Merbabu via Timboa: Dihajar sejak awal

Berawal dari temuan Angga, yang katanya dia menemukan jalur pendakian menuju Merbabu ketika sedang iseng motoran di sekitaran rumahnya. Jalur itu bernama Timboa. Googling dan diketahui ternyata jalur itu merupakan jalur terpendek dan paling jarang dilewati. Kemudian beberapa pekan kemudian bersama Nova, dia survey ke basecamp pendakian dan bertanya mengenai angkutan ke sana.

Setelah cukup mengetahui persiapan, pasukan dikumpulkan. Awalnya Angga, Nova, Pascal, Saya. Kemudian semakin hari semakin bertambah dan berkurang. Hingga akhir ada 7 orang yang jadi berangkat menuju pendakian; Pascal, Bayu, Saya, Nova, Vegi, Firman, dan Sivi. Dijemput menggunakan mobil bak terbuka (pick-up), kami sampai di basecamp dan registrasi. Kemudian mulai pendakian sekitar pukul 9.30 pagi.

Memang, secara logika, kalau jalur ini adalah yang terpendek menuju puncak, maka konsekuensinya adalah kemiringan yang semakin parah. Sejak awal, dari basecamp, kemiringan jalurnya sudah mantap. Hingga beberapa meter dari gapura start pendakian, salah satu teman kami menyerah dan memilih kembali ke basecamp. Sepertinya memang dia belum persiapan fisik yang matang. Salah dua pelajaran yang dapat diambil adalah, ketika hendak naik gunung (apalagi untuk pertama kalinya) persiapkan fisik dengan matang. Olahraga rutin, perkuat bagian kaki dan juga punggung (karena bawa beban lebih berat dari biasanya). Dan yang kedua, ketika memang tidak siap&merasa tidak mampu, mundur/berhenti adalah keputusan terbaik. Dan ingat, anda sendiri lah yang dapat tahu kondisi fisik diri anda.

Jalur dari awal menuju pos 1 terasa sangat jauh. Selain mendaki cukup tajam, jalanan penuh tanah kering sehingga berdebu dan licin, serta banyak jalan yang masih tertutup rumput ilalang. Kemudian sekitar jam 13.15 kami sampai di pos 1. Perjalanan -+ 2jam 45 menit dari start (banyak istirahat). Lalu lanjut ke pos 2, kami sampai jam 14.00, berarti 45 menit dari pos 1. Jarak pos 1 ke pos 2 memang cukup dekat dan tidak terlalu panas&berdebu karena masuk ke area hutan.

Di pos 1 menuju pos 2, salah satu teman kami ada yang merasa tidak enak badan. Namun dia masih bersikukuh untuk melanjutkan pendakian. Sementara jalur pendakian pos 2 menuju pos 3 menurut saya sangat berat. Selain jaraknya yang cukup panjang, kemiringan yang curam, serta panas (sudah tidak di antara pohon2an rindang). Di jalur inilah kami sangat sering beristirahat, karena kondisi salah satu teman kami tersebut. 10 menit jalan, 5 menit istirahat. Hingga kemudian sampai jam 5 sore. Berarti perjalanan dari pos 2 ke 3 memakan waktu sekitar 2 jam 45 menit. Di pos inilah kami mendirikan tenda, mengingat teman kami yang sudah semakin lemas dan waktu juga semakin petang. Selesai tenda berdiri kami baru sadar bahwa di sebelah tenda ada sebuah makam kecil.

Tenda berdiri, kami berkemah, memasak, makan siang-malam dan ngopi-minum yang hangat-hangat. Jam 8 kami tidur karena berencana untuk lanjut summit jam 2 dini hari. Jam 2 kami bangun dan persiapan summit. 2 teman kami stay di tenda, dan 4 orang berangkat ke puncak jam 2.30. Dari pos 3 ke 4 cukup jauh, dan kami sampai sekitar jam 3.15. Perjalanan sekitar 60 menit. Dan kemudian menuju pos 5 yang cukup dekat dengan pos 4. Sekitar jam setengah 5 atau tepat waktu adzan subuh berkumandang, kami sampai di pos 5. Dan kami memutuskan untuk menunggu sunrise di Pos 5. Sejak dari pos 4 – 5, hawa dingin mulai merasuk tubuh. Selain suhu pada jam-jam tersebut memang rendah, ketinggian juga mempengaruhi hawa dingin ini. Sampai melepas sarung tangan untuk mengambil video timelapse pun hanya sanggup beberapa menit — karena tangan semakin lama serasa beku. Alhasil hanya foto-foto yang berhasil terabadikan.

Jam 5.15 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Jalan melalui sabana dengan pancaran sinar keemasan matahari terbit. Lelah, dingin seakan tersamarkan oleh pemandangan yang mengagumkan. Lanskap lautan awan di sekitaran Jawa Tengah, Gunung-gunung tetangga nampak menembus awan, seperti Gn. Merapi, Sumbing, Sindoro, Ungaran, Andong & Telomoyo. Tak lama kemudian kami sampai di puncak Batutulis, lalu dilanjutkan di puncak doa Siabi (baru pada tahu juga ada puncak bernama ini), dan pada akhirnya, dengan izin Allah, kami mencapai puncak Syarif! Pemandangan yang sangat epic dari ketiga puncak ini. Bunga-bunga edelweis juga nampak bermekaran.

Di puncak Syarif ini, hanya kami satu kelompok (4 orang) dan juga beberapa (5-6) warga sekitar yang berziarah di puncak (mungkin juga karena kebetulan semalam adalah malam 1 Muharam (1 Suro, kalau di Jawa). Itu juga berarti memang hanya kami, 1 kelompok yang mendaki Merbabu melalui jalur Timboa ini. Dari puncak Syarif juga nampak puncak lain Merbabu, yaitu puncak Kentengsongo. Puncak tersebut nampak lebih ramai akan pendaki yang melalui jalur lain (Suwanting, Selo).

Selesai menikmati&mengabadikan pemandangan, kami bergegas turun ke pos 3 untuk sarapan (sangat lemas&lapar sekali). Dibandingkan waktu naik yang memakan waktu 4 jam (termasuk istirahat foto2), turun kembali ke pos 3 memakan waktu 30-60 menit. Kemudian kami pun sarapan lalu sejenak istirahat. 30menit istirahat, kami berkemas, menggulung tenda untuk segera melanjutkan perjalanan turun ke basecamp. Siang hari matahari terasa sangat terik. Debu-debu di jalan bertebaran. Berbeda dengan perjalanan ketika naik, perjalanan turun terasa sangat cepat, meski juga menghabiskan banyak air minum. Itupun juga karna kami percaya di pos 1 ada pipa air yang berlubang yang airnya dapat diambil untuk langsung diminum.

Jam 11 kami berangkat dari pos 3, jam 12 kami sudah mencapai pos 2, kemudian jam 12.40 kami mencapai pos 1. Di pos ini selain istirahat kami juga mengisi ulang botol air minum dari air pegunungan yang mengalir melalui pipa berlubang kecil. Lalu kami melanjutkan kembali perjalanan, dan sampailah kami di basecamp pendakian jalur Timboa, pada sekitar pukul setengah 3. Sambil menuju jemputan mobil pickup, kami menyeduh kopi, teh, jahe wangi, di basecamp sambil melemaskan otot kaki. Mobil jemputan baru datang jam 5 sore, dan dengan rasa puas bercampur letih, kami pulang.

Terimakasih, Merbabu ♥

Untitled.

“Jangan lupa klik Like, Comment, dan Subscribe”

“Saya beri waktu 5 detik untuk subscribe channel saya …”

“Jangan lupa unlike, dan unsubscribe channel ini …”

 

Sejenak menarik ke belakang puluhan tahun silam. Ketika itu hak siar televisi hanya dimiliki oleh satu pihak yaitu pemerintah melalui stasiun TV nasional (yang sekarang juga masih ada) yaitu TV Republik Indonesia (TVRI). Siaran mulai dari berita sampai hiburan hanya disediakan oleh satu channel. Hingga akhir tahun ’89, stasiun televisi swasta pertama mulai mengudara, yaitu Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) [1]. Baru kemudian disusul oleh SCTV, TPI, anTV, Indosiar, dan beberapa stasiun TV lain hingga sampai sekarang (kalau tidak salah) ada 15 stasiun TV terestrial nasional Indonesia [2]. Belum termasuk stasiun TV berjaringan, digital, dan sebagainya yang sudah cukup banyak.

Namun ternyata akhir-akhir ini (sepengamatan saya, 2-3 tahun terakhir), masyarakat di Indonesia sebagian segmen mulai bergeser dalam mencari sumber informasi dan hiburan yang tadinya hanya dari televisi, sekarang mulai marak dengan YouTube. Youtube sendiri sebenarnya bukan platform yang baru lahir akhir-akhir ini. Youtube sudah muncul sejak awal 2005. Namun karena kemudahan akses sarana prasarana baru akhir akhir ini (WiFi gratis di mana-mana, internet murah, harga smartphone sangat terjangkau) maka lonjakan pengunjungnya pun dimulai (asumsi sih ini, belum didukung data). Sebagian dari mereka menganggap YouTube sebagai alternatif media informasi & hiburan, sebagian lagi bahkan ada yang merasa Youtube adalah Open Platform sebagai cerminan demokrasi paripurna yang mengizinkan semua orang berkarya, membuat informasi tidak hanya dikuasai oleh penguasa frekuensi publik, dan alasan alasan keren lain seperti kejenuhan akan sinetron2 konyol di TV, drama, reality show, berita-berita subjektif. Hingga memproklamasikan Youtube 3x lebih dari TV boom.

Sebenarnya awal dibuatnya youtube itu adalah platform untuk video sharing. Berbagi pengalaman agar supaya oranglain menikmati pengalaman tersebut tanpa mengalaminya. Semua orang dapat membuat akun dan mengunggah video mereka di platform ini. Mereka memiliki (dalam platform ini disebut) channel masing-masing yang berisi kumpulan video-video yang hasil unggahan mereka. Dan kemudian (seperti platform online lain) mulailah ada monetize di dalamnya, salahsatunya melalui ads sense. Content creator (istilah user youtube yang mengunggah video) dapat meng-enable monetization dengan syarat salah satunya memiliki minimum 1000 subscribers dan 4000 watch hours di 12 bulan terakhir.

Adanya monetization ini memiliki beberapa dampak. Salahsatunya, adalah para pembuat konten dapat lebih serius dan eksplorasi kreativitas mereka karena adanya sebentuk penghargaan dari kantor youtube dunia untuk mereka yang videonya diapresiasi oleh banyak pemirsa (ya karena youtube juga terbantu oleh konten mereka juga yang membuat platform ini semakin ramai). Dan semakin banyak pengguna Youtube yang menggunakan dengan niat sejak awal, untuk mencari penghasilan. Dan hal ini dikombinasikan dengan kemudahan akses internet (khususnya youtube) untuk semua orang, maka terjadilah konten-konten youtube seperti sekarang. You named it. Bisa dilihat dari top 250 channel dengan subscriber terbanyak, sebagian di antaranya adalah konten berisi grebek grebek clickbait, squishy dan turunannya, video-video viral dari grup whatsapp, kehidupan keluarga-keluarga bergelimang harta, dan sebagainya. Dan beberapa dari mereka beranggapan bahwa angka subscriber itu adalah patokan kualitas konten mereka. Ketika dikritik atas kontenya, berdalih “Subscriber saya banyak, anda hanya iri saja”, “Namanya juga haters”, “Balas dengan karya”, “Anjing menggonggong youtuber berlalu”. Pun begitu dengan sebagian dari subscribernya yang memuja muja idolanya tersebut. Duh lurd.

Tulisan yang bertele-tele ini bukan bertujuan utama untuk men-judge konten youtuber youtuber terkenal itu, bukan. Jelas mereka pun tidak salah membuat konten, karena memang terbukti banyak viewers dan subscribers-nya. Tulisan ini hanya berisi keresahan, mengenai pemujaan berlebihan terhadap platform ini dan isinya. Dari platform yang bertujuan awal untuk berbagi pengalaman agar dirasakan semua orang yang tidak mengalami, dan sekarang menjadi lahan bagi orang orang melakukan segala cara untuk menghasilkan angka. Semangat itu, yang hilang kini. Tapi, siapa peduli?

Rekomendasi Film India #rekomendafilm

It has been 4 months since my last post. Not that i’m too busy or exhausted with this life. But writing and posting article in this blog needs more than spare-time. Ideas, content, and the most important, is the willingness.
Kali ini sebenarnya terinspirasi dari thread-thread di linimasa twitter mengenai review singkat & rekomendasi film genre tertentu, saya pun ingin berbagi pengalaman/rekomendasi/pendapat tentang film. Dan film yang akan dibahas adalah film-film India.

Stereotype bahwa film india selalu drama romansa, selalu ber-joged-joged dengan pasukan yang muncul entah dari mana, itu sepertinya sekarang sudah seharusnya dibuang jauh-jauh. Karena banyak film india bagus yang bahkan samas ekali tidak ada joged-an nya. (kalo lagu india mungkin ada, tapi wajar lah untuk scoring/soundtrack). Dan berikut beberapa film India yang saya rekomendasikan:

  1. 3 Idiots

Saya rasa film ini termasuk yang membuka mata saya. Bahwa film india bisa sebagus ini. Dan sejak nonton film inilah saya mulai terbuka dengan rekomendasi film-film india. Mengenai tiga-serangkai sahabat yang berkawan di perguruan tinggi dengan berbagai konflik yang unik dengan penyelesaian yang kreatif.

  1. PK

Filmnya Amir khan yang ceritanya cukup menyindir sana-sini. Tentang berbagai macam penganut beberapa kepercayaan di India. Film-film Hollywood sepertinya belum ada yang menyentuh ke cerita semacam ini.

  1. Drishyam

Film bertema misteri kriminal. Ide ceritanya cukup bagus dengan sentuhan moral dan relativitas kebenaran. Yaitu mengenai seorang pengusaha TV kabel yang mencoba menyelamatkan keluarganya dari hukum berbekal pengetahuannya akan kisah-kisah dari TV.

  1. Talvar

Film ini bertema kriminal dan merupakan film India genre kriminal pertama yang saya tonton. Bercerita mengenai penyelidikan pembunuhan anak remaja putri suatu keluarga. Berdasarkan kisah nyata yang memang belum terselesaikan, jadi cukup menyedihkan.

  1. Kuldip Patwal

Film bertemakan kriminal misteri. Namun alih alih pada kejadiannya, sudut pandang cerita yang diambil lebih difokuskan saat di pengadilan, bagaimana terdakwa melakukan pembelaan diri. Cukup menarik.

  1. Medium

Komedi satir yang cukup relatable dengan keadaan di Indonesia. Ketika orang tua yang cukup kaya rela melakukan apapun agar anaknya masuk sekolah unggulan.

  1. Bajrangi Bhaijaan

Kalau ini sedikit ada jogetnya. Namun termaafkan karena ceritanya oke, membangun emosi dari sampai akhir bagus sekali. Dan membawa pesan perdamaian.

  1. Kapoor and Sons

Film india dengan tema keluarga; Kapoor and Sons. Tentang kisah keluarga mbah Kapoor yang awalnya tampak sederhana dan baik-baik saja. Namun ternyata menyimpan banyak cerita. Bersiaplah dengan segala kemungkinan cerita. Adegan joged nya cukup ada beberapa namun juga bisa dimaafkan.

Mungkin hanya 8 film india yang saya ingat untuk dituliskan dalam list ini. Dan film film itu ada yang memang sudah saya saksikan sejak lama dan ada yang baru saja. Ada rekomendasi film lain?

Summit series: Gn. Muria dan Segala Ritualnya

Berawal dari obrolan makan siang, hingga akhirnya Saya, Angga, dan Pascal memutuskan untuk melakukan pendakian ke Gunung Muria. Pertimbangan kami saat itu diantaranya adalah waktu yang singkat, dan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dari Salatiga karena saat itu kami masih tinggal di Salatiga.

Kala itu, Jum’at malam 21 September 2019. Kumpul di kontrakan Pascal, kami bertiga dengan sepeda motor beraangkat menuju tujuan. Tujuan pertama saat itu adalah rumah orangtua Angga, untuk beristirahat. Tidur sejenak untuk kemudian paginya kami berangkat menuju Kudus.

Melewati jalur pantura pada pagi hari belum sepanas siangnya namun sudah cukup banyak asap kendaraan.  Meskipun begitu kami tetap bersyukur karena melawan arus majoritas (Timur -> Barat). Hingga beberapa menit perjalanan ban sepeda motor Angga mengalami kebocoran. Kami pun mencari tambal ban yang tidak terlalu jauh.  Selesai menambal kami segera menuju ke Kudus kota kretek, untuk mencari sarapan.

Tujuan kami waktu itu adalah Lentog Tanjung Kudus. Lentog tanjung ini adalah seperti lontong sayur. Lontong, sayur nangka tahu, dan bawang goreng. Lauk pendamping ada sate usus, sate telur, dan gorengen. Seporsi saat itu dibanderol cukup murah pokoknya, saya lupa. Dan jajanan ini memang salahsatu sarapan khas kota Kudus selain rokok kretek.

lentog tanjung, kudus

Selesai sarapan kami menuju minimarket untuk membeli perbekalan, gas isi ulang, lalu kemudian menuju pos pendakian. Kami memilih untuk mendaki dari pos Rahtawu. Sesampainya di pendakian (setelah melewati jalan naik turun perbukitan) kami sempat ditawari ojek motor
“Mas numpak ojek wae po, tekan pos 3/makam, telung puluh ewu” | “wah ora mas, kene ki ameh ndaki je, kok malah ngojek. hehe”

Begitulah. Dan sekitar jam 10an pagi kami mendaki. Jalan cukup landai, namun terbuka sehingga panas matahari cukup menyengat. Beberapa kali berhenti dan kami sering berjumpa pendaki lain. Sekitar dzuhur kami berhenti sekaligus beristirahat di mushola sekitar sendang buton. Usut punya usut sendang buton sendir kerap dijadikan tempat ngalap berkah beberapa warga. Meskipun sudah ada tulisan “dilarang mandi di sendang” waktu saya ke sana tetap ada beberapa masyarakat yang ucul ucul klambi sampai telanjang,  lalu mandi (dan sepertinya membawa bunga-bunga tertentu).

jalan masih aman

curam menuju puncak

Istirahat sekitar satu jam, kami lanjut mendaki hingga sekitar jam 3-4 sore kami sampai di puncak songolikur (29). Di puncak tersebut ada beberapa makam leluhur yang masih sering di-ziarahi warga sekitar dan warga luar kota. Maka tak heran puncak 29 sangat harum bau bebakaran kemenyan/dupa sesajen masyarakat sekitar. Bahkan di jalan kami berjumpa ibu-ibu dasteran sandalan, mengenakan helm, dengan santainya mendaki. Dan kami hanya tertawa melihat persiapan kami bersepatu tas kerir lengkap.

puncak 29 yang khas dengan gapura dan bendera

Di puncak pun ternyata ada shelter untuk menginap sehingga tenda yang kami bawa tidak perlu didirikan. Di dalam shelter walau berdesakan, kami tetap mendapatkan tempat untuk tidur. Dan dari cerita orang-orang di dalamnya kami baru sadar bahwa ini masih bulan Muharram atau dalam kalender Jawa bulan Suro. Maklum saja banyak (dan akan bertambah lagi malamnya) yang mendaki untuk berziarah. Ada sekeluarga yang juga bermalam di shelter itu yaitu bapak, Ibu, 2 anak kecil (yang satu katanya digendong bapaknya selama mendaki), serta kakek dan neneknya yang belum terlampau tua. Mereka setahun sekali rutin mendaki dan di atas sudah lebih dari 2 hari. Sudah tradisi turun temurun untuk ziarah ke makam leluhur mereka, dan anak anak mereka pun hafal makam makam siapa saja di sana.

Kami sendir malamnya menyeduh minuman, makan bekal, membuat indomie, lalu kemudian tidur. Dini hari saya mendengar shelter semakin ramai ternyata orang-orang lain pada keluar untuk mulai ritual/ziarah. Dan mereka saling membangunkan, sementara kami menarik kembali sleeping bag lalu tidur. Hingga shubuh menjelang kami bangun. Kemudian bertiga jalan menuju spot pengamatan matahari terbit.
Yang ternyata sudah banyak tenda dan banyak orang di sana menunggu momen ini.

shelter

keramaian puncak 29

keramaian puncak 29 –

Sekitar jam 9 kami pun berkemas dan kemudian turun. Perjalanan turun yang sama panasnya dengan perjalanan naik. Sekitar jam 11 kami sampai di parkiran. Di sana pun ternyata masih banyak lagi masyarakat yang hendak melakukan ziarah. Dengan perbekalan dan outfit yang berbeda dengan kami: Batik, dupa/sesajen, dan air mineral botol. Oh iya di gunung muria juga ada beberapa sumber air, dan salahsatunya yang cukup unik yaitu sendang tiga rasa kalau tidak salah. Sempat kami mencicipi memang rasa airnya seperti minuman berkarbonasi. Namun kami tidak sempat berhenti untuk membawa airnya turun.

 

Perjalanan pulang ternyata juga tidak mulus. Ban sepeda motor Angga lagi lagi bocor. Menambal sebentar lalu kami meneruskan kembali ke Salatiga. Pengalaman pendakian yang cukup unik dan ‘wangi’

Singkat Saja: Sepakbola dan Literasi

    Sepakbola adalah salah satu olahraga yang paling populer tidak hanya di Indonesia namun juga di Dunia. Di Indonesia sendiri sepakbola sudah ada sejak negara ini bernama Hindia Belanda. Sampai sekarang kegemaran masyarakat terhadap cabang olahraga satu ini tetap membara. Saya termasuk salahsatu penikmat sepakbola, dan juga sesekali datang ke stadion untuk menikmati permainan bola dari kaki ke kaki ini.

    Di luar pertandingan, sepakbola juga memiliki banyak hal yang saya rasa secangkir kopi tak cukup untuk menemani diskusi semuanya. Mulai dari sejarah, ideologi dan politik dalam sepakbola, kasus, kontroversi, bursa transfer, suporter, dan masih banyak lagi. Media yang membahas khusus tentang sepakbola juga sudah cukup banyak. Jikalau dahulu saya mesti menunggu hari Jum’at sepulang sekolah dan menggunakan uang jajan yang disisihkan per hari untuk dapat memperoleh berita terbaru sepakbola di tabloid Soccer (atau kadang BOLA), sekarang dengan kemajuan teknologi berita terbaru dapat diakses setiap hari (bahkan bisa jadi setiap jam) melalui portal online. Buku-buku yang khusus mengulas hal hal di luar pertandingan pun juga mulai banyak.

hot_thread_fby59o4nh8gi
tabloid bola pada masanya ¹

    Diskusi dan literasi ini yang menurut saya merupakan hal yang harus dibudayakan, tidak hanya saling ejek yang berujung kekerasan. Bukankah akan lebih seru, jika di stadion, kedua kesebelasan bertanding, suporter saling bersorak mendukung tim masing-masing. Dan selesai pertandingan semua berbaur, beberapa suporter lawan dan kawan saling ngobrol ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok melanjutkan diskusi ulasan pertandingan? Ah, andai saja…

buku-sepakbola-2.0-dan-sepakbola-seribu-tafsir
Salah dua buku berisi essai tentang aspek-aspek sepakbola di luar pertandingan.

 

sumber gambar:

¹ https://www.kaskus.co.id/thread/5a5802b2d89b09ea4a8b4572/masih-ingat-tabloid-bola–yang-punya-kenangan-mari-kita-bernostalgia/10

Summit series: Gn. Andong

Menurut wikipedia, gunung andong adalah gunung bertipe perisai (?). Memang sebenarnya banyak yang menyebutnya bukit karena medannya yang tidak terlalu curam dan ketinggian 1463 mdpl. Walau begitu menaiki gunung andong tetap perlu persiapan dan rencana.

Malam itu, Jum’at 13 April 2018, kami bersepuluh, berangkat untuk pendakian riang ke Gunung Andong. Berkumpul di rumah Wulan dan sedikit menikmati jamuannya berupa Nasi putih + kwetiau goreng pedas, kami sekalian mengemasi barang-barang kebutuhan. Dengan 4 sepeda motor dan 1 sepeda kayuh kami berangkat. Untuk pengendara sepeda kayuh sendiri, Paulus, sudah mendahului berangkat sejak jam 4 sore dari kantor. Sedangkan yang lain baru berangkat sekitar jam 9an malam. Kemudian sampailah kami di pos bawah pendakian untuk parkir kendaraan dan mendaftarkan pendakian.

Sejenak beristirahat di gubuk-gubuk di bawah yang tanpa penerangan (sempat listrik padam saat itu). Hingga sekitar jam entah berapa kami berangkat mendaki. Jalan santai dengan beberapa kali berhenti untuk water break. Hingga sekitar jam 2 pagi kami sampai di salah satu puncaknya. Rame.IMG_20180413_221419_HDR.jpg

10an lebih tenda sudah didirikan di puncak. Dengan angin yang cukup kencang dan sedikit gerimis kami mendirikan tenda, ngemil makanan ringan yang kami bawa, menyeduh minuman saset, dan bercengkrama. Sejurus kemudian kami menuju tenda masing-masing untuk tidur sejenak. Saat itu kami mendirikan 3 tenda, 1 khusus untuk perempuan (Wulan dan mbak Hasna) dan 2 untuk laki-laki masingmasing berisi 4 orang.

Subuh lewat beberapa puluh menit kami bangun. Kemudian menuju ke tempat pengamatan matahari terbit a.k.a sunrise. Namun Allah berkehendak lain. Kabut tebal menyelimuti langit pegunungan pagi itu. Bahkan sampai pukul 9 kabut masih timbul tenggelam. Alhasil kami hanya sedikit mengabadikan foto hingga kemudian berkemas dan turun gunung. Sekitar jam 10 kami turun, dan dengan pace yang lebih cepat dibandingkan saat naik, kami sampai bawah sekitar jam 12.

IMG_20180414_075104_HDR.jpg

Bebersih, sejenak istirahat, kami pun pulang, mampir makan siang sejanak di Waroeng Gunung. Kemudian kembali ke Salatiga. Saya sejenak tidur di Kontrakan untuk kemudian sorenya pulang ke Jogja. Alhamdulillah perjalanan kali ini, lancar (hanya sedikit drama Rifqi kehilangan HP dan ga akan sadar kalau ga dihubungi teman kantornya yang dihubungi penemu HP)

Salatiga : Tempe Gembus, Adaptasi, dan Toleransi

Pagi itu saya berangkat agak terburu buru karena masih belum terbiasa datang ke kantor di atas jam 9. Menyempatkan diri sarapan di warung lotek terdekat untuk pertama kalinya. Anyway, akhirnya saya kembali berdomisili di daerah di mana warga terutama warung warung paham definisi dari lotek serta perbedaan paling mendasar antara lotek dengan gado-gado. Kembali ke sarapan, tanpa menunggu lama, lotek telah tersaji. Dan di atas meja ada menu tambahan opsional berupa beberapa jenis gorengan dan kerupuk. Dengan mantap saya mengambil (yang saya yakin bahwa saat itu adalah) tempe mendoan. Setelah saya makan, beberapa gigitan kemudian, saya merasa ada yang berbeda. Hingga saya sadar bahwa yang barusan saya comot dari wadah gorengan itu ialah tempe gembus.

Saya saat itu merasa dipermainkan. Sungguh tak menyangka di kota kecil dengan penduduk Jawa yang ramah, ada sebuah konspirasi di warung lotek. Karena se-pengetahuan saya teori yang berlaku di ranah gorengan ialah : “Ketika ada dua jenis gorengan menyerupai tempe dengan bentuk kotak dan segitiga, maka bentuk segitiga adalah paten untuk tempe goreng sedangkan yang kotak adalah gembus”. Namun teori itu entah diabaikan atau dimentahkan di warung ini. Hal itu yang sempat membuat saya terpukul dan hari itu pun saya lalui dengan kepala penuh pemikiran dan teori-teori konstipasi.

Hingga esok hari tiba. Saat itu saya memilih makan di sebuah warung makan nasi rames yang juga menyediakan gorengan sebagai additional topping. Lagi-lagi terdapat dua jenis tempe goreng, segitiga dan kotak. Saya mengambil keduanya dan memandangnya dengan seksama. Bahwa memang ternyata sama dengan warung lotek sebelah, bahwa segitiga untuk gembus dan kotak untuk tempe. Maka sejak saat itulah saya mulai terbuka, bahwa ternyata tempe kedelai tidak selalu berafiliasi dengan bentuk segitiga, demikian halnya dengan gembus yang tak selalu kotak. Dan mau tak mau saya harus beradaptasi dengan kondisi ini, mengingat salah satu kebutuhan primer manusia ialah pangan.

Adaptasi di kota ini tak sebatas menerima perbedaan fisiologis tempe dengan gembus. Lebih dari itu. Seperti misal cuaca. Di sini cuaca juga cenderung dingin-sejuk. Sejak pagi sampai malam, cuaca dan airnya cukup dingin. Sedikit banyak mengingatkan saya pada cuaca sehari-hari ketika KKN di Panawangan, Ciamis. Hanya saja kali ini bukan di daerah Jawa Barat, melainkan Jawa Tengah. Sejak awal tahun lalu, saya mulai belajar dan berkarya sebagai Software Engineer di sebuah perusahaan swasta milik asing yang bergerak di bidang manufaktur peralatan untuk laboratory automation  yang berkantor di Salatiga. Belum pernah ke Salatiga sebelumnya? Sama. Saya pun baru ke Salatiga pertama kalinya ketika on-site technical interview di kantor.

Salatiga adalah kota kecil, yang dihimpit oleh beberapa kabupaten seperti Kab. Semarang, Kab. Boyolali, juga Kab. Magelang. Secara topografi kota ini juga cukup dekat dengan pegunungan, yaitu Merapi dan Merbabu.

Secara kasat mata, sepertinya tidak ada yang spesial dari kota dengan luas 56.781 km2 ini. Seperti kota-kota kecil lain, pusat keramaian ada di Alun-alun (sering disebut Pansi – lapangan Pancasila) dan sekitarnnya, pusat perbelanjaan yang tidak terlalu wah, namun cukup bagi warga sekitar, dan penduduk yang ramah apa adanya. Kuliner khas? Saya masih tidak tahu apakah ada makanan yang benar-benar khas daerah sini. Kalau oleh-oleh yang terkenal memang ada, beberapa di antaranya singkong keju, dan enting-enting (meski saya rasa dua jenis makanan ini juga tersedia di beberapa daerah lain).

Untuk kancah pendidikan, ada dua kampus cukup besar di Salatiga, yaitu UKSW dan IAIN Salatiga. Sementara untuk tingkat sekolah menengah ada satu lembaga pendidikan informal yang cukup outstanding (pernah diliput  Kick Andy,) yaitu Qoryah Toyyibah. Sebuah sekolah alam yang tidak mengikuti kurikulum sekolah-sekolah formal namun lebih menekankan potensial tiap siswa-nya.

Selain itu, salah satu hal yang membuat nama Salatiga cukup dipertimbangkan di NKRI ini adalah predikat nya sebagai kota paling toleran nomor 3 di Indonesia (atau nomor 1 di Pulau Jawa) menurut sebuah Institusi non pemerintahan, Setara Institute (saya juga masih belum tahu penilaian dan definisi dari toleransi pada konteks ini). Namun kalau ada yang tanya “Apakah saya memang merasakan perbedaan kota toleransi dengan kota lain?” Belum tahu. Karena sampai saat ini saya dapat dikatakan hanya baru numpang kerja & tidur di Salatiga. Hanya berdomisili di Salatiga mulai dari Senin pagi hingga Jumat sore/malam (atau Sabtu pagi kalau ada futsal). Selebihnya, saya masih menikmati kehidupan sosial di Jogja. Sehingga belum mendengar begitu banyak dari suara masyarakat, para aktivis (organisasi maupun keagamaan) di sini.  
Jadi gimana, kamu masih belum
penasaran bagaimana rasanya tinggal di kota kecil dengan predikat paling toleran di Indonesia?

sumber:

 

https://id.wikipedia.org/wiki/Tempe_gembus

http://regional.kompas.com/read/2017/11/20/12433971/salatiga-kembali-raih-predikat-kota-paling-toleran-di-indonesia

http://www.solopos.com/2017/01/01/serba-lima-inilah-5-oleh-oleh-khas-salatiga-mau-780561

https://www.kaskus.co.id/thread/56d2ad04d44f9f271c8b4569/apa-sih-bedanya-pecel-lotek-gado-gado-dan-karedok/

Fourtwnty x Efek Rumah Kaca (SAF#11)

Semalam menyaksikan pentas seni bertajuk SAF#11 (SmadaArtFest) yaitu peringatan HUT SMA Negri 2 Jogja. Yang menarik bagi saya (dan teman²) adalah lineup bintang tamu utama yaitu fourtwnty dan efekrumahkaca.

IMG_20170902_212333_HDR-01
Fourtwnty adalah band indie lokal bergenre Acoustic Folk (*cmiiw) yang sejauh yang saya pernah dengar liriknya bertemakan perdamaian, toleransi, alam dan sekitarnya. Meski sudah beberapa tahun, namun awal tahun 2017 band yang dipelopori Ari Lesmana dan Nuwi ini mulai melejit gegara terpilih untuk mengisi original soundtrack film Filosofi Kopi (Zona Nyaman). Sayapun baru pertama kalinya nonton live, dan perform mereka memang atraktif.

IMG_20170902_214914-01

Band berikutnya mungkin juga tak asing bagi kalian. Efek rumah kaca. Band yang sudah jadi salahsatu band indie favorit saya sejak kelas 10 dengan duo hitsnya (Cinta Melulu dan Efek Rumah Kaca). Saya terperangah ketika pertama menyimak lirik kedua lagu itu.

IMG_20170902_222601_BURST1-01

Saya rasa kegundahan Cholil dkk. pada lagu Cinta Melulu yaitu mengenai : “Atas nama pasar semuanya begitu klise” , terjawab oleh mereka sendiri pada lagu mereka yaitu bahwa : “Pasar bisa diciptakan!”

IMG_20170902_223456-01

priceless moment ketika personel fourtwnty menuju ke samping depan panggung menyaksikan Efekrumahkaca dan bahkan ikut berteriak menyanyikan lagu²nya. Salute!

4fa62872-de35-4777-988c-581fcbb5896b

gambar dari kamera Xiaomi Mi4i Global Dev + editing Snapseed

Apakah yang dimaksud dengan Software License ?

Android adalah sistem operasi yang bersifat open source.
Namun sudahkah kita tahu apakah itu opensource? Apakah opensource berarti software gratisan?
Software license (lisensi perangkat lunak) adalah perangkat hukum yang legal (bisa melalui kontrak tercetak maupun tidak) yang digunakan sebagai dasar regulasi pendistribusian software tersebut. Kalau kalian sering melihat simbol c dilingkari (© ) nah itu juga ada hubungannya dengan license. © / copyright adalah hak yang legal secara hukum bagi seseorang/sesuatu kelompok atas suatu produk dalam memproduksi, mendistribusi, dan menentukan lisensi atas produk tersebut. Jenis-jenis lisensi dalam konteks copyright (menurut Mark Webbink) ada Trade Secret, Propertiary, Protective FOSS, Non-Protective FOSS, dan Public Domain. ( FOSS = Free and Open Source Software. Free di sini berarti bebas, bukan gratis) Menurut beliau, urutan berdasarkan copyright nya begini :

23c627f4-1da6-434b-9bf7-d4ace09354ab

dari jenis tersebut, biasanya terbagi jadi dua yaitu Propertiary dan FOSS. Perbedaan kedua kubu ini terletak pada ijin/hak yang diberikan untuk memodifikasi ulang kode program. FOSS mengijinkan pengguna untuk memodifikasi ulang kode program dengan menyediakan source code nya (open source) sedangkan propertiary software tidak menyediakan source code programnya (closed source). Contoh untuk software dengan propertiary license : Windows, Adobe, Corel, Winamp (free), dan masih banyak lagi. Sedangkan contoh software dengan FOSS license ada GIMP, Inkscape, Linux kernel, android, MIUI.
Seperti yang saya tuliskan di atas, term Free pada FOSS bukan berarti gratis, melainkan bebas. Dan Free Software Foundation membuat diagram software berdasarkan lisensi yang berbeda-beda:

947e2464-e3a5-471c-845f-823a2a32e73f

FOSS sendiri biasanya dibagi menjadi dua secara garis besar: yaitu lisensi yang tidak memberikan banyak syarat untuk pendistribusiannya (permissive) , dan lisensi yang  bersyarat/protektif (copyleft). Copyleft berarti software yang dikembangkan menggunakan kode program tersebut baik dengan atau tanpa perubahan harus membebaskan penggunanya untuk memodifikasi program tersebut.  Contoh dari software dengan lisensi copyleft ialah yang berlisensi GNU GPL (General Public License). Tujuan lisensi ini ialah untuk memberikan kebebasan penuh pada pengguna, agar mereka bebas dalam mempelajari, memodifikasi, maupun mendistribusikan ulang program tersebut dengan syarat mereka tidak diperbolehkan membatasi akses pengguna lain terhadapnya.
FOSS pun memiliki banyak sekali jenis lisensi. Diantaranya adalah GNU GPLApache LicenseMITBSDDo What The ** You Want To Public License (WTFPL), dan masih banyak lagi lainnya. Untuk penjelasannya bisa dibuka masing-masing link nya ya 🙂
Lalu lisensi apa yang digunakan oleh android dan MIUI?
Ternyata setelah saya lihat di website resminya, Android memilih menggunakan apache license. Sedangkan MIUI saya belum menemukan di web nya tapi menurut wikipedia mereka juga menggunakan Apache License 2.0.
Menjadi sangat penting untuk melihat lisensi perangkat lunak ketika anda adalah seorang software developer yang membutuhkan library-library yang disediakan oleh pihak lain. Seperti yang beberapa hari lalu hangat dibahas mengenai lisensi React.js (framework javascript yang dibuat oleh developer facebook). Mereka menggunakan BSD+patent license, yang berarti anda tidak dapat melawan Facebook untuk patent yang mereka buat.
Demikian gan penjelasan secuplik mengenai software license. Jika ada koreksi/tambahan bisa dituliskan di bawah.

Tetaplah digugu lan ditiru

Pagi itu diawali dengan matakuliah olahraga. Saya dan teman teman bersiap kumpul di lapangan mengenakan seragam olahraga. Dosen pengampu matkul olahraga di SMP kami memang terkenal tegas disiplin tanpa tedheng aling-aling. Dan sudah hal lumrah apabila tiap pagi kami diperiksa panjang rambutnya. Kebetulan saat itu rambut saya (menurut beliau) sudah melebihi batas panjang rambut siswa putra. Maka tanpa ragu beliau langsung njenggit¹ saya dan memperingatkan agar besok sudah harus potong Apa yang saya lakukan setelah itu? Tidak, saya tidak memfoto dan mengunggahnya di sosmed untuk “mengadu” kepada khalayak warganet. Cerita ke orangtua pun jarang jarang, apalagi lapor ke komnas anak. Beuh. Selomen uripmu.
Reaksi saya kala itu, ya, sudah. Saya cukup mengingat-ingat bahwa harus segera memangkas rambut (maksimal sebelum pelajaran olahraga minggu depan. ehe ehe).  Saya juga nggak begitu mempermasalahkan tindakan itu lhawong beliau punya alasan. Dan mungkin besok nya sudah biasa lagi kalau bertemu dengan Guru tersebut.
Sejatinya (setahu saya), hukuman-hukuman fisik sepele seperti itu sudah banyak diberlakukan sejak generasi dulu (itupun kalau memang benar-benar ngeyel). Setau saya juga, teman-teman saya yang juga pernah dihukum, tidak ada yang begitu mempermasalahkannya. Karena walau bagaimana pun juga, kami tahu kalau kami melanggar. Dan kamipun tahu tugas guru selain menerangkan materi akademis dan memberi nilai rapor (yang kadang dibumbui belas kasihan), ialah mendidik muridnya. Mendidik hal di luar pelajaran akademis semisal kedisiplinan, pendidikan moral, dan softskill lainnya. Karena istilah ‘guru adalah orangtua kedua anak anak‘ bukan hanya sebagai gimmick belaka.

Maka dari itu saya selalu sedih setiap melihat berita seorang wali murid mempidanakan guru yang menghukum (ringan) anaknya yang melanggar aturan.² Berawal dari murid yang membangkang/tak patuh aturan, lalu guru memberi hukuman fisik ringan, kemudian murid melebih-lebihkan dan lapor ke orangtuanya. Nduk, le, hukuman fisik seperti apa sih yang kau wadulkan itu. Lak yo mung nabok, mencubit, njenggit, dan selevelnya kan? Padahal setahu saya (yang juga pernah belajar untuk mengajar anak sekolah waktu KKN), hukuman guru itu nggak ada yang bermaksud jahat sampai membuat muridnya sakit parah. Hukuman itu hanyalah peringatan untuk memberikan efek jera agar supaya kita tidak mengulangi kesalahan. Dan peringatan semacam itu adalah suatu bentuk model didikan dari beliau. Lagipula hukuman fisik itu masih menandakan ada sekelumit rasa sayang dari guru kepada muridnya. Karena puncak kemarahan yang sesungguhnya, adalah diam dan abai. Itu jauh lebih menyakitkan. Percayalah.
Maka mulai saat ini, untuk para murid, coba kalian lebih berfikir akan tindakan, dan sebab akibat. Bahwa tujuan kita sekolah itu bukan sekadar mencari ilmu akademis (karena kalau sebatas ilmu akademis, tak perlu lah bayar SPP, cukup langganan Internet dan belajar semua dari berbagai sumber di internet) melainkan juga pendidikan karakter.  Pendidikan karakter itu harus kita alami langsung dengan bimbingan orangtua kedua kita (yaitu guru). Sehingga wajarlah ketika beliau mendidik kita melalui hukuman/teguran jika kita memang salah.
Dan untuk para guru, para pendidik di manapun kau berada, tetaplah menjadi sosok pendidik yang digugu lan ditiru. Tetaplah mendidik anak didikmu dengan cara terbaikmu. Tetap semangat. Kalau boleh meminjam slogan sleman fans :

“Bapak/Ibu guru, aku ning mburimu caket!”

 

¹ njenggit adalah menarik ke atas rambut di sebelah telinga

² contoh kasus : http://sangpencerah.id/2017/07/guru-agama-di-parepare-dipidana-karena-perintahkan-shalat/