam ruangan dengan lampu sebagai sumber cahaya utama, tetiba listrik padam. Maka ada jeda waktu beberapa saat indera pengelihatan kita hanya melihat gelap tanpa mampu mendeteksi benda2 di sekitar. Jalan pun harus meraba karena kita tak tahu di mana lokasi ‘obstacle’ yang perlu dihindari. Namun sejenak kemudian, beberapa benda mulai nampak. Mata mulai beradaptasi dengan minimnya jumlah cahaya yang dipantulkan benda, sehingga kita mulai mampu melihat keberadaan benda di sekitar. Dan pada akhirnya kita pun lebih leluasa berjalan karena dapat mengidentifikasi halangan-halangan yang harus dihindari.
Begitulah adaptasi.
Bertahun tahun mungkin kita berada di ‘dalam cahaya’. Atau setidaknya di lingkungan yang mereka bilang sebagai ‘zona nyaman’. Dalam lingkungan itu saja, kita sudah banyak mengeluh. Mengeluhkan segala ketidaknyamanan sementara kita sendiri berada di dalam zona nyaman. Ironi. Hingga tiba suatu masa ketika kita harus meninggalkannya. Maka sesaat setelah kita meninggalkan zona nyaman dan berada dalam zona baru itu, ada jeda beberapa waktu ketika kita hanya ‘melihat gelap’ . Butuh beberapa waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang bagi kita ‘gelap’, untuk mampu ‘melihat dengan sedikit cahaya’. Sehingga kita lebih leluasa ‘berjalan’ karena dapat mengidentifikasi halangan-halangan yang harus dihindari.

“Gelap itu tidak ada
yang ada hanya ketiadaan cahaya.”