JBR 02 : Vindicated. Survived.

*gegara liat ada akun IG bernama jbr02ugm yang akhir-akhir ini aktif upload foto, saya jadi teringat akan draft tulisan ini yang belum dipublish*

Hello, my name is aa – teteh KKN!

bersama guru karyawan sdn 2 panawangan

Pekan awal digunakan untuk mengenali medan. Survey jalan ke sekolah, fasilitas/perlengkapan belajar-mengajar sekolah. SD 1 (panawangan) jalan yang menanjak rata, SD 2 (cibogor) dengan jalan menanjak berbatu, SD 3 (salam-cigobang) yang akses paling mudah, SD 4 (sudimara) yang terjauh, serta SMPN 1 Panawangan yang terletak hanya sekian langkah dari pondokan subunit 1. Beberapa data tersebut nantinya kami gunakan untuk pertimbangan penyesuaian program, serta pembagian tugas sesuai jadwal dan lokasi. Survey ke sekolah kami lakukan bersama (ada perwakilan dari setiap subunit) karena setiap orang mengampu minimal lebih dari 1 sekolah. Pada beberapa hari berikutnya beberapa orang kembali survey di SD 2. Ialah saya, kevin, krisna, dan joko yang ketika survey melihat Pak Kepala sekolah dengan dibantu pak penjaga sekolah mengecat ulang dinding sekolah. Agar lebih ceria menyambut semester baru. Kamipun turun tangan membantu mereka menyelesaikan pengecatan. Lumayan, pemanasan menjelang pelaksanaan program perdana pekan depan.

Selain survei ke sekolah kami juga melakukan survei ke warga masing-masing dusun. Saya yang berada di subunit 3, dusun Cibogor, juga turut serta dalam survey warga ini. Tak seperti survey sekolahan, survey ke warga kami lakukan pada malam hari karena pada pagi-sore warga beraktivitas masing-masing (bekerja). Survey sekaligus perkenalan yang lebih personal kami lakukan door to door. Dari pak RT, pak Kadus, pak RW, serta pak ketua pemuda. Perkenalan, meminta izin untuk melaksanakan agenda, serta menanyakan kongruensi program yang kami susun dengan keadaan/kebutuhan warga. Sejauh ini sambutan beliau-beliau ini sangat baik dan siap diajak bekerjasama. Nice. Semoga hubungan baik ini terus bertahan.

Pekan kedua, KBM sudah mulai setelah libur semester. Hari pertama masuk sekolah, kami datang lebih awal karena ada upacara bendera. Berkenalan dengan murid-murid yang waktu itu masih malu-malu menyapa kami. Setelah itu kami masuk ruang guru, berkenalan dengan Bapak Kepsek, serta Bapak-Ibu Guru dan karyawan. Kami menjelaskan rencana program kerja kami serta meminta saran. Setelah itu kami juga masuk ke kelas masing-masing sesuai tanggungjawab. Kebetulan saya kebagian kelas V. (Eh, tapi di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, ehe). Mencatat nama, absen, serta berkenalan agar lebih akrab. Dan di SD ini kami, mahasiswa KKN dipanggil Aa’ dan teteh.

Learning by sharing

Setiap anak KKN mengambil jumlah program utama (tema), program klaster, dan program lintas klaster. Dari sekian banyak program, program yang berada di lingkungan sekolah ialah Pembelajaran Bangun Ruang, Pembelajaran PowerPoint, Pengenalan Bahasa Jepang, Pelatihan komputer Guru, Pelatihan eCommerce, Lomba kebersihan kelas,. Dengan mengajar di sekolah dasar, justru kami yang belajar lebih banyak hal. Kami yang notabene mahasiswa non-pendidikan belajar mengenai manajemen, pembagian waktu, kesabaran, kreativitas, public speaking, juga belajar memahami anak. Dan kami memang seharusnya sudah tahu akan tantangan ini sejak saat memilih kelompok KKN bertemakan pendidikan. Program lain di sekolah ialah pembelajaran komputer untuk guru. Kami lakukan pembagian anggota, sebagian mengajari guru, sebagian lagi mengisi kelas yang ditinggal guru belajar komputer. Memang sebagian besar sudah dapat mengoperasikan komputer (Di sekolah juga tersedia 2 unit komputer dan 2 unit laptop dari dinas pendidikan) namun untuk beberapa hal spesifik seperti; membuat kop surat untuk amplop, formula-formula olah data di spreadsheet, serta maintenance dan utilities lainnya. Maka dari itu setiap malam harinya, kami selalu mempersiapkan beberapa hal; mempersiapkan materi/bahan ajar, menyelaraskan jadwal, menyusun jatah program bantu, membagi transportasi, dan kemudian diakhiri dengan turnamen PES atau nonton film bareng dengan LCD projector.

Selain program mengajar di sekolah ada juga program di luar sekolah. Program di luar sekolah yang saya ambil diantaranya diskusi parenting, pembuatan peta dusun, plangisasi, serta pembangunan fisik (bentuknya apa ditentukan belakangan). Hampir semua program memiliki cerita yang berkesan. Pada diskusi parenting, saya kebagian di dusun subunit 2 (dusun Salam dan Cigobang). Dan pada kedua dusun ini kami menyisipkan program pada forum pengajian Ibu-ibu. Tim diskusi parenting sub 2 ada saya, Gilang, dan Priscil. Bayangpun saja, kami yang masih muda, belum berkeluarga (apalagi memiliki anak), harus berbagi poin poin penting dalam pengasuhan anak di depan puluhan Ibu-ibu yang sudah memiliki anak entah berapa. Jelas dari diskusi tersebut kami-lah yang belajar banyak dari beliau. Dari pertanyaan-pertanyaan beliau mengenai realita yang ada dalam keluarga, khususon dalam pengasuhan anak.

seminar parenting kepada para parents oleh mahasiswa/i belum berkeluarga, di tengah rangkaian pengajian rutin

Ramadhan di Panawangan.

Waktu KKN kami bertepatan dengan bulan ramadhan 1434H. Sehingga selama sebulan penuh kami berpuasa sembari melaksanakan program KKN. Bahkan awal program kami berlangsung ketika puasa. Dan kali ini adalah Ramadhan pertama bagi saya di perantauan. Merupakan cerita tersendiri mengenai menjalani puasa di Panawangan, khususnya di pondokan subunit 3. Bagaimana kami bersiap melingkari nasi laukpauk dan segala camilannya di ruang tengah sejak satu jam menjelang adzan maghrib. Bagaimana salahdua dari kami mengalah keluar untuk membeli CFC (semacam Olive-nya panawangan) dengan sederet titipan “Paha atas, Paha bawah, Dada, Sayap, maupun Ati Ampela” dan kadang basreng (baso goreng +atom aida) yang mungkin setelah KKN usai akan muncul kisah “Teteh basreng naik umroh” karena dagangannya yang tiap sore dilarisi anak KKN. Tak lupa cerita bagaimana pada sholat tarawih perdana yang diwarnai adegan anak kecil kentut dengan nyaring dan tak segera mengaku, yang apesnya dia sholat tepat di sebelah saya. Sempat juga kami merasakan tradisi “tarling” atau tarawih keliling bersama pejabat desa. Sehingga kami dapat merasakan sholat tarawih berjamaah di setiap dusun. Pernah pada puasa hari ke sekian (entah lupa), kami diundang untuk menghadiri mabit bersama siswa SMPN 1 Panawangan. Kami hanya ikut menyimak kajian Islam, buka bersama, serta sahur bersama. Walau tidak semua ikut menginap di SMP karena harus menyiapkan program dan menjaga pondokan. Konflik intrik internal pun juga mulai muncul di bulan ini.

perbaikan gizi berkedok mabit di smpn panawangan

30 hari kami berpuasa, tibalah saat hari raya Idul Fitri. Beberapa dari kami ada yang cuti pulang karena rumahnya yang dekat, sedang sebagian orang lainnya tinggal dan merayakan Idul Fitri di perantauan tanpa kehadiran keluarga. Ya, meskipun kami sudah menganggap satu sama lain adalah keluarga. Suasana haru meliputi ketiga pondokan subunit sesaat setelah sholat idul fitri, yaitu ketika momen telpon orangtua di rumah. Setelah itu kami berkumpul di rumah Subunit 2, makanmakan, bersalamsalaman sambil bermaafmaafan. Beberapa hari setelahnya kami gunakan untuk silaturahim ke rumah warga serta guru dan kepala sekolah dasar. Alhamdulillah, insyaALlah mendapat berkah silaturahmi (dan perbaikan gizi broo).

silaturahmi lebaran di rumah Bu Nanik

Tak lama kemudian kegiatan belajar mengajar dimulai, pertanda kami harus memulai kembali program yang sempat tertunda. Keadaan di luar bulan ramadhan ternyata berbeda. Di ruang guru selalu disediakan makanan untuk kami dengan menu andalan ketupat panawangan yang guri-guri nyoy. Jajanan menggoda iman pun melimpah di sekolahan. Juga ajakan ngaliwet (makan bareng nasi-sayur-ikan hasil bumi sendiri) dari warga sekitar. Namun ternyata setelah ini masih ada pekerjaan berat menunggu kami. Dan semua masih tetap kami hadapi dengan penuh semangat. Seperti pesan Imam Syafi’i ;

“Berlelah-lelah lah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang”

Masih belum berakhir..

Vania wedding : Reuni singkat dan (kebun teh yang) menenangkan

Setelah ke tuban, weekend berikutnya saya menghadiri undangan nikah temen KKN di Djoglo Ageng Boyolali. Harusnya lebih dekat saya berangkat langsung dari Salatiga, namun dengan beberapa pertimbangan saya jumat malam ke Jogja untuk membersamai rombongan Jogja. Kumpul jam 6 lebih sedikit menit, kami (kevin, gilang, unin, yusqi, saya) berangkat menggunakan mobil sewaan menuju lokasi pernikahan. Geng Jakarta (devita, besov) rencana menyusul dari Semarang. Rencana awal menghadiri akad (jam 8 pagi) namun kami mendapat kabar bahwa kereta yang ditumpangi geng Jakarta terlambat satu jam sehingga tidak memungkinkan hadir sesuai rencana. Baiklah, kami fokus pada acara walimahan (jam 10 pagi).

Jam 8.30 rombongan Jogja sudah sampai di Boyolali untuk kemudian mencari sarapan. Berkeliling kota boyolali, kami menjatuhkan pilihan pada satu diantara sekian banyak warung Soto yang ada. Dari sekian banyak warung soto bertajuk “Soto Segeerr”, kami memilih yang extraordinary, standout in the crowd, yaitu “Soto Sedap”. Meski demikian, soto yang kami makan tetep saja ‘seger’. Entah kenapa. Selesai sarapan, saya berjumpa beberapa teman kantor divisi sebelah (Mechanical Engineer), yang ternyata sedang menuju Jogja untuk menghadiri LPDP Edu Fair di Sportorium UMY.

Dari warrung Soto Sedap, Kami lalu menuju DJoglo Angeng. Sesampainya di lokasi, kami tak segera masuk karena menanti rombongan Jakarta yang sedang otw dari Semarang. Setengah jam mungkin. Baru tampak Ibu pejabat beserta koleganya turun dari mobil. Dan masuklah kami. Konsepnya bukan prasmanan melainkan ‘piring terbang’ dengan layout kursi meja melingkar. Asik juga.

"mohon bersabar ini ujian"
“mohon bersabar ini ujian”

img-20170205-wa0019

Makanlah kami dengan beberapa jenis hidangan yang ‘terbang’ ke hadapan kami. Setelah itu ada khutbah nikah dari Pak Ustad yang dilanjutkan sesi foto-foto.

img-20170204-wa0016
#finallyAfter10Years
barakallah vania & dimas
barakallah vania & dimas

Setelah selesai acara kami menuju masjid agung boyolali untuk singgah sejenak, dan jajan sedikit. Kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi kedua yaitu Rumah&Kebun Teh Ndoro Donker. Yang kedua kalinya dalam 2 pekan ini bagi saya. -+2 jam perjalanan, kami sampai dan memesan 2 teko teh (camomile dan green tea) serta beberapa camilan. Sejuknya suasana perkebunan teh dataran tinggi karanganyar, kehangatan teh asli, dan obrolan bersama teman – yang – hanya – ketemu – kalau – ada – nikahan ini adalah nikmat yang sepatutnya disyukuri.

the ndoro donker!
the ndoro donker!

Kembali ke jogja menjelang maghrib dan mampir singgah di Masjid UNS (lagi), dengan diiringi playlist lagu mendayu-dayu, kami sampai di kosan kevin sekitaran jam 10 malam.

What a day. And see you all guys in the next wedding ceremony.

IoT at a glance (Summary)

This was summary from my hard-skill presentation at my office. So starting from February, the Software Engineer team at my office agreed to conduce a weekly sharing. (We’ve had a soft-skill discussion once a week) I volunteer myself as a second presenter (the first turn has taken by the other). At first I was confused to choose the topic that I want to share. Some friends told me to share about PID control system which was being implemented in our system. But I think there are some things that I have not yet understand (about the integral windup parameter and such). So I started to look into another topics. One that comes in mind is IoT. Which couple days before, my friend Marsel, let me brought his Raspberry Pi because he didn’t have a plan about it yet. So I thought it may be fine if I share a little about IoT and Single Board Computer (in this case, Raspberry Pi).

Finally, the day has come, and here’s my presentation:

IoT at a Glance. IoT (Internet of Things) is the inter-networking of physical devices, vehicles (also referred to as “connected devices” and “smart devices”), buildings and other items – embedded with electronics, software, sensors, actuators, and network connectivity – that enable these objects to collect and exchange data. Physical devices could be anything .

For example cars (nowadays, there were already cars which has its own operating system), aquarium (you could make automatic feeder or such), bags, shoes, even door or window, and so many things which only limited by our own ideas.

One of an important component of an IoT system is its embedded smart electronic system which connected the non-connected things into world-wide network so it can be accessed through internet. And I take SBC as an example. A single-board computer (SBC) is a complete computer built on a single circuit board, with microprocessor(s), memory, input/output (I/O) and other features required of a functional computer. (*) There are many SBC which are available to buy. Some of them are Raspberry Pi, BeagleBoard, Odroid, etc. And they have their own dis/advantages.

But I choose Raspberry Pi as an example because it’s the one that I currently brought right now (it’s my friend’s actually). The Raspberry Pi is a series of small single-board computers developed in the United Kingdom by the Raspberry Pi Foundation to promote the teaching of basic computer science in schools and in developing countries. The detailed specifications could be read here. Raspberry also develop its own operating system called Raspbian. Raspbian is a free operating system based on Debian optimized for the Raspberry Pi hardware. Raspbian uses PIXEL, Pi Improved Xwindows Environment, Lightweight as its main desktop environment as of the latest update. It is composed of a modified LXDE desktop environment and the Openbox stacking window manager with a new theme and few other changes.

One thing that makes SBC could be used to create embedded devices is its GPIO. GPIO is general purpose input output. Unlike the other I/O, this port is not specifically designed for specific devices. This is the main feature of SBC and this what differ SBC with PC. We can explore this GPIO as much as we want. Connecting any sensors, or actuators. The GPIO voltage is 3.3v each. It was disabled by default. You can enabled it by runtime. Here’s GPIO port map of Raspberry Pi.

188681-c06f001.jpg

And finally I would like to show how Raspberry run. Default Raspbian user account is pi/raspberry (user/password). And for the latest version (Pi 3 model B) which has included Broadcomm wifi, we could connect to available network via wifi by : edit files in /etc/wpa_supplicant/wpa_supplicant.conf

Add these lines:

network={
ssid=’network-name’
psk=’network-pass’
}

And then restart wifi (sudo ifdown wlan0 , sudo ifup wlan0).

And I also give ideas for sample project using Python and Twitter REST API. With this ideas, you can build a system to automatically switch on/off your water system in your house just by tweets.

And, that’s all.
*sorry for my English

Otw Tuban : Kisah tentang Opor ayam, Keteguhan hati, dan Adrenalin.

Berawal dari bocoran undangan walimah Tika (Teladan2011) dengan mas Satria (2009), saya dan beberapa rekan pun merencanakan perjalanan ke Tuban sejak jauh hari. Hingga hari H pun semakin dekat, kami mendata peserta awayday ini. Umar, Jundi, Masipo, Amru, dan Afif adalah 5 orang pertama yang konfirmasi. Kemudian disusul Ipang. Dan terakhir, saya, setelah memastikan bisa cabut kantor nggasik. Sesuai kesepakatan, rombongan jogja kumpul di rumah Jundi dan berangkat dari sana selepas Isya. Sedang saya menunggu di Solo, tepatnya di sekitaran terminal tirtonadi. Ternyata saya sampai di Solo dua jam lebih cepat dari rombongan Jogja, jadi saya jalan-jalan dulu ke festival lampion di Pasar Gede sambil cari jajanan.

festival lampion
festival lampion

Sekitar jam 10 kurang saya diantar teman ke terminal, dan 10 menit kemudian mobil Umar sudah nampak. Berangkatlah kami ke ngawi. Ngawi? Ya karena kami berangkat malam, kami memutuskan transit istirahat di rumah Afif di Ngawi untuk paginya berangkat ke Tuban. Karena kanan-kiri jalan adalah pepohonan tinggi, dan alfam*rt yang jadi patokan jalan bentuknya juga identik, kami sempat berselisih paham salah jalan (putar balik, putar lagi). Dan alhamdulillah kami sampai di kediaman gopip jam 1 dini hari. Menandai kamar kecil, dan ngobrol sebentar, kami segera beristirahat. Sebenarnya, sekitaran adzan subuh kami sudah terbangun, dan siap melanjutkan perjalanan. Namun ternyata menikmati pagi di ngawi, samping stasiun kedunggalar, cukup menarik. Yang kemudian disusul dengan menu sarapan pecel + lauk pauk yang mantap dari keluarga Afif.

Kami beranjak dari kediaman Afif jam 8. Tujuan berikutnya ialah kulineran di Blora, tepatnya di Lontong Opor Ayam Pak Pangat, Pakuan, Cepu. Berdasarkan pengalaman, kami menyempatkan telpon untuk memesan 7 porsi lontong opor. Berangkat jam 8, kami sampai di lokasi jam 9.30. FYI, Ketika kami datang warung ini sudah memajang tulisan ‘Habis’ di depan.

(( habis ))
(( habis ))

Tak lama berselang pesanan kami datang. 7 porsi lontong dan sewadah besar opor berisi 7 potong ayam kampung tersaji.Tips untuk menikmatinya, pertama cicipi kuahnya dulu, dan resapi bumbu rempah yang melebur di lidah. Baru kemudian iris lontong, siram dengan kuah opor dan ayam kampungnya. Kuah dengan bumbu yang menggoda dengan ayam kampung yang sangat empuk. Sungguh nikmat yang tak mungkin kami dustakan. Sempat kami menengok dapurnya, tempat masak masih vintage menggunakan batu-bata, dan jumlah porsi opor ayam yang sudah siap saji ada banyak. Meski demikian, saat kami selesai makan, ada pengunjung baru datang yang ternyataharus kembali dengan kepala tertunduk karena sudah habis. Karena usut punya usut opor ayam di belakang tadi merupakan pesanan orang lain. Dan kami harap agar kejadian ini menjadi pelajaran untuk orang lain.

nikmat opor ayam pak pangat
nikmat opor ayam pak pangat
selfi sukaesih . credit to Mi5 apip
selfi sukaesih . photo by Mi5 apip
klasik terbaik .  photo by :  jundi
klasik terbaik .
photo by : jundi

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi walimah, Gedung Tri Dharma, Tuban. Bermodalkan algoritma dari Aljabar (yang diimplementasikan ke google maps), kami memilih jalan-jalan tembusan membelah bukit. Jalan aspal – konblok – beton yang silih berganti menjadi medan kami siang itu. Sempat putar balik karena salah point direction (gedung tri dharma bojonegoro instead of tuban), kami pun sampai di masjid terdekat (untuk mampir beribadah, salin, dan cuci muka) sekitar jam 2 siang. Segera setelah itu kami menuju gedung lokasi walimah.

barakallah, mas satria, tika
barakallah, mas satria, tika. photo by Mi5 Apip

Selesai jam setengah 4, kami istirahat sejenak di rumah singgah sampai menjelang isya, untuk pamit pulang jam 8 malam. Kami bertekad melewati jalan yang berbeda dari waktu berangkat, menghindari naik turun bukit. Dari Tuban menuju Bojonegoro, lalu Ngawi. Sudah set direction di google maps, bismillah, kami berangkat dengan Umar sebagai pemegang kendali dan saya navigasi. Awalnya jalan masih biasa, manusiawi, namun beberapa saat kemudian semakin menyempit dan gelap. Dengan modal yakin (dan google maps) kaami maju terus pantang putar balik. Ternyata rute kali ini pun membelah bukit juga, walaupun jalan aspal namun beberapa kali jalanan sama sekali tanpa penerangan dan tak ada kendaraan lain melintas. Se pa neng. Sepanjang jalan kami serius memperhatikan google maps (agar masih stay on the right track) dan jalanan (karena sumber penerangan hanya lampu mobil). Sinyal internet pun lenyap ditelan gelapnya jalanan. (Thanks to gmaps offline caching). Satu jam kemudian mulai nampak peradaban, dan jalanan gelap nan sunyi itu berakhir di dobel tikungan U tajam menukik. Sampailah kami di jalan raya Bojonegoro – Ngawi. Sempat kami berhenti sejenak di seberang Indo*ret, di pinggir jalan, untuk istirahat (tidur) selama kurang lebih 1 jam. Dan kami sampai di kediaman Apip jam 1 dini hari.

Keesokan harinya kami pulang ke jogja melalui Solo Surakarta. Karena hendak main sekalian kami set direction menuju Karanganyar tepatnya di kebun & kedai teh Ndoro Donker. Dari Ngawi kami menuju Karanganyar melalui dusun Gumeng. Ternyata jalan menuju Karanganyar dari arah Ngawi sungguh terlalu. Tak hanya tanjakan dan belokan curam, ada juga jembatan ujian. Jembatan yang sangat sempit sekali sehingga kendaraan yang kami tumpangi hanya menyisakan sekian cm di kedua sisi. Tak hanya driver, navigator pun ikut tegang dengan situasi demikian. Terasa keringat dingin membasahi telapak tangan.

img-20170130-wa0004

'jembatan ujian' *credit redmi note 3 masipo
‘jembatan ujian’ photo by: hape masipo

Tak lama kemudian kami sampai dengan selamat, alhamdulillah, di Kebun teh ndoro donker. Camomile tea adalah menu wajib pada kondisi ini. Khasiatnya yang mampu mengendurkan syaraf yang tegang seusai naik turun perbukitan. Kami juga mencoba appricot tea yang ternyata sangat harum. Juga sepertiga teko white tea. Beberapa camilan juga kami pesan untuk mengganjal perut. Sungguh ngeteh di tengah dinginnya perbukitan dan kebun teh di Karanganyar adalah nikmat duniawi yang tak terbantahkan.

panorama kebun teh
panorama kebun teh
'belajar selfi' . credit redmi note 3 masipo
‘belajar selfi’ . photo by: masipo

Puas ngeteh, kami pun pulang. Mampir di masjid UNS, dan makan siang di bakso kadipolo. Dan saya berpisah di Terminal Tirtonadi untuk kembali macul di Salatiga.
Semoga Allah masih memberi kami kesempatan untuk touring menghadiri walimahan lagi. Entah sahabat kami, atau salah satu dari kami. Biarkan waktu, dan undangan yang menjawabnya. Keep update!

Kopi Menoreh Pak Rohmat: Sebuah Pengalaman Kuliner

Sudah terlampau lama saya tidak menuliskan pengalaman kuliner. Kali ini saya menuliskan sedikit tentang kedai kopi yang spesial. Sudah ada sejak lama namun baru pekan kemarin saya sempat mengunjunginya. Namanya Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat. Cukup informatif. Kita bisa tahu kedai tersebut spesialisasinya ialah Kopi dari perbukitan Menoreh, dengan pemilik bernama Pak Rohmat. Awalnya saya tidak berekspektasi macam-macam. Sepintas googling, tahu bahwa kedai tersebut cukup jauh dari kota Jogja ( -+ 45 menit), tempat yang sangat alami (di tengah perbukitan) dan menyajikan kopi menoreh serta camilan khas pedesaan.

Rute yang ditempuh ialah melalui Jalan Godean lurus ke barat, sampai perempatan Nanggulan belok utara arah Dekso. Lurus sampai pertigaan Boro (ada plang petunjuk arah) belok kiri. Terus saja ikuti jalan hingga nanti menemui petunjuk tulisan “Kedai Kopi Pak Rohmat”, di sebelah kanan jalan, masuk (turun).

img_20161126_135841_hdr
tampak depan rumah Pak Rohmat

Pesanan saya waktu itu ialah Kopi Robusta plus Camilan Komplit. Kopi diseduh tubruk biasa, dengan 3 pilihan gula yang terpisah yaitu gula jahe, gula pasir, dan gula jawa. Camilan komplit terdiri dari 2 tahu goreng tepung (masih hangat), beberapa gebleg, singkong rebus, dan kacang rebus. Kombinasi suara aliran air sungai, ketenangan dan kesejukan perbukitan menoreh, menambah nikmat setiap sruput kopi dan camilannya. MasyaAllah. Selesai menikmati hidangan, saya ke atas untuk membayar pesanan saya. Dan sebelum pulang saya sempat sedikit berbincang dengan Bu Rohmat. Sangat ramah seolah saya adalah kerabatnya sendiri. Dan ternyata di sini setiap pengunjung yang baru, diminta mengisi buku tamu (nama, alamat, telpon, kesan pesan). Sungguh yuniq.

img_20161124_220753
kopi plus paket camilan lengkap

Beberapa hari kemudian saya kedatangan teman saya dari jakarta. Waktu dia mengajak cari tempat nongkrong, saya mengajaknya untuk mengunjungi kedai pak rohmat. Karena ke wisata alam berdua rasanya aneh, dan ke kafe-kafe biasa juga mudah dijumpai di jakarta. Berangkatlah kami ke mengunjungi Pak Rohmat. Waktu itu saya berangkat lebih pagi untuk menghindari hujan di sore hari. Sampai di lokasi teman saya langsung heran karena Pak Rohmat dan Bu Rohmat masih mengenali saya.
“Mau nyoba yang pas nggak hujan ya mas? Dulu itu pas pulang kehujanan nggak?” (in javanesse)

Saya jadi merasa sedang berkunjung ke rumah saudara sendiri.
Waktu itu tempat di tengah atas tidak penuh jadi kami langsung ke sana. Kami memesan kopi dan camilan komplit seperti biasa. Saat itu ada bapak-bapak sendirian di sebelah kami yang mengajak berbincang. Beliau ternyata rutin mengunjungi kedai ini sekalian membeli kopi bubuk untuk konsumsi harian. Beliau juga bercerita bahwa kopi-lah yang menyembuhkan penyakit yang dideritanya yang secara umum justru menjadi pantangan (Maag). Menurutnya, dari nasihat Pak Rohmat juga, bahwa tanaman kopi ini ditanam dengan penuh rasa sayang, ketelatenan, kesabaran, maka tidak mungkin akan mencelakai. That was so deep, man. Sesekali Pak Rohmat juga sempat ikut duduk berbincang bersama, juga kadang Bu Rohmat, bergantian dengan pengunjung lain.

img_20161124_150315
saung salah satu spot ngopi di sini

Dari kunjungan kedua ini saya semakin yakin bahwa di kedai ini kita tidak hanya membeli kopi maupun camilannya. Melainkan juga pengalaman. Pengalaman touring di jalan perbukitan, juga pengalaman sambutan pemilik yang menganggap kita seakan kerabat sendiri. Hal ini yang belum saya temukan di kedai kopi lainnya. Maka saya pun tak akan berpikir panjang jikalau ada kesempatan atau ajakan untuk kesana lagi.

1480860785966
kunjungan berikutnya, foto bersama Pak Rohmat (tengah)

Jadi, kapan kita kesana berdua saja?

Belajar Memakai Kuda

(x) Dikejar (y) pakai kuda.
(x) Dikejar kuda.

Kalimat pertama berarti subjek (x) dikejar oleh objek lain implisit (y) yang memakai kuda sebagai kendaraan. Hal ini berarti kuda adalah kendaraan untuk mengejar seseorang. Sedang kalimat kedua kuda adalah objek yang mengejar subjek (x).

Beberapa hari terakhir saya menemukan gambar tersebut bertebaran di linimasa, tentu dengan maksud analogi terhadap ucapan Pak Ahok yaitu ‘Dibohongi pake Al Maidah’ yang oleh Buni Yani terdengar dan ter-transkrip menjadi ‘Dibohongi Al Maidah’. Dengan analogi dikejar kuda tersebut mereka bermaksud membela Pak Ahok dengan dasar adanya tambahan kata ‘pakai’ sehingga yang dimaksud berbohong ialah Penyampainya, bukan Al Maidah.

Jadi begini, dengan pernyataan demikian berarti beliau menyebut para ulama yang menyampaikan tafsir surat Al Maidah tersebut sebagai pembohong yang beralatkan ayat Qur’an. Bagaimana bisa seseorang yang tidak memahami Qur’an, mengatakan bahwa ulama, yang tentunya ilmunya mengenai tafsir Qur’an jauh lebih paham, sebagai seseorang yang membohongi umat. Menganggap seorang alim berbohong atas dasar ilmu yang dia miliki, berarti juga menganggap ilmu yang dipelajari seorang alim tersebut adalah kebohongan. Berbeda dengan kuda yang memang seekor hewan, yang tidak ada definisi pasti kegunaannya. Kuda dapat digunakan sebagai alat transportasi, kejar-kejaran, maupun sebagai hewan untuk dikonsumsi. Tentu permaknaan sebuah kalimat tak dapat serta merta dianalogikan dengan kalimat lain yang secara tata bahasa setara. Karena bisa saja secara makna jauh berbeda. (sebenarnya kesalahan analogi ini juga berlaku untuk semua, lebih baik jangan terpancing menggunakan analogi-analogi tak sesuai)

Jangan mudah dibohongi pakai ngasalogi. Ngasal analogi.

NB. Jadilah secerdas cerdas pembaca. Termasuk ketika membaca tulisan ini.

sumber gambar :
https://www.pinterest.com/lapequena01/horses/

Wang Sinawang

Dua kata ajaib. Filosofi luhur orang jawa. Hingga saat ini saya masih belum menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk ungkapan ini. Mungkin jika dalam bentuk kalimat yang lebih spesifik misal “Urip iki wang sinawang” dapat dialihbahasakan menjadi “Hidup itu semu/fatamorgana”. Teuteup aneh sih.

Jika diejawantahkan pengertian dari filosofi itu bahwa segala sesuatu dalam hidup orang lain itu kita hanya mengetahui sebatas apa yang kita lihat. (Sinawang dari kata dasar sawang atau dalam bahasa ialah lihat). Banyak sekali kasus seseorang yang merasa kehidupan orang lain jauh lebih nikmat dibandingkan kehidupannya sendiri. Dan dampaknya dia sering mengeluh, tidak pernah bersyukur atas kehidupannya dan iri terhadap kehidupan orang lain. Padahal dia tidak tahu apa yang harus dialami oleh orang lain tersebut. Don’t compare your life to others. You have no idea what they’ve been through!

Intinya bersyukur. Tetap berusaha tapi jangan lupa bersyukur.

edisi NTMS

setelah sekian lama tidak menulis

Futsal Elins 2010

Tulisan ini adala hasil dari renungan pengisi jeda waktu antara subuh hingga waktu tidur siang. Ketika sedang kangen-kangennya futsal. Salah satu nilai tambah (dari sekian banyak kekurangan) dari kuliah dengan teman jurusan yang mayoritas laki-laki adalah tak susah mencari rekan bermain dengan hobi yang sama : Futsal. Di Elins, yang terdiri dari dua kelas A dan B ini, cukup banyak yang jago, bisa, hobi, maupun sekedar senang bermain futsal. Saya masih ingat futsal angkatan kami pertama ialah sesaat setelah daftar ulang dan ngobrol bareng di stand panitia EP (makrab elins), saat itu kami lalu berinisiatif : ayo futsal! Dan jadilah kami yang hanya ber-10an ini futsal satu jam di JG futsal (dekat Moehi). Saat itu ada ibel, wiji, yogik, fingga, piska, sawi, boi, ade, dan lainnya entah siapa saya lupa. Dan setelah mulai kuliah kami juga semakin sering futsal. Berikut adalah 2 tim futsal elins 2010 yang kan saya bahas.

1. Futsal Elins B 2010

Seperti yang sudah saya katakan bahwa elins terbagi menjadi 2 kelas, A dan B. Saya berada di kelas B dengan beberapa teman yang juga gemar futsal. Kami cukup sering mengadakan futsal persahabatan dengan tim jurusan/kampus lain. Karena jumlah kami cukup banyak (bisa 2 tim) maka kami tidak mengajak kelas A dengan pertimbangan agar jatah bermain per orangnya lebih banyak. Meski begitu kami juga tak jarang main bareng seangkatan (kelas A&B). Lawan mahasiswa FTP, FIB, Matematika, TI, hingga alumni smada pun kami pernah. Dan berikut formasi terbaik tim ini versi saya:

GK : Anggi

Mahasiswa asal jawa timur ini memiliki reflek yang baik dengan keberainan untuk menubruk bola di depan. Masalahnya adalah dia sering mangkir latihan, dan kadang berhalangan hadir saat turnamen.

Belakang :

Aditya Nur

Mahasiswa paling senior dalam tim ini memiliki kelebihan berupa speed dan body charge. Permainan keras dengan intersep yang tegas menjadikannya salah satu bek yang selalu saya hindari kalau jadi lawan.

Dhewa

Pemain yang dulu sempat agak sedikit tempramental ini memiliki kelebihan dalam marking pemain, intersep, serta ball keeping yang memadahi. Meski akhir-akhir kuliah kecepatan berlari menurun seiring massa yang bertambah. haha

Playmaker :

Miftahudin

Kapten tim, pengatur serangan, memiliki kelebihan dalam speed, dribbling, ball keeping, shooting, serta umpan umpan kunci.

Striker :

Gong Matua

Kecepatan, dribbling, serta tembakan yang akurat menjadi alasan untuk menempatkan pemain tempramental ini di tim inti.

Super-sub :

Syafrizal (GK)

Lincah dan memiliki reflek yang baik, namun kurang berani menubruk bola lepas. Namun tetap dapat diandalkan terlebih ketika anggi berhalangan hadir.

Putro (Bek)

Marking dan ball keeping yang bagus, walau kadang kurang tenang dalam memberikan umpan dan intersep.

Owedas

Bisa ditempatkan di belakang, maupun di tengah bersama playmaker. Memiliki umpan yang bagus.

Ferindra

Pernah menjadi playmaker, juga tak jarang bermain di depan. Dominan kaki kiri.

Tyas

Striker dengan kemampuan ball keping dan tembakan yang bagus, meski akhir-akhir kuliah kecepatan berlari menurun (seperti dhewa). Haha

Izzulmakin

Striker,memiliki kecepatan dribbling yang baik memanfaatkan kaki panjang serta tembakan yang terarah membuatnya bisa diandalkan di depan.

Ardi

Striker, memiliki tembakan yang terarah serta ball keeping yang baik, hanya jarang ikut serta dalam friendly match.

Ade

Striker, oportunis. Kelebihan yang jarang dimiliki striker lain di tim ini yaitu positioning. Tak perlu lama memegang bola, hanya cukup berada di tempat yang pas pada waktu yang tepat.

Iqro

Bisa bermain di segala lini. Walaupun nalurinya sebagai penyerang. Sering mengelabuhi lawan, dengan teknik ball keeping yang diluar ekspektasi lawan (dan kawan). Style kostum yang khas membuat penampilannya selalu dinanti penonton.

futsalb
futsal elins b 2010

2. Futsal Turnamen resmi Elins2010

Elins 2010 juga pernah berpartisipasi dalam beberapa turnamen tingkat mahasiswa yang diadakan oleh hima-hima lain di ugm. Dan karena saya pernah beberapa kali diikutsertakan dalam kesebelas daftar pemain itu maka saya juga akan menuliskan skuat tim ini. Tim yang merupakan gabungan kelas A dan B.

GK : Mas Nurdin

Panjang tangan, reflek cepat, serta tanpa ragu menubruk bola bebas membuat beliau memang sangat bisa diandalkan di bawah mistar.

Belakang :

Satria

Tinggi, marking, dan body charge menjadi kemampuan pemain ini. Selain itu tendangan jarak jauh yang keras dan terarah juga kadang memecah kebuntuan tim.

Yogy

Ball keeping, umpan terarah, marking, menjadi keunggulan pemain yang kebetulan juga menjadi ketua angkatan elins2010. Bisa juga diletakkan di posisi tengah/playmaker.

Tengah : Gamma

Dribbling, ball keeping, umpan terarah, serta tendangan keras menjadi kunci ketua HMEI ini ketika di lapangan. Dia juga jadi pengatur permainan a.k.a. playmaker

Depan : Aziz

Kecepatan dribbling, positioning, finishing, menjadi andalan pemain yang sekarang menimba ilmu di tanah kelahiran Park Ji Sung ini. Pengatur strategi ketika di luar lapangan, dan kapten di lapangan (lali aku, kapten e biasane ayiz po yogik)

Supersub :

Cesar (GK)

Postur tubuh yang besar tak mengurangi kelincahannya, justru menguntungkan karena mempersempit celah di gawang. Dapat diandalkan ketika mas nurdin berhalangan.

Miftah

Di tim ini miftah pernah dimainkan sebagai pemain belakang.

Mukli

Kecepatan dan dribbling menjadi kelebihan pemain yang sering ditempatkan di depan. Namun juga bisa ditempatkan sebagai pemain tengah atau playmaker dengan kreativitasnya

Gong Matua

Peran yang sama, sebagai pemain depan.

Ferindra

Pernah dimainkan di depan bersama aziz ketika formasi 2 – 2, pernah juga di belakang bersama sawi. Demam panggung ketika turnamen resmi.

Fingga

Lincah, kecepatan dribbling, menjadi kelebihan pemain ini. Hanya saja kadang tak bisa hadir ketika latihan maupun pertandingan.

Karena sa gapunya foto tim ini, maka lampirkan film angkatan saja ( ada adegan futsal angkatan yang terekam beberapa detik):

Kurang lebih begitulah kedua tim yang dapat saya jabarkan. Sebenarnya ada tim lagi yaitu tim kelas A (bermain saat Elins Competition, turnamen internal elins), tim bscmp, maupun tim mafia (jarang latihan sendiri, lebih senang guyub dengan tim lain).

Beberapa tim ini bukan merupakan perpecahan internal elins 2010, hanya saja karena banyak yang suka main futsal sedangkan dalam satu tim futsal maksimal pemain hanya 5 orang, ya, mau bagaimana lagi. Itupun sebenarnya masih banyak yang belum disebutkan. Kesel bro, sori ya.
Jadi, kapan futsal lagi ?

Civil War: Bubur Ayam Diaduk vs Bubur Ayam Tidak Diaduk

Bubur ayam adalah bubur yang diberi potongan daging ayam, kacang kedelai, daun bawang, krupuk, (beberapa ada) cakwe, kuah rasa-rasa, kecap, dan topping opsional (sate usus/telur/ati) di atasnya. Akhir-akhir ini menu sarapan saya sering didominasi oleh bubur ayam. Karena tidak terlalu mengenyangkan namun sudah mencakup nutrisi yang dibutuhkan seperti karbohidrat, gula, protein, dan lainnya[2] .

Selain sebagai menu sarapan, bubur ayam juga akhir-akhir kemarin menjadi menu perdebatan, pertikaian yang berpotensi memecah belah perdamaian. Yaitu mengenai cara memakan bubur ayam apakah diaduk terlebih dahulu baru dimakan atau langsung dimakan begitu saja. Sebenarnya mengapa dapat muncul perbedaan ini? Dan mengapa mereka sangat memegang teguh prinsip masing-masing dalam hal diaduk atau tidak? Coba kita simak penjelasan berikut.

buryamtd
gambar bubur ayam lengkap sebelum diaduk

Tidak diaduk

Bagi para pemegang teguh prinsip “Bubur ayam tidak perlu diaduk dulu, langsung dimakan” , mereka menganggap penting penampilan dari sebuah makanan. Beberapa orang memang memiliki selera makan yang dipengaruhi oleh tampilan makanan. Bukannya mengabaikan rasa, justru dengan melihat tampilan bubur yang masih beraturan, menambah selera makan dan juga secara psikis menambah rasa nikmat pada bubur tersebut. Beberapa penelitian, salahsatunya yang dibahas pada laman the guardian ini bahwa tampilan dan penyajian makanan dapat mempengaruhi kenikmatan makan [1]. Dan dengan tidak mengaduk bubur ayam terlebih dahulu dapat membiasakan kita berlaku dengan adil, yaitu ketika menyendok bubur dengan ayam serta kacang sedemikian sehingga pada akhirnya tidak ada bubur yang tertinggal sendirian tanpa lauk.

Diaduk

Sedangkan bagi para pemegang teguh prinsip “Bubur ayam diaduk dulu baru dimakan” , mereka mengabaikan hal-hal yang berkaitan dengan tampilan makanan atau food presentation. Kaum ini termasuk kaum yang tidak terlalu memperhatikan tampilan suatu makanan, khususnya bubur ayam. Bagi mereka makan bubur ayam hanyalah sebagai menunaikan kewajiban mengisi perut tanpa berpikir ndakik-ndakik tentang food presentation atau apalah itu. Mereka juga tak sempat menyendok lauk sedikit-demi sedikit sehinngga memilih mencampuradukkan semuanya secara merata. *tak ada gambar bubur ayam setelah diaduk, karena saya termasuk dalam kubu bubur ayam tidak diaduk*

Dengan penjelasan tersebut nampak bahwa kedua kubu memiliki alasan yang mengakar kuat untuk tetap berpegang teguh pada prinsip masing-masing. Jadi jangan sampai perpecahan umat terjadi hanya karena perbedaan bubur ayam diaduk atau tidak diaduk. Dewasalah dalam menyikapi perbedaan.

*PS: Jangan terlalu serius bacanya, kesehatanmu lho dek.

Referensi :

[1] Davis, N. “Food presented artistically really does taste better”, The Guardian : Food Science, 20 Juni 2014. https://www.theguardian.com/science/2014/jun/20/food-presented-artistically-taste-salad-kandinsky

[2] http://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/bubur-ayam?portionid=5260588&portionamount=1,000

BacaBuku : Kambing dan Hujan, oleh Mahfud Ikhwan

“Subuhnya tak pakai qunut”, kata Mif. ” Tak apa kan?”
Fauzia tersenyum dan mengangguk. “Tapi wiridnya yang panjang, ya? Keraskan sedikit bacaannya, biar aku bisa mengamini doamu.
Mif tersenyum dan mengangguk, untuk kemudian mengangkat takbir. (hlmn. 365-366)

Sungguh hari itu ingin melepas penat dengan membeli buku baru. Sudah mencari referensi dari internet dan sosial media, menemukan sebuah buku. Ketika sampai di Toko Buku, menemukan buku tersebut dan mengambil yang sudah terbuka. Sepintas membaca, kok rasanya kurang sreg dengan isinya. Mungkin lain kali saja baca buku itu. Jalan-jalan keliling beberapa rak buku, sempat mengambil buku-membaca sinopsis-dan mengembalikannya. Hingga ditemukanlah saya dengan buku berjudul ‘Kambing dan Hujan’ ini. Awalnya tertarik dari melihat desain sampulnya (yes. cover design does matter). Ditambah lagi adanya embel-embel ” juara sayembara menulis novel DKJ 2014″. Kemudian saya pun bertanya sinopsisnya kepada simbah-simbah. Iya, mbah google. Yang ternyata buku tersebut bercerita mengenai roman dua insan yang ditengarai perbedaan pendapat Nahdliyin dan Muhammadiyah. Seems unique.

aaand voila!

Kesannya: ceritanya mengalir namun meninggalkan bekas.

Penulis benar benar mencoba menyampaikan perselisihan tersebut dari sudut pandang orang ketiga (netral, tak berpihak) sehingga banyak gurauan-gurauan mengenainya cukup seimbang. Dan juga, spoiler alert ternyata kisah romansa Mif dan Zia sejatinya tak terhalang oleh perbedaan pendapat saja namun mengenai gengsi antara kedua bapak mereka, Is dan Mat. Is dan Mat adalah sahabat sangat erat sejak kecil. Dan kisah masa muda Is dan Matt lah, yang menurut saya, sangat membekas.

Pesannya: dewasalah dalam menyikapi perbedaan.